Buat anak-anak yang suka nongkrong, pernah nggak sih dicibirin orang (entah itu teman atau saudara atau orang tua) karena kita dipandang kerjaannya main-main terus. Entah itu setiap malam kelayapan keluar, nongkrong di cafe atau bar, tiap weekend cabut sama temen entah kemana, dan nggak pernah kelihatan belajar? Setiap orang pernah sih, kayaknya. Khususnya buat yang tinggal di lingkungan yang penuh dengan akademisi, alias orang-orang serius yang mendedikasikan hidupnya untuk karir dan pendidikan akademis.

Saya pun sering dicibirin karena kerjaannya kelayapan, walau akhir-akhir ini nggak separah dulu yang tiap pulang bisa jam dua atau tiga pagi. Dan yang nyibirin bukan cuma orang-orang rumah, tapi teman-teman seperjuangan di jurusan Akuntansi dan juga di jurusan IPA dulu.

Dunia akuntan penuh dengan orang-orang serius yang memimpikan karir menjanjikan di sebuah perusahaan besar untuk membesarkan namanya pula. Kebanyakan temanku belajar siang-malam demi mendapatkan IP 4.00 setiap semester. Mereka banting tulang, tiap mau ada kuis pasti buka buku, diskusi, belajar kelompok, dan semacamnya. Begitu juga di dunia IPA, setiap mau ada ujian, pasti mereka bakal buka buku, diskusi, belajar kelompok, dan jadi orang paling gila seangkatan.

And there I am, orang yang nggak pernah kelihatan belajar. Setiap ada ujian dan teman-teman udah mulai sibuk sama materi ujian, saya malah kelayapan ke kelas IPS buat ngobrol dan main. Kebiasaan ini terbawa sampai kuliah. Awalnya kukira Akuntansi berisi anak-anak IPS yang dulu sering kuajak ngobrol. Rupanya, di Akuntansi nggak jauh beda sama di kelas IPA, isinya anak-anak serius yang mendedikasikan jiwanya untuk karir dan pendidikan akademis. Rupanya Akuntansi itu IPA-nya kelas IPS.

Sebenarnya aku nggak ada masalah dengan hal ini. Setiap orang punya pilihan, punya jalannya masing-masing dalam menyelesaikan pendidikan formalnya. Yang kupermasalahkan adalah ketika aku dicibir dan dicap sebagai anak yang nggak akan berhasil di masa mendatang. Well, untuk saat ini, aku masih belum bisa ngomong apa-apa. Aku belum bisa mengatakan kalau diriku sukses, atau minimal sudah memenuhi standard kesuksesan bagi orang lain. Sama seperti mereka yang mencibir. Intinya adalah jangan mencibir duluan karena kita semua masih berada pada tahap perjuangan menuju sukses. Belum tentu mereka yang mencibir akan sukses dan mereka yang dicibirin nggak akan sukses. Sejauh ini, aku belum menemukan variable mutlak yang menentukan kesuksesan seseorang.

.

Ini bukan masalah teori atau pemberian semangat, postingan kali ini pure berisi curhatan dan berisi pemikiranku (seperti biasa).

Sesaat, aku merasa kasihan pada mereka yang merasa cibiran itu menjadi pukulan telak untuk dirinya.. termasuk aku. Aku orangnya sangat perasa, jadi kalau dicibirin begitu aku jadi tersinggung dan memikirkan hal itu berulang kali. Aku sempat merubah kepribadianku menjadi kepribadian golongan darah A banget; organized, teratur, patuh pada aturan, rajin wal afiat, dan semacamnya sampai-sampai aku dicap jadi kutu buku. Aku berusaha untuk merubah diri karena aku termakan omongan orang lain yang mengatakan kalau tukang main-main kayak aku nggak akan sukses di masa depan. Aku sempat jadi pesimis, minder, dan depresi. Sampai akhirnya aku berada pada tahap ‘what the fuck‘ dan ‘why the hell‘.

Untuk sampai ke tahap itu, aku harus melalui waktu yang panjang; sekitar 2 tahun. Hampir setiap semester aku datang ke kelas, mencatat materi di kelas, berusaha nggak kelayapan, duduk di rumah buat baca buku, ngerjain tugas, dan jadi anak rajin sepenuhnya. Hingga akhirnya aku menerima nilai akhir yang ternyata justru menurun dari semester-semester sebelumnya; semester-semester yang kulalui sambil bermain dan leha-leha.

Aku jadi depresi karena itu. Memikirkan apa yang salah, apa yang kurang, kenapa begini, kenapa begitu. Aku mencari kekurangan dan kesalahanku lalu memperbaikinya di semester berikutnya. Bukannya makin bagus, nilaiku malah makin turun. Aku kembali depresi, kembali melakukan evaluasi dan memperbaikinya di semester berikutnya. Hal yang sama kembali terjadi. Walau nilaiku nggak turun, tapi nilai akhirnya nggak sesuai dengan harapan dan nggak setimpal dengan besarnya usahaku.

Selama liburan panjang ini, aku cuma merenung dan berpikir sambil ikut les bahasa Prancis untuk mengisi waktu. Apa yang salah? Aku udah mengikuti rutinitas teman-temanku yang IPK-nya melejit. Kenapa nilaiku justru turun? Kenapa aku nggak mendapatkan hasil seperti mereka, dimana hasil akhir mereka benar-benar membayar seluruh usaha mereka? Apa yang salah? Apa yang kurang?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantuiku. Aku merokok lebih banyak untuk mengatasi stress, minum lebih banyak supaya penatku hilang, setiap nyetir aku nginjek gas dalam-dalam untuk melampiaskan kekesalan (nyetir di dalam kota aku bisa memacu sampai 120 kmph). Tindakan dari stressku sangat destructive, jadi, jangan ditiru. Hahaha..

.

Aku bersyukur karena aku ikut les bahasa Prancis. Aku bertemu berbagai macam orang yang bukan dari kalangan Akuntansi atau IPA (ada sih, tapi sedikit). Sebisa mungkin aku menjauhi anak-anak yang memiliki ‘bau’ yang sama dengan anak-anak Akuntansi dan IPA, dan mendekati anak-anak yang berbau IPS. Dari sini lah aku mendapat pelajaran yang membuatku tersadar akan masif nya kebodohanku.

Di sana, aku kembali berteman dengan anak-anak yang tukang nongkrong dan bolos sepertiku dulu. Aku melihat mereka begitu bahagia dan menjalani hidup tanpa beban. Nggak, bukan karena mereka anak orang kaya yang nggak punya sesuatu untuk dipikirkan, tapi karena mereka nggak takut menghadapi masa depan. Dalam seminggu terakhir ini aku menyimpulkan bahwa motto hidup mereka adalah ‘nggak bisa ke depan, masih bisa ke kiri, ke kanan, ke atas, ke bawah, dan segala arah yang kau inginkan‘. Mereka melakukan apa yang mereka mau dan nggak memikirkan apa yang orang lain katakan.

Melihat mereka, aku menyadari betapa aku sudah berubah drastis dari diriku yang dulu. Aku menipu diriku sendiri supaya bisa memenuhi standard penilaian orang. Aku sudah tersasar dan sudah terlalu jauh untuk memutar balik untuk kembali. Hal yang paling menyakitkan adalah karena aku merasa asing.. teralienasi dari diriku sendiri.

Satu-satunya hal yang menghiburku adalah tidak ada kata terlambat. Mungkin aku sudah nyasar terlalu jauh, tapi belum terlambat untuk kembali. Aku masih punya waktu.. bukan, aku selalu punya waktu untuk kembali.

.

Aku belajar keras, for what? Metode belajarku bukan dengan duduk diam membaca buku. Aku berhenti kelayapan, for what? Supaya aku nggak dicibirin orang. What the fuck were you doing, Kyle? Why the hell do you have to care about them? Jalan masing-masing orang berbeda, cara masing-masing orang dalam menggapai kesuksesannya berbeda-beda. Mungkin, duduk diam di kelas, membaca buku, diskusi, dan segala macam adalah cara mereka.. tapi bukan caraku. Aku punya cara sendiri yang nggak bisa kujelaskan dan hanya efektif untuk diriku sendiri.

Saat ini, aku sedang berada di perjalanan kembali menuju diriku yang dulu. Kembali kebut-kebutan di Jalan Rasuna Said bersama teman sambil mendengarkan musik dari speaker mobil yang memekakkan telinga, merokok di dalam mobil sambil ketawa lepas.. Kembali merasa bebas, kembali carefree, kembali ke rumah.

.

Biarlah orang-orang mencibir karena kelakuanku yang kayak monyet lepas. Yang penting, aku nggak melakukan hal yang sama terhadap mereka. Biarlah aku dicap sebagai anak nggak bener, anak nggak sukses, anak yang hancur, anak dengan masa depan suram. Biarlah mereka tertawa lepas selagi bisa. Di jaman globalisasi seperti ini, pepatah ‘bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian‘ sudah nggak berlaku. Kalau bisa ‘bersenang-senang sekarang, bahagia selamanya‘, kenapa nggak?

Sekarang, banyak hal yang tak terduga terjadi. Sekarang, anak orang kaya, besarnya jadi anak yang nggak kalah kaya. Anak pejabat, jadinya juga pejabat. Anak CEO, gedenya jadi CEO juga. Jaman berubah. Saat ini adalah jaman yang menguntungkan. Tergantung bagaimana kita memanfaatkan moment aja.

Jadi anak tukang kelayapan juga nggak selalu jelek. Membangun koneksi dan bersosialisasi, berbagi ilmu dan network, bebas dan carefree adalah duniaku.. cara hidupku. Kalau bukan caraku, nggak mungkin dulu aku bisa dapat prestasi melejit semasa sekolah karena dulu aku lebih kayak monyet lepas.

Hidup itu singkat. Aku nggak mau menghabiskan hidup yang singkat ini sambil memenuhi standard kehidupan dan kesuksesan orang lain. Aku nggak mau menghabiskan hidup yang singkat ini sambil ngedumel dicibirin orang. Aku mau menikmati hidup yang singkat ini, dengan caraku sendiri, bersama orang-orang yang kusayangi.

Aku adalah pekerja kreatif. Pekerja kreatif nggak bisa dikekang dan ditekan. Aku orang yang bebas.

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s