Baru-baru ini aku dimintai tolong oleh temanku untuk menjelaskan soal mesin waktu padanya. Karena mesin waktu itu merefer pada pelajaran Fisika Kuantum dan teori-teori Fisika lainnya yang udah lama nggak kubaca, maka akhir-akhir ini aku jadi sering buka Wikipedia untuk me-recall ingatan soal Fisika Kuantum.

Tapi rupanya, ini adalah pilihan yang salah.

Sialnya, karena pada dasarnya aku suka Fisika, apalagi Fisika Kuantum, dan juga karena pada dasarnya aku kepo, maka jadilah seminggu terakhir ini aku terjebak di depan laptop sampai lewat tengah malam untuk membaca semua materi tentang Black Hole, White Hole, Wormhole, Astrophysics, Teori Relativitas & Relativitas Umum, dan sebagainya yang berhubungan dengan teori Time Travelling. Iya, bener-bener susah untuk lepas dari laptop sampai-sampai harus ditarik Kai supaya tidur.

Sebagian besar orang bingung kenapa aku memiliki ketertarikan besar dalam Fisika, apalagi Fisika Kuantum yang katanya susah. Sebagian besar orang menganggap hobiku ini aneh. Aku justru bingung kenapa mereka nggak punya ketertarikan terhadap Fisika dan kawan-kawannya sepertiku. Jadi, siapa yang aneh, sebenarnya?

.

Aku jatuh cinta pada Fisika ketika aku duduk di kelas 3 SMP beranjak SMA. Dulu sebenarnya aku membenci Fisika karena aku dapet nilai jelek terus, hahaha. Tapi kayaknya aku kena kutukan, jadi sekarang malah jatuh cinta sama Fisika. Alasan aku jatuh cinta pada Fisika juga sederhana.

Yang jelas, Fisika berhasil menarik perhatianku dengan keseksian materinya. Kenapa menarik? Karena Fisika bisa menjawab seluruh pertanyaanku tentang alam semesta. Alam semesta ini memiliki banyak misteri yang kadang nggak masuk ke dalam akal manusia. Tapi entah kenapa, dengan Fisika, aku bisa membedah-bedah dan memahami misteri itu sendiri. Apapun pertanyaan tentang alam semesta, bisa kujawab dengan mudah karena aku punya pengetahuan di bidang Fisika. Aku bahkan bisa menjawab sebuah pertanyaan tentang alam semesta tanpa membaca buku.. orang bilang, aku menciptakan teori sendiri.. padahal, kalau dicek di buku, apa yang kukatakan itu 95%-nya benar, sisa 5%-nya kesalahan penyebutan istilah.

Modal untuk belajar Fisika nggak harus punya keahlian berhitung yang mengalahkan kalkulator. Kurasa anak-anak Kumon atau Sempoa juga belum tentu suka Fisika. Modal untuk mendalami Fisika itu cukup dengan memiliki rasa ingin tau yang tinggi serta imajinasi yang liar. Kemampuan hitung-menghitung hanyalah tambahan karena perhitungan Fisika kebanyakan approximate, bukan absolut.

Untuk pemula, belajar Fisika itu nggak perlu langsung terjun ke perhitungan. Kalian cukup membaca penjelasan, lalu mencoba untuk menganalogikan apa yang kalian baca dengan kegiatan yang umum kalian lakukan sehari-hari. Setelah mengerti analoginya, barulah kalian terjun ke perhitungan untuk mendalami logikanya supaya pemahamannya lebih akurat. Simpel, nggak perlu pusing-pusing.

Sayangnya, nggak semua guru Fisika bisa mengajar Fisika. Sehingga, banyak anak-anak sekolah yang kehilangan minat atau keburu membenci Fisika karena gurunya salah didik. Ini yang membuatku prihatin, karena guru Fisikanya pinter tapi nggak memahami materi yang dia ajarkan. Kalau dia mengerti, pasti dia bisa membawa anak didiknya untuk melihat dari perspektifnya dia.

Kebanyakan guru Fisika juga sangat stricht dalam mengajar Fisika dimana jawaban muridnya harus sesuai dengan kunci jawaban yang dia sediakan. Sehingga banyak murid-murid yang frustasi duluan karena nggak bisa menyamai kunci jawabannya dengan yang dimiliki guru. Padahal, belajar Fisika nggak bisa begitu. Belajar Fisika membutuhkan imajinasi yang liar, butuh kebebasan berpikir, dan jiwa anak-anak yang penuh rasa ingin tau.

Sekarang, kalau aku melihat seorang anak begitu membenci Fisika, yang kusalahkan adalah gurunya. Untungnya, guru Fisikaku dulu nggak begitu. Guru Fisikaku mampu membangkitkan rasa ingin tauku, dia mau membiarkan imajinasiku berkelana bebas, dan dia nggak pernah menetapkan sebuah jawaban absolut untuk murid-muridnya. Jawabanku setiap ujian selalu ‘kurang-lebih’, hanya mengira-ngira.

.

Karena aku memiliki kebebasan berpikir dan berimajinasi, aku jadi lebih suka mengandai-andai. Salah satunya adalah mesin waktu. Hampir setiap manusia mengimpikan untuk melakukan perjalanan menyeberangi ruang dan waktu. Dari sana, timbul pertanyaan di benakku: “Apa itu ruang dan waktu?“. Pertanyaan itu akhirnya membimbingku pada Fisika Kuantum yang masih kudalami hingga saat ini.

Sebegitu cintanya sama Fisika, aku sampai memimpikan untuk kerja di NASA. Alasannya ya simpel juga, karena aku ingin menguak seluruh misteri yang ada di alam ini. Aku ingin mengetahui segalanya. Dan juga.. aku pingin terlihat keren di depan diriku sendiri. Hahaha..

Aneh? Norak? Ya nggak apa-apa. Toh, untuk siapa lagi kita belajar kalau bukan untuk diri kita sendiri? Kalau bukan untuk kepuasan batin?

Sayangnya ya, aku terdampar di Akuntansi, hahaha.. jadi yang bisa kulakukan saat ini ya belajar sendiri dari Internet. :’3

.

Udah deh, segitu aja. Udah jam setengah 2 malam.. harus tidur buat sahur.

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s