Sebelumnya, ini bukan pembahasan netral soal pilpres (ataupun pembahasan soal capresnya). Saya pribadi mendukung Prabowo-Hatta gila-gilaan dengan berbagai alasan tertentu. Pembuatan blog ini nggak lebih karena sedikit kesal dengan para pendukung pihak lawan yang saya anggap kurang benar.

Maaf kalau ada kata-kata kasar. Postingan ini dibuat dalam keadaan emosi.

.

Sebenarnya aku nggak mau membahas soal pilpres di sosial media sama sekali. Selain karena aku ingin hal ini menjadi rahasia pribadiku, aku juga nggak mau orang lain berubah sikap ketika bertemu denganku hanya karena pilihanku berbeda. Tapi, semua berubah ketika salah satu temanku, yang mengaku nggak ingin membahas masalah politik denganku karena takut bertengkar, mulai men-share info-info tentang pilihannya.

Aku nggak masalah jika hal yang dia share adalah dukungan, fakta, dan rekam kegiatan calon pilihannya. Yang jadi masalah adalah, hal-hal yang dia share merupakan cercaan terhadap pilihanku. Sebagian lelucon, tetapi lelucon yang nggak lucu karena unsurnya memang merendahkan/meledek. Sekali-dua kali, kubiarkan.. walau kadang aku sering meninggalkan peringatan untuk jangan memancingku berargumen.

Alasan kenapa aku juga nggak membicarakan hal ini di sosmed juga karena dia yang mengatakan tidak ingin membahasnya karena takut kami pecah. Jadi, sebisa mungkin aku menghargainya dengan nggak men-share hal-hal yang kuanggap jelek dari pilihannya. Sayangnya, dia nggak berpikir sama. Jadilah aku meledak karena peringatanku diacuhkan.

Kubilang padanya apa yang membuatku marah dan kenapa aku hanya marah padanya. Tindakan yang dilakukannya kuanggap sudah mendekati munafik karena dia bertindak kebalikan dari apa yang dia katakan, selain itu juga aku merasa dia nggak menghargaiku sebagai orang yang memiliki pilihan berbeda darinya. Apa namanya orang yang men-share makian-makian tentang pilpres pilihan temannya di platform yang bisa disaksikan dengan jelas oleh temannya itu? Nggak menghargai, menurutku. Itu namanya sengaja memancing perang. Kalau memang mau berperang, ya ayo.. lawan aku dengan segala informasi yang anda punya. Jangan mainnya di platform. Pengecut itu namanya.

Setelah kejadian itu, dia sudah meminta maaf dengan susah payah karena aku sudah terlanjur jijik dengannya. Tapi, tetap.. aku merasa belum puas dengan permintaan maafnya. Aku masih merasa dia meminta maaf karena dia ketakutan, bukan karena menyadari kesalahannya. Aku nggak suka orang yang meminta maaf karena takut, aku lebih menghargai orang yang minta maaf karena sadar dia sudah melakukan kesalahan. Dan kurasa, dia masih menganggap apa yang dia lakukan itu benar. Kenapa? Karena dia sendiri yang ngomong ke aku.

Jadi, sampai sekarang aku masih sebel dengan orang itu. Aku kalau memendam sebal, lama-lama bisa jijik dan apapun yang dilakukan dia terlihat salah di mataku. Lama-lama kalau aku nggak tahan, ya kutinggal. Memang kejam, tapi daripada aku sakit karena memendam kesal, lebih baik aku meninggalkan sumber kekesalanku kan?

.

Tadi kubilang dia nggak merasa bersalah dengan apa yang sudah dia lakukan. Ya, dia menganggap apa yang dia lakukan itu adalah normal karena orang lain melakukannya juga. Kalau yang ngomong memang rakyat jelata dengan pola pikir yang dangkal dan normatif sih, kumaklumin ya. Cuma yang ngomong ini adalah orang yang mengaku di atas rakyat jelata dan nggak normatif. Jadi, aku melihat kemunafikan di dalam tindakannya. Inilah kenapa aku semakin jijik pas ngomong sama dia kemarin.

Aku nggak masalah kalau dia nggak berubah pilihan. Aku juga nggak maksa dia untuk merubah pilihannya kok. Yang kutekankan di sini adalah kelakuannya yang nggak beda sama rakyat jelata yang nggak dididik secara benar. Kalau mau share soal pilihannya, ya share yang tentang pilihannya aja.. bukannya berita miring soal pilihanku yang entah benar-entah nggak kebenarannya. Ditambah lagi isinya ada joke yang sama sekali nggak lucu.

Soal berita miring itu juga kutanya, dia nggak punya bukti yang jelas. Bilangnya dari buku sejarah. Udah jelas buku sejarah itu ada kemungkinan dimanipulasi, masih aja dipercaya.. itu juga yang dijadikan pegangannya dia. Kan tolol.

Entah habis baca blog ini dia bakal mengerti alasan kemarahanku apa nggak. Kalau nggak ngerti juga sih ya, bukan bego lagi namanya.. tapi imbisil. Udah nggak sudi lagi temenan sama orang imbisil.

.

Saya nggak suka orang munafik. Orang munafik itu, apa yang dilakukan berbeda dengan apa yang dia katakan. Aku juga nggak suka orang yang minta maaf selain karena dia menyadari kesalahannya. Ketakutan, rasa bersalah, atau rasa ingin memperbaiki hubungan bukanlah alasan untuk meminta maaf. Kata maaf itu sakral, untukku. Kata maaf hanya akan kusebutkan kalau aku memang menyadari kesalahanku.. selain itu, aku nggak akan meminta maaf. Kalau aku merasa benar, ya aku nggak akan minta maaf. Mau berantem? Bodo amat. Kalau mau membuatku meminta maaf, ya beri aku bukti kalau aku salah. Aku nggak takut untuk minta maaf kalau aku salah.

Dia sudah melakukan hampir semua yang kubenci dalam satu waktu. Makanya akhir-akhir ini perasaanku selalu gelap kalau ketemu dia.

.

Oke, udah, segitu aja blog marah-marahnya. Buat yang merasa nggak sreg sama kata-katanya, saya minta maaf. Memang ini blognya dibikin dalam rangka pelampiasan kemarahan.

Dah, saatnya tidur. Besok sahur.. Oyasumi~

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s