Entah udah berapa kali aku bilang kepada orang-orang kalau aku ADHD. Memang, secara klinis aku belum dites kalau aku benar-benar terkenal ADHD/ADD. Tapi, dari beberapa sindrom dan pengalaman pribadi, aku ada kemungkinan mengidap ADHD. Buat yang mengenal dirikupun, mungkin mereka juga sudah menyadarinya. Entah harus senang atau sedih, tapi untukku, ADHD ini cukup mengganggu.

Kenapa aku harus senang? Well, karena menurutku, nggak ada sesuatu yang jelek selama kita bisa mengubahnya menjadi baik. Penyakit ADHD ini mungkin nggak sepenuhnya jelek. Mungkin, aku bisa merubah atau memanfaatkan penyakit menahun ini menjadi sesuatu yang bisa membuatku produktif. Aku hanya perlu merubah pola hidup supaya bisa hidup bersanding dengan ADHD ini. Kenapa? Karena aku tidak yakin kalau penyakit ini akan menghilang dalam waktu singkat. Sementara, aku tidak memiliki banyak waktu.

Hal pertama yang kurasakan dan kuyakini sebagai sindrom ADHD adalah penyakit hiperaktifku. Ada pula kesulitanku dalam berkonsentrasi sehingga menyulitkanku dalam mengikuti prosedur pendidikan akademis. Selain itu, aku mudah bosan dan tidak bisa menganggur. Setidaknya, aku harus memiliki sesuatu untuk dikerjakan karena energiku cukup besar. Kalau aku menganggur, aku akan gelisah dan mendadak mood-ku menjadi jelek.

Memang hal-hal di atas tidak cukup untuk mengatakan ADHD. Setidaknya, aku harus aware dengan kemungkinan adanya penyakit itu untukku mengantisipasi segala kemungkinan terburuk. Salah satunya adalah bosan kuliah yang nantinya, untuk kebanyakan orang, akan mempengaruhi kehidupan di masa depan.

.

Bagi sebagian besar orang, menempuh pendidikan hingga strata satu adalah hal yang penting. Dalam dunia kerja, strata satu merupakan standar minimal seseorang untuk melamar pekerjaan yang menjanjikan. Ada pula yang melihat kualitas diri seseorang berdasarkan latar belakang pendidikannya – semakin tinggi, dianggap semakin berpendidikan dan bertatakrama baik.

Hal ini membuatku berpikir. Aku bisa dibilang kuliah terlalu lama. Kurasa ini karena aku yang sangat sulit untuk berkonsentrasi pada pelajaran. Awalnya kupikir ini hanya kemalasan belaka. Tetapi, semakin ke sini, aku semakin menyadari kalau ini bukan sulit konsentrasi biasa. Kesulitan ini merambat pada aktivitasku yang lain seperti menulis dan membaca buku yang sering kulakukan dulu. Kini, aku tak bisa lagi duduk diam, menulis dalam jangka waktu yang lama, dan menggunakan konsentrasi penuh untuk menyelesaikan suatu pekerjaan seperti menulis dan membaca buku. Kesulitanku untuk berkonsentrasi ini akhirnya merambat pada lamanya waktuku dalam menempuh pendidikan strata satu.

Karena terlalu lama menempuh pendidikan strata satu ini, lama kelamaan aku menjadi bosan. Kebosanan ini bertambah karena aku sudah mengerti seluk-beluk ilmu yang sedang kugeluti. Tanpa sadar, aku sudah mempelajari seluruh pelajaran strata satuku dari awal sampai akhir. Kebosanan ini akhirnya juga mulai mempengaruhiku dalam mendatangi kelas. Kini, aku hanya memasuki kelas demi absen, bukan lagi demi ilmu. Kelas tak lagi memberiku sesuatu yang baru, sehingga membuatku lebih cepat bosan dan mengantuk di kelas.

Hiperaktifku juga berperan dalam hal ini. Aku selalu ingin pergi keluar kelas karena aku sudah mulai tidak betah duduk berjam-jam di dalam kelas yang bahkan tidak memberiku ilmu baru. Aku mulai merasa, di luar kelas, aku bisa melakukan lebih banyak hal berguna dan menjadi produktif.

.

Kejadian-kejadian ini kembali membuatku berpikir berulang-ulang, baik secara kekanak-kanakan maupun secara dewasa. Pikiranku menjurus pada satu hal: ‘apakah aku membutuhkan gelar untuk hidup yang lebih baik?‘. Pertanyaan ini kuulang-ulang dan kudiskusikan berkali-kali dengan teman-temanku – baik yang memiliki semangat lulus strata satu dan yang sudah tidak bersemangat untuk kuliah. Aku mencoba memandang pertanyaan tersebut dari berbagai sudut pandang. Aku mencoba menemukan solusi yang terbaik bagi diriku sendiri.

Pemikiran tersebut membuatku berpikir lebih rasional dengan membandingkan apa yang kita miliki di lingkungan kerja sekarang. Apa yang kulihat, bidang yang ingin kutempuh tidak membutuhkan gelar atau standar minimal. Aku bisa menjadi penulis asalkan aku rajin mengobservasi bidang yang ingin kutulis. Kalau begitu, apa yang kulakukan sekarang? Kalau pekerjaan yang ingin kulakukan tidak membutuhkan gelar, kenapa aku masih melanjutkan kuliah? Kalau kuliah tak lagi memberiku manfaat, kenapa aku masih berada di sini? Lebih baik aku berhenti saja.

Itu yang kupikirkan. Tapi, tentu saja aku tidak dengan gegabah mengambil keputusan untuk berhenti. Sudah cukup lama aku memikirkan hal tersebut. Pertanyaan-pertanyaan itu mulai ku-counter dengan pemikiran-pemikiran optimis seperti, “Mungkin, semester depan aku akan mendapatkan hal baru” atau “Cobalah untuk bertahan dulu, mungkin kau berpikir demikian hanya karena depressi atau bosan sesaat“. Tapi nyatanya, setiap semester aku melontarkan pertanyaan yang sama: “Kenapa aku masih berada di sini?“.

Memang benar, setelah aku berpikir berulang kali, aku semakin tidak menemukan manfaat dari kuliah. Aku mulai merasa kuliah hanya membuang-buang waktu, tenaga, dan biaya. Sementara, tanpa kuliahpun, ilmu yang kudapat di kelas bisa kudapatkan melalui beberapa orang ahli di dekatku, dari buku, dari internet, dari televisi, dari media cetak, dan dari orang-orang sekitar. Aku bisa mencari ilmu dengan caraku sendiri. Untuk apa aku kuliah kalau yang kukejar hanyalah nilai, bukan lagi ilmu.

.

Sekali lagi, tidak secepat itu aku mengambil keputusan besar di dalam hidupku. Aku kembali memikirkannya berulang-ulang. Aku mencoba memasukkan kakiku ke dalam sepatu orang-orang gagal dan bertanya pada diri sendiri, “Apa ini yang mereka pikirkan ketika mereka memutuskan untuk berhenti menempuh pendidikan?“.

Kini, aku sudah mendapat jawabannya. Mungkin, orang-orang yang kita anggap gagal berhenti kuliah karena gegabah mengambil keputusan. Entah apa yang mereka pikirkan saat mereka memutuskan untuk berhenti menempuh pendidikan – mereka punya alasan mereka masing-masing. Beberapa orang ada yang lebih sukses tanpa gelar. Ada pula beberapa orang yang tidak akan bisa sukses tanpa gelar.

Gelar bukanlah segalanya. Orang-orang yang gagal tanpa gelar bukan gagal karena mereka tidak memiliki gelar, tetapi karena mereka berhenti belajar. Aku selalu yakin kalau orang-orang yang tidak pernah berhenti belajar akan sukses meskipun tanpa gelar.

Jadi, aku termasuk yang mana? Aku yakin aku termasuk di kategori yang kedua: aku tidak akan pernah berhenti belajar dan berpikir, dan aku yakin bisa sukses meski tanpa gelar.

.

Pemikiran itu sudah terhenti. Aku sudah membuat keputusanku akibat beberapa pertimbangan di atas: aku akan mulai hidup dengan caraku sendiri. Keputusan besar yang sudah kubuat adalah berhenti kuliah dan mulai menggeluti pekerjaan yang sangat kusuka, yaitu menulis seperti ini. Untuk menambah ilmu dan nilai atau kualitas diriku di mata sosial, aku akan ikut beberapa kursus soft-skill yang hanya memakan waktu singkat sehingga aku tidak akan bosan. Aku ingin belajar berbagai ilmu dengan cara yang terbaik untukku, yaitu kursus. Hal ini kuanggap lebih bermanfaat untukku dibanding aku kuliah bertahun-tahun, menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan biaya.

Memang, caraku tidak akan cocok untuk sebagaian besar orang dan cara sebagian besar orang juga tidak cocok untukku. Oleh karena itu, aku membuat cara sendiri yang lebih cocok untukku.

.

Bagi kalian yang memang merasakan hal yang sama denganku, jangan langsung terjun mengikuti caraku. Untuk membuat keputusan besar ini, aku membutuhkan waktu bertahun-tahun dengan berbagai riset kecil-kecilan, berbagai pertimbangan, berbagai jenis diskusi, dan masih banyak lagi. Jika kalian ingin mengikuti caraku, kalian harus mengenal diri kalian terlebih dahulu, ketahui apa yang sebenarnya kalian inginkan di dalam hidup, membuat pertimbangan yang realistis, kumpulkan keberanian, lalu putuskan.

Semoga pengalamanku ini bisa kalian jadikan pelajaran. Kuliah tidak selamanya jelek, begitu pula dengan berhenti kuliah. Kalau kalian bingung, selalu ingat 3 kata mutiara yang kudengar dari seseorang yang sangat gigih: Jalanin aja dulu!.

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s