Jadi tadi di dalam perjalanan menuju bengkel, Sherly tau-tau nunjuk sebuah tempat bernama Hospitalis di daerah Radio Dalam. Seingatku, kavling itu dulunya bukan tempat makan. Jadi, begitu mengetahui kalau tempat itu baru, akhirnya kami berencana mampir setelah dari bengkel.

Hospitalis ini beralamat di Jl. K.H. Achmad Dahlan Raya No 31, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Hospitalis adalah sebuah restaurant dan bar yang bertemakan rumah sakit. Di dalamnya, interior dan pelayannya pun mendukung. Ada hospital bed sebagai meja makannya, ada kursi roda sebagai kursinya, lalu tempat alat makannya berbentuk wadah peralatan dokter, sampai penyajian salah satu minuman mereka pakai kantong infus lengkap dengan tiangnya.

Karena restoran dan bar tematik begini sering kutemui di Jepang dan masih belum ada di Indonesia yang memiliki kavling sendiri begini, akhirnya aku minta dipertemukan dengan ownernya untuk nanya-nanya soal restaurant dan bar ini. Syukurnya ya, ownernya available dan mau ditemui buat diwawancara singkat olehku dan Sherly.

.

Diawali dari pertemanan Kak Anna dengan seorang mixologist bernama Simon Pierce yang sudah bekerja bersama sejak tahun 2008-2010 di Jepang. Awalnya mereka tertarik dengan club-club tematik yang berada di Tokyo sehingga menumbuhkan ide untuk membuat sebuah restaurant dan bar tematik di Jakarta pula.

photo 5

photo 2

Hospitalis dibangun pada tanggal 23 Mei 2014 dan grand openingnya tanggal 11 Juni 2014. Setiap weekdays, mereka buka dari jam 11 pagi hingga jam 12 malam. Khusus weekend, mereka buka dari jam 11 pagi sampai jam 2 pagi. Untuk hiburannya, mereka memiliki DJ dan Akustik yang main di hari Kamis, Jumat, dan Sabtu.

Setelah melalui beberapa pertimbangan lokasi dan tema, akhirnya mereka memutuskan untuk membuat sebuah restaurant dan bar bertema rumah sakit di daerah Radio Dalam ini. Karena di Jepang itu aslinya adalah club dengan pelayan berbaju seksi, dan karena Indonesia memiliki budaya yang berbeda dengan Jepang, maka ada beberapa perubahan yang dibuat oleh ownernya. Salah satu perubahannya adalah fokus bisnisnya. Kalau di Jepang itu club, di Indonesia dijadikan restaurant dan bar. Kalau di Jepang pelayannya adalah suster seksi dengan belahan dada kemana-mana, di Indonesia baju susternya ya lebih tertutup. Selain pelayan berbaju suster, ada pula pelayan berseragam dokter dan ahli bedah lengkap sama stetoskopnya. Jadi rasanya udah kayak di rumah sakit.photo 1

Perabotannya juga sangat menggambarkan rumah sakit. Dimulai dari meja dan kursinya yang kayak hospital bed dan kursi roda, tempat peralatan makan berwadah silver, lampu-lampu yang dibikin kayak lampu ruang operasi, di kasirnya juga ada Sfigmomanometer (alat ukur tekanan darah), dll. Beberapa minuman juga ada yang disajikan dengan keunikan tersendiri dengan kantong infus beserta tiangnya. Di bar juga banyak peralatan-peralatan laboraturium kayak gelas ukur, labuh erlenmeyer, beker glass, dll.

Karena mengikuti style Jepang, maka di dalam menu Hospitalis ada liquor. Liquor mulai dari Beer sampai Wine, semua ada. Dan yang lebih menariknya lagi, harga minumannya sangat murah. Untuk JW Black Label, satu shotnya seharga Rp 54 ribu dan Rp 800 ribu-an per botolnya. Karena murah (dan sedikit curiga), akhirnya akupun bertanya ke ownernya soal ini. Ownernya bilang, mereka menjamin minuman mereka asli karena mereka punya supplier ciamik.

 

Florentiene. Soda yang ada sensasi timun. Segerrrr..
Florentiene. Soda yang ada sensasi timun. Segerrrr..
Just Peachy. Rasa susu cokelat di mulut, rasa peach di tenggorokan. Unik!
Just Peachy. Rasa susu cokelat di mulut, rasa peach di tenggorokan. Unik!

Untuk makanannya, mereka menyajikan mulai dari makanan Barat, Asia, sampai makanan Indonesia dengan kisaran harga Rp 30 ribu sampai Rp 60 ribu. Mereka juga lebih bermain di makanan Asia semacam sushi karena suami Kak Anna adalah orang Jepang asli, seorang chef atau seorang ahli dalam bidang makanan. Jadi kelezatan makanannya bisa dijamin. Hahaha..

Untuk smokers, mereka punya smoking indoor dan outdoor. Smoking indoor letaknya di bagian kanan dari pintu masuk. Tempatnya memang luas, tapi meja yang mereka sajikan hanya dua dengan kapasitas 8-10 orang di tiap meja. Jadi ya kurangnya, untuk perokok-perokok yang datang sendirian, berdua, atau bertiga, mau nggak mau mereka harus duduk di meja yang lebar ini (kalau maunya smoking indoor). Untuk smoking outdoor, mejanya berkapasitas 4 orang.. jadi, bukan masalah.

photo 3

Untuk menu-nya, aku belum nyobain semua karena ke sananya juga dadakan. Mungkin lain kali aku bakal posting tentang makanan dan minuman unik lain mereka di Instagram.

.

Sebenarnya aku senang sama tempat ini dengan berbagai alasan. Satu, harga liquornya murah. Dua, nggak terlalu jauh dari rumah. Dan yang ketiga, aku punya ikatan emosional sama tempat tematik gitu.. ditambah kenyataan pemiliknya pernah tinggal di Jepang dan menikah dengan orang Jepang. Jadi.. ya.. rasanya kayak pulang kampung. Hahahaha..

Buat info lebih lanjut, bisa menghubungi mereka di @hospitalisjkt. Dan buat yang anak-anak muda yang suka nongkrong, boleh lah main ke sana karena harganya masih terjangkau.

Ciao!

5 thoughts on “Hospitalis Restaurant & Bar (Review)

  1. thanks buat review tempat kita.. lemme introduce myself, gue dea salah satu owner di Hospitalis Resto & Bar, kita sekarang ada menu-menu baru yang pastinya dengan harga terjangkau dan taste yang okee! ditunggu kedatangannya lagi di Hospitalis buat another “Hospitalis (Review)” 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s