Since I start my college life, banyak orang yang ngeluh atau sekedar curhat ke aku soal insecurities mereka. Kebanyakan insecurities tentang identitas mereka, status sosial di lingkungan mereka, sampai ke masa depan. Alasannya pun bermacam-macam, ada yang karena peer pressure, ada juga yang habis dimarahin orang tuanya. Orang-orang yang nyurhatin aku omongannya juga rata-rata sama.. dan kebanyakan pada langsung down begitu orang tua mereka yang ngomong. Kasus lama.

Sebenarnya aku ngerti perasaan mereka.. walau pengalamanku bersama orang tua yang begitu itu cuma sebentar. Tapi yaa, ngerti lah gimana rasanya dikatain bodoh dan rasanya dibenci sama orang tua cuma gara-gara aku nggak nurut. Tapi ya lama-lama, I get over it. Dan begitu orang tua angkatku ngomong begitu, kuping udah tebel aja. Udah mati rasa.

Insecurities yang muncul ini, menurut analisaku, adalah karena kebanyakan orang masih memikirkan pendapat orang lain.. dalam artian, mereka merasa kalau diri mereka ditentukan oleh mereka. Contoh sederhananya aja ketika ada temen yang ngomong, “Lo tuh pecundang!“. Bayangin kalau misalnya temen kalian atau orang tua kalian ngomong gitu.. down nggak? Jelas kalian down.

Ngerasa down itu ya sah-sah aja.. sedih dimaki begitu juga sah-sah aja. Tapi ya jangan berlarut-larut juga. Udah dikatain pecundang, terus apa? Diem aja? Mewek gitu? Yaa, pantes aja kalian dikatain pecundang kalau kayak gitu, mah.

Cara aku mengatasi judgement-judgement pedes begitu itu sederhana; cukup dengan mengiyakan mereka, lalu jalan gontay meninggalkan mereka. Kenapa? Karena aku tau aku bukan pecundang dan aku yakin aku bukan pecundang. Tapi, bersikap kontra dengan argumen seperti itu bukanlah pilihan yang tepat. Kenapa? Karena mereka biasanya sok tau.. mereka bakal menjabarkan pendapat-pendapat mereka, berusaha keras agar kita kalah dan setuju sama mereka di akhir argumen. Jadi, untuk menyingkat waktu, mending langsung aku ‘iya’-in. Simpel, nggak buang-buang waktu, nggak buang-buang tenaga.

Toh, buat apa berdebat? Kalau temen kita ngomong begitu, ya belom tentu bener. Emang dia menghabiskan waktu berapa lama sih, sama kita? Emang dia ngintilin kita 24/7 sampai bisa ngomong begitu ke kita? Nggak, kan? Dia cuma ngeliat kita di saat-saat tertentu aja. So? Your argument is invalid.

Terus, kalau orang tua yang ngomong begitu, gimana? Ya selow juga. Buktikan kalau mereka salah. Bukan dengan cara menyodorkan bukti ke depan hidung mereka kalau kita bukan pecundang (itu sih, ketauan banget pecundangnya kalau sampai begitu), tapi dengan membuktikan kepada diri sendiri kalau pada nyatanya kita bukanlah pecundang. Caranya? Ya berlakulah seperti pemenang. Bukannya mewek glosoran, ngeluh-ngeluh nggak jelas, apalagi sampai ngomong “Orang tua gue nggak sayang sama gue“.

Errgh, bitch, bacot lo. Lo masih dikasih makan kan? Masih dikasih tempat tinggal kan? Masih disekolahin kan, sama orang tua lo? Terus, atas dasar apa lo bilang orang tua lo nggak sayang sama lo? Cuma gara-gara mereka ngatain lo pecundang? Well, kalau itu alasannya, berarti lo emang beneran pecundang.

Salah satu dari banyak orang yang curhat soal beginian ke aku emang beneran cuma bisa mewek glosoran. Means, bener-bener bertingkah kayak pecundang.. asli.. pecundang banget. Cuma bisa ngeluh, cengeng, gede bacot.. parah. Kalau emang ngeluh doang tanpa melakukan apa-apa untuk merubah panggilan ‘pecundang’ jadi ‘pemenang’, ya udah, mending mati aja. Toh, dunia nggak butuh pecundang.

.

Tapi intinya, kalau emang kalian menemukan hal-hal demikian di dalam hidup, ya jangan sampai down banget lah. Sedih sih, pasti.. cuma ya jangan berlarut-larut. Mewek semaleman aja itu udah kelamaan buat mengungkapkan rasa sakit hasil goresan kata-kata makian. Setelahnya? Buktikan pada diri sendiri kalau kita bukan seperti apa yang mereka katakan. Untuk melakukan itu, kita harus yakin sama diri sendiri. Harus tau kepribadian kita kayak apa.

Kalau aku sih, sesimpel bilang, “I’m awesome“. Bagiku, aku adalah orang keren. Bodo amat orang lain bilang aku nggak keren atau kelewat pede. Toh, ini diriku. Aku mendoktrin diriku sendiri untuk jadi Awesome. Orang lain boleh menjudge, boleh memaki, boleh nge-hate, tapi.. tetap aku yang menentukan siapa diriku, bukan orang lain.. bukan teman.. bukan orang tua.. hanya aku seorang.

Ciao!

One thought on “Insecurities

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s