Jadi, beberapa minggu yang lalu aku mendapat berita kalau Kuroshitsuji (Black Butler) akan dibuat menjadi sebuah film live action. Sebelumnya, bagi yang kurang ngeh sama istilah-istilah begini biar kujelaskan dulu. Kuroshitsuji itu adalah judul manga. Dan seperti manga kebanyakan, kalau mereka populer, mereka akan diangkat jadi anime, lalu nanti diangkat ke panggung macam broadway untuk dibikin drama panggung atau bisa juga drama musikal. Selain itu, manga-manga kayak gini umumnya akan diangkat menjadi live action, yaitu dijadikan film yang diperankan oleh aktor.

Nah, dari awal aku dengar berita ini, jelas aku senang karena aku suka dengan konsep penceritaan Kuroshitsuji. Jadi, pas tau, aku langsung membayangkan karakter-karakter Kuroshitsuji diperankan oleh manusia. Aku udah melihat drama musikalnya, jadi bayanganku nggak jauh-jauh dari itu.

Tapi khayalanku runtuh begitu temanku yang pecinta anime bilang kalau Kuroshitsuji Live Action ini nggak bagus. Aku udah lihat trailer nya juga kubilang, nggak sebagus khayalanku. Tapi ya aku tetap berencana buat nonton di bioskop karena kulihat, actionnya bagus.

Belom kesampean nonton, temenku udah curcol di twitter pas dia lagi nonton film ini. Dia ngomel-ngomel karena jelek dan segala macamnya. Karena dia ngomel-ngomel gitu, aku jadi penasaran. Dan setelah kucari di Youtube, aku menemukan filmnya. Langsunglah itu film kutonton saat itu juga. Padahal Dani udah mewanti-wanti supaya akunya nggak kecewa. Tapi.. apa boleh buat.. namanya pecinta Kuroshitsuji, ya harus dijabanin. Masa belom nonton aja udah berkomentar, gitu?

Itu full movie-nya. Tapi link ini nggak dipakaikan subtitle. Jadi.. selamat berjuang.

.

Oke, biar kuceritakan.

Berbeda dari manga-nya yang mengambil setting di tahun 1800-an, Kuroshitsuji Live Action ini mengambil setting di tahun 2020. Tokoh utamanya tetap Butler Sebastian, tapi kali ini dia bukan melayani Ciel Phantomhive, melainkan Shiori Genpo. Kalau di cerita ini, Shiori Genpo adalah keturunan dari keluarga Phantomhive dan Shiori Genpo ini memiliki masa lalu yang kurang lebih sama kayak Ciel: orang tuanya dibunuh, diculik, dan dikasih lambang budak di punggungnya. Selain itu, Shiori Genpo juga kembali ke manor house nya sambil ditemani Sebastian (kayak Ciel). Bedanya, Shiori Genpo adalah cewek yang menyamar jadi bocah cowok bernama Kiyoharu dengan motif yang sama kayak Ciel; mencari pembunuh orang tuanya.

Inti ceritanya adalah, Shiori Genpo tetap memiliki pekerjaan yang sama kayak Ciel; jadi Anjing Penjaga Ratu yang selalu mengurusi kasus-kasus aneh. Kali ini kasusnya adalah banyaknya orang-orang ternama yang meninggal dengan mayat yang berubah jadi mumi. Setelah melakukan penyelidikan, barulah ketauan kalau apa yang menyebabkan kematian mereka adalah zat kimia yang dibungkus jadi kapsul warna kuning dan dinamai Necros. Dengan mencium aroma-nya aja, manusia bisa meninggal kayak mumi.

.

Sekarang, penilaianku melihat dari beberapa aspek: Setting, Character, Acting, Koreografi, Costume and Make ups, Camerawork, Sounds, Effect, dan Plot.

Untuk setting, penilaianku jelek banget. Kenapa? Karena dengan melihat apa yang ada di layar, aku nggak tau mereka ada di mana. Selain setting tempat, setting waktunya juga jelek. Di sana diceritakan kalau itu adalah di masa depan, tapi penceritaan tentang ‘masa depan’-nya hanya kutemukan di satu scene. Properti yang mereka pakai untuk penceritaannya benar-benar campur aduk dan seolah nggak memiliki tema. Di cerita manga, setting sudah jelas diambil di Inggris tahun 1800-an. Seharusnya film ini jangan merubah-rubah apa yang ada. Jadi, untuk setting, aku memberi nilai 0/10.

Lalu, character. Karena film ini mengangkat dari sebuah manga, maka pembuatan tema dan segala macamnya haruslah mengikuti apa yang udah ada.. termasuk setting tadi. Tetapi, yang kutemukan di sini bukanlah karakter Kuroshitsuji yang kutemui di manga dan anime nya. Sehingga aku jadi merasa asing dan mempertanyakan, “Apa benar ini Kuroshitsuji-nya Toboso Yana?“.

Kalau yang kulihat, masing-masing aktor nggak menunjukkan karakter yang kuat dari tokoh yang mereka perankan. Yang kurasa memiliki karakter kuat hanyalah Sebastian.. well, karena dari manga-nya aja Sebastian udah memiliki karakter yang menonjol dari tokoh-tokoh lainnya. Tapi kalau di film ini, semua tokoh terasa tenggelam di balik tokoh Sebastian dan mereka nggak memiliki ciri khas dalam karakternya.

Contohnya aja Undertaker. Undertaker di manga memiliki karakter yang nggak jauh beda sama orang gila. Dia suka ketawa-ketawa sendiri, gerak-geriknya juga khas, nada bicaranya juga khas. Sementara di film ini, aku baru menyadari kalau itu adalah Undertaker (atau tokoh yang merefer ke Undertaker) ketika melihat biskuit tulang-nya dia. Artinya, tokoh-tokoh di film ini nggak memiliki karakter yang menonjol yang bikin mereka nyantol di kepala penonton. Jadi, skor untuk karakter cuma 2/10.

Screen Shot 2014-06-14 at 11.01.03 PMKemudian ada acting. Untuk Acting, aku nggak banyak bicara. Kekurangannya hanya berada pada pendalaman karakter tokoh dan ekspresi wajah yang terlalu kaku. Memang, Sebastian dan Shiori (Ciel) harus berwajah kaku karena di manga-nya juga begitu. Tapi tokoh yang lain juga kaku, sehingga menciptakan atmosfir yang berat bagi penonton. Tapi, selain itu; pengekspresian emosi, nada bicara, gaya bahasa, gestur, semua cukup bagus. Jadi aku memberi nilai 4/10.

Koreografi adalah yang paling kusuka di sini. Pada scene action, gerakan mereka cepat, lentur, dan mampu menciptakan atmosfir yang bagus. Gerakannya juga nggak terlihat pakai stunt (entah mereka make, atau emang nggak). Dan aku bisa melihat anggota tubuh mereka bersentuhan pas di adegan nonjok dan nendang. Untuk koreo, aku ngasih nilai 9/10.

Untuk kostum dan make up, aku tetap merefer pada setting dan karakter. Secara setting, aku sendiri bingung harus menilai gimana karena nggak jelas. Model pakaiannya ada yang model tahun 1800-an, ada juga yang tahun 2010-an, ada juga yang ‘kayaknya’ tahun 2020. Sama kayak make up karakter. Yang paling membuatku kecewa adalah make up Sebastian.. karena nggak kelihatan Sebastian nya. Untuk kostum, aku cuma memberi nilai 3/10.

Untuk camerawork, juga banyak yang pingin banget kukomentari. Tapi, sebelumnya, aku memuji angle mereka. Pengambilan angle mereka bagus, menantang (?), tapi nggak bikin pusing. Tapi, untuk close up, aku nggak suka karena gambarnya goyang-goyang seolah-olah kameranya dipegang pake tangan. Entah itu kamera emang goyang karena tangan atau kena angin. Pokoknya pas close up, gambarnya goyang-goyang. Dan itu bukan sekali doang. Jadi aku memberi nilai 5/10.

Sounds kubilang cukup bagus, walau kadang ada beberapa dialog yang suaranya pelan banget. Boom effect nya juga bagus. Untuk sounds aku kasih nilai 6/10.

Effect untuk film ini kebanyakan pakai green screen. Jadi sebagian besar setting film ini diciptakan oleh komputer. Dan aku kurang suka dengan efek yang 80%-nya pakai komputer karena (menurutku) jadi ada beberapa hal yang nggak logis alias mengganjal. Mulai dari pencahayaan yang aneh, kurangnya suara-suara alam ketika lagi di taman (kayak suara angin, desir daun, dll), gerak-gerik background yang kurang natural (awan, dll). Jadi untuk efek, aku kasih nilai 4/10.

Yang terakhir adalah plot. Aku menamakan plotting mereka sebagai ‘zoom out’ (entah nama sebenarnya apa) karena di awal cerita, film nya nggak jelas. Tapi lama-lama satu per satu detil dan embel-embel mulai diperlihatkan untuk menambah informasi tentang plot mereka. Aku merasanya itu kayak kamera yang lagi zoom out, jadi kunamain ‘zoom out’ #simpel. Untuk plotting, aku kasih nilai 5/10.

.

This art is not mine.

Penilaian overall-ku adalah.. 3/10. Aku kecewa karena sutradara banyak merubah aspek di dalam Kuroshitsuji. Salah satunya ya setting tadi. Kenapa kubilang ini suatu kekecewaan besar? Karena cerita film ini adalah modifikasi dari cerita asli. Sayangnya, modifikasi nya jelek.. buktinya adalah setting dan Sebastian yang beda sama aslinya itu tadi. Selain itu, judul film mereka adalah Kuroshitsuji, dimana pembaca Kuroshitsuji pasti udah punya bayangan tersendiri begitu mendengar nama ‘Kuroshitsuji Live Action’. Tapi, pada nyatanya, Kuroshitsuji Live Action nggak menceritakan apa yang ada di cerita asli Kuroshitsuji. Kalaupun mau disebut modifikasi, modifikasinya justru menghancurkan cerita aslinya. Jadinya, Kuroshitsuji Live Action jelek.

Walau begitu, aku tetap punya scene kesukaan. Aku suka adegan dimana Shiori mati-matian membawa bom-nya ke atap dan sama sekali nggak minta bantuan Sebastian. Di sana musik, camerawork, acting, dan dialognya bagus. Khusus scene itu, aku kasih nilai 8/10.

.

Udah, segitu aja review-ku.

Ciao!

One thought on “Kuroshitsuji Live Action Movie – Review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s