Dari beberapa waktu yang lalu, aku memiliki sebuah pertanyaan yang nggak bisa dijawab oleh orang-orang terdekatku. Pertanyaan itu begitu simpel, tapi jawabannya susah ditemukan. Pertanyaan ini juga terkadang kulontarkan ke orang lain ketika mereka mulai random dan bikin malu di depan umum dengan ulahnya yang di luar akal sehat. Yaa, pertanyaan-pertanyaan yang kulontarkan ke Sherly, Glo, Beber, dan Mahessa. “Kenapa kalian mau temenan sama gue?“.

Hari ini, pertanyaan itu benar-benar menghantuiku. Yaah, mengenal diriku yang begini, yang termasuk jahat untuk ukuran manusia normal dan norma umum, aku mempertanyakan kenapa ada aja orang yang mau berteman denganku. Kenapa mereka mau kuajak jalan, kenapa mereka mau ngobrol denganku, kenapa mereka begitu terikat denganku. Padahal, ya aku orangnya begini. Pertanyaan itu begitu menghantui sampai-sampai aku melontarkan pertanyaan ini kepada orang yang kurasa selalu tau jawabannya, yaitu Kai.

Aku bertanya, “Kai, kenapa orang-orang mau ya, berteman denganku? Kan aku orangnya jahat, childish, dan yaah, kamu tau lah.. a bit retarded.

Lalu, Kai menjawab dengan jawaban yang membuatku berhenti bertanya-tanya, “Karena kamu loyal sama mereka dan mereka juga loyal ke kamu.

.

Jawaban yang dilontarkan Kai jadi semacam jawaban yang valid karena aku nggak lagi bisa melontarkan pertanyaan. Kalau udah begitu, udah bisa dipastikan memang ‘loyal’ lah jawabannya.

Memang, jawabannya begitu simpel. Tapi, terkadang orang susah menemukannya karena jawaban itu begitu dalam dan terlalu benar. Gara-gara jawaban itu pula, aku jadi memikirkan, kenapa aku mau berteman dengan orang-orang yang secara umum harusnya nggak ditemanin. Entah itu mereka berkomentar soal penampilan mereka lah, sifat-sifat absurd mereka lah, atau apa lah yang kasat mata. Menurut mereka, aku seharusnya bisa menemukan teman yang lebih baik dari mereka. Teman-teman yang penampilannya lebih menarik, teman-teman yang attitude nya lebih bagus, teman-teman yang secara norma umum terpandang atau memiliki status sosial yang tinggi.

Tapi, kurasa mereka lupa memperhitungkan apa yang ada di dalam diri mereka.. which is loyalty.

Di jaman sekarang, dimana seluruh hubungan dikaitkan dengan materi, sangat susah menemukan teman yang valuable. Value dalam pertemanan yang terpenting untukku adalah loyal. Kenapa teman terdekatku begitu sedikit padahal aku sangat suka bersosialisasi, mungkin karena sulit menemukan teman yang loyal. Nggak semua orang bisa menjadi loyal kepada kita, dan begitupun kita, sangat susah menjadi loyal terhadap orang. Di jaman sekarang, kepercayaan dan kesetiaan menjadi sesuatu yang begitu mahal yang bahkan uang pun tak bisa membayarnya.

Ketika kita bertemu dengan seseorang, yang selalu terpikir di otak kita hanyalah, “Apakah dia orang yang setia? Apakah dia akan menusukku dari belakang sewaktu-waktu?“. Pertanyaan yang membuat kita membangun sebuah berikade besar berjendela kecil untuk kita berkomunikasi. Kita tidak bisa percaya pada orang 100%, dan begitu pula orang lain. Bahkan, setelah sekian lama berteman pun, terkadang kita masih mempertanyakan pertanyaan yang sama, “Apa dia akan menusukku dari belakang sewaktu-waktu?“.

.

Selama aku berteman dengan mereka, pertanyaan itu menghilang di beberapa kali pertemuan kami. Untuk mereka yang kusebutkan di atas, pertanyaan itu menghilang di pertemuan pertama kami. Entah kenapa, pertanyaan itu hilang begitu saja. Mungkin insting? Mungkin memang aku menemukan chemistry yang membuat pertanyaan penting itu hilang begitu saja? Entahlah. Aku lebih percaya pada chemistry yang memang nyambung, sehingga pertanyaan itu hilang begitu saja. Kepercayaan memang bisa dibentuk, tetapi kesetiaan muncul begitu saja berdasarkan bond yang kuat.

Ya, bond itu lah yang membuat kita setia. Seolah-olah kami semua saudara sedarah, sehingga ikatan kami begitu kuat. Membuat kami setia satu sama lain. Mau bagaimanapun diri kita, dengan ikatan itu, kita tidak akan bisa mengkhianati satu sama lain karena ikatan itu begitu kuat. Meskipun kita memiliki keinginan, atau sekedar mencoba-coba, kalau memang ikatan itu begitu kuat, kita tidak akan bisa mengkhianati. Kesetiaan adalah sesuatu yang alamiah. Kesetiaan ada di dalam diri seseorang. Tetapi, kesetiaan tidak akan ada untuk semua orang. Kesetiaan muncul karena chemistry, chemistry memunculkan ikatan, ikatan menciptakan kesetiaan. Sesuatu yang alamiah yang tidak bisa dibangun seperti kepercayaan. Kesetiaan lebih fatal daripada kepercayaan.

.

Mungkin, rasa loyalku muncul begitu saja terhadap orang-orang yang menjadi teman baikku karena pada dasarnya cakraku berbentuk anjing. Mungkin karena aku memiliki sifat-sifat anjing yang salah satunya adalah kesetiaan. Insting anjingku muncul dan langsung merasa mereka tidak akan bisa atau berani menyakitiku.

Awalnya, aku berpikir, kalau aku terlalu setia pada orang, maka mereka akan memiliki kesempatan untuk menyakitiku. Tapi, aku selalu merasa lebih pintar dari itu, sehingga aku pun menciptakan sesuatu yang membuat mereka tidak bisa menyakitiku entah bagaimana caranya. Semacam self-defence. That way, aku bisa menjadi setia tanpa harus merasa takut untuk disakiti.. yaitu membuat orang merasakan kesetiaan dan ikatan yang sama kuatnya dengan apa yang kurasakan. We got each other’s back.

Mungkin juga karena dulu aku memiliki brotherhood di Jepang, jadi rasa kesetiaan itu muncul dan menjadi begitu kuat di dalam diriku. Sampai-sampai kebawa-bawa hingga sekarang. Kebawa-bawa dimana teman-temanku yang bermuka kusut ini memiliki rasa kesetiaan yang sama tingginya dengan kesetiaanku.

Bedanya, kalau dulu di Jepang kami bersumpah setia sehingga kesetiaan itu menjadi sesuatu yang serius dan dibawa mati, sekarang kami nggak melakukannya. Tapi, nggak ada salahnya untuk bersumpah setia pada ketiga cewek bermuka kusut itu. Kalau sama yang muka arab sih, udah. Makanya brotherhoodnya jadi sekuat sekarang.. sumpahnya dibawa mati. Kalau sumpahnya dirusak, entar kutilan seumur hidup. #yahGitu

.

Tapi, ya begitulah intinya. Selama ini banyak orang yang mempertanyakan kenapa aku berteman dengan orang-orang yang aneh secara norma umum. Yaah, jawabannya karena mereka setia kepadaku dan aku setia kepada mereka.. sumpah dibawa mati, kesetiaan lebih berarti dari seonggok berlian, kesetiaan lebih kuat dari titanium.

Yeah, this is what I called old-school brotherhood.. and Japanese-style brotherhood.

.

.

.

…Whoah, I really am the son of samurai. Sumpah dianggap serius amat (iya lah!).

Udah deh, segitu aja ngeblog nya. Maaf akhir-akhir ini jarang ngeblog. Lagi mood ngansos. Now Kyle’s back, biatch.

Ciao!

2 thoughts on “Loyalty

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s