PRABOWO: KAMBING HITAM 1998

Jangan semudah itu mempercayai sebuah informasi. Terutama informasi bersejarah macam OrBa. Kudengar, banyak sekali manipulasi informasi tentang orde baru supaya orang-orang yang terlibat dalam praktik kotor terlepas dari tuduhan. Jadi, bagaimana mungkin buku sejarah bisa dipercaya? Untuk mengetahui sejarah ini, jangan lagi kita mengacu pada buku-buku sejarah.. tapi, mengaculah pada logika kalian dengan bertanya, “Apa mungkin kejadian sebenarnya seperti itu?”.

Kalau kalian nggak menggunakan logika, selamanya kalian akan diadu-domba oleh mereka yang tertawa melihat boneka-boneka tak berjiwa.

Soedoet Pandang

Prabowo 14
Oleh Jose Manuel Tesoro
Majalah Asiaweek

====================

Catatan Redaksi: Artikel ini diterjemahkan dari laporan investigasi yang ditulis Majalah Asiaweek Vo. 26/No. 8, 3 Maret 2000. Membaca artikel ini kita akan diantarkan oleh Tesoro kepada konstruksi fakta-fakta yang berbeda dengan stigma yang melekat pada berbagai peristiwa pada 1998.

====================

Satu pertanyaan yang akan selalu terlontar ketika membahas tragedi 1998 di Indonesia adalah: benarkah Prabowo adalah dalang yang sebenarnya?

Pada malam hari tanggal 21 Mei 1998, kisah itu dimulai. Lusinan tentara bersiap siaga di sekitar Istana Merdeka Jakarta dan kediaman B.J. Habibie di pinggir kota. Habibie, kurang dari 24 jam sebelumnya telah menjadi presiden Indonesia ketiga. Komandan dari pasukan ini adalah Letnan Jenderal Prabowo Subianto yang dikenal brutal. Seminggu sebelunmya, dia telah menyusun kekuatan terselubung pada pertemuan yang diselenggarakannya diam-diam—operasi-operasi pasukan khusus, preman jalanan, dan kekuatan muslim radikal—yang bertugas membunuh, membakar, memerkosa, merampok dan menyebarkan kebencian antar-ras di jantung kota Jakarta. Tujuannya:…

View original post 7,081 more words

Sebalnya Menjelang Pilpres

Sebelumnya, ini bukan pembahasan netral soal pilpres (ataupun pembahasan soal capresnya). Saya pribadi mendukung Prabowo-Hatta gila-gilaan dengan berbagai alasan tertentu. Pembuatan blog ini nggak lebih karena sedikit kesal dengan para pendukung pihak lawan yang saya anggap kurang benar.

Maaf kalau ada kata-kata kasar. Postingan ini dibuat dalam keadaan emosi.

Read more

Untuk yang merasa passion adalah segalanya. Nggak selamanya passion bisa dijadikan patokan untuk hidup.

Kadang kalian lupa kalau setelah kuliah kalian harus melanjutkan perjuangan hidup sendiri sebelum ketemu jodoh. Masih untung sendirian. Kalau kalian harus mengurus orang tua yang udah pensiun/menua?

Kalau memang passionnya dapat terjual mudah, itu bagus. Kalau nggak? Kalian mau jual ijazah kalian kemana? Kalau mepet, mau nggak mau kalian pasti bergantung sama ijazah.

Bukannya pesimis. Itu namanya berpikir jangka panjang. Hal yang kayak gitu bisa saja terjadi dan sudah banyak contohnya dimana-mana.

Memang kita nggak boleh semudah itu menyerah. Tapi ya realistis juga.. Kalau udah berpikir passion adalah segalanya ketika passion kita nggak begitu menjual dan kita juga nggak punya ilmu/keahlian untuk dijadikan bekingan, itu namanya naif.

Bukan naif, sih. Itu namanya BODOH.

.

Kalau kalian melihat orang2 sukses di luar sana yang mengejar passion sebagai panutan, sudahkah kalian berpikir, “Ada berapa banyak yang bisa seberhasil itu mengejar passion?” dan “Apa aku memiliki keunikan lain supaya aku bisa sebanding dengan mereka di sana?”.

Bermimpi itu boleh, tapi ya tetap realistis dan berpikir jangka panjang. Kalau cuma mikir jangka pendek, anak TK juga bisa.. Lebih ahli, bahkan.

Ciao! – with Bernadetha

View on Path