Aku sedang duduk di kamar sendirian, menghabiskan sebatang rokok sambil mendengarkan suara adzan maghrib melalui celah jendela yang terbuka lebar di belakangku. Asap rokok yang mengebul ke arah wajahku membuatku terngiang akan kejadian di masa lampau – masa dimana Kai masih merupakan seorang suicidal yang amat tertutup. Pikirku pun melayang kepada kejadian dimana ia memutuskan untuk curhat kepada orang asing – dimana ia pikir, orang asing tidak akan menghakimi dirinya atau menyalahkan dirinya atas depressi yang ia miliki.

Katakanlah gadis itu bernama Mikaela. Dia adalah mantan pelaku self-harm yang memiliki sebuah blog di Tumblr tentang self-harm. Di salah satu post-nya, ia mengatakan, apabila ada yang membutuhkan teman curhat, dia akan ada di ujung laptop untuk mendengarkan.

Berdasarkan postingan itu, Kai pun memberanikan diri untuk mencari akun Skype Mikaela untuk memulai curhatannya tentang self-harm. Dengan penuh harap ia bisa mendapatkan keringanan atas depressinya, ia mengetik sebuah kata pemulai pembicaraan, “Hai“. Dan, tanpa sia-sia, Mikaela yang berada di ujung koneksi menjawab sapaan Kai yang singkat dan simpel.

Kemudian, Kai menceritakan bagaimana ia bisa mendapatkan ID Skype Mikaela dan mulai menceritakan tentang depressinya. Ia berusaha merubah perasaannya yang penuh luka menjadi rangkaian kata yang penuh duka. Matanya mulai berlinang air mata begitu menyadari betapa sulitnya mengutarakan perasaan sakit dalam bentuk kata-kata yang benar – tanpa makian di dalamnya.

Namun, belum sempat ia mengirim paragraf terakhir kepada Mikaela, gadis mantan self-harm itu langsung menjawab tanpa memikirkan perasaan lawan bicaranya. Kai yang terkejut atas hakiman Mikaela, langsung membela diri dan membenarkan bahasa yang ia tulis. Tetapi, Mikaela tetap berisikeras untuk menghakimi Kai.

Perdebatan terjadi sekitar sepuluh menit. Mikaela merasa Kai adalah seorang freak dan gadis itu bertingkah seolah-olah Kai adalah pengganggu ketenangannya. Kata-kata Mikaela membuat Kai semakin dibanjiri air mata karena sakit hati dan tingkat kepercayaan yang semakin minim. Dibacanya kalimat Mikaela berkali-kali hingga ia betul-betul tidak kuat dan Mikaela mem-block Kai dari akun Skype-nya.

Di dalam hati, Kai berkata, “Kau bilang kau janji akan mendengarkan. Tapi, kenapa kau bersikap seperti ini? Memang aku yang bodoh karena mempercayai orang sepertimu. Tetapi kau adalah pengkhianat yang melanggar janji sucimu“. Setelah kejadian itu, aku memasuki kamar Kai dan menemukan wajah tanpa emosinya yang sudah basah karena air mata. Ditatapnya wajahku dengan pandangan kosong.

Aku tau tatapan itu.. itu adalah tatapan kecewa mendalamnya.

Dua kali ia bertemu dengan pengkhianat janji suci. Dua kali ia bertemu manusia laknat yang dengan mudahnya mengumbar janji suci. Dua kali ia merasa perasaannya disayat tanpa rasa berdosa. Dua kali pula ia bertemu manusia busuk yang sombong.

.

Di depan laptopku aku berpikir. Janji adalah sebuah perkataan yang suci – apalagi untuk orang-orang seperti Kai. Aku teringat, sejak kapan aku menganggap sebuah janji adalah sesuatu yang suci. Aku teringat, bagaimana aku dengan hati-hatinya mengucap janji suci tersebut – untuk duduk dan mendengarkan mereka yang membutuhkan. Meski terkadang aku merasa tidak bisa menepati janji itu 100% karena aku juga manusia, aku tetap berusaha keras untuk menepatinya meski nyawa taruhannya.

Aku bersumpah suci kepada mereka yang membutuhkanku. Aku berjanji kepada mereka yang butuh didengarkan. Aku ada untuk mereka yang membutuhkan bahu untuk ditangisi. Aku adalah pilar untuk disandari. Aku adalah pondasi yang akan ada untuk mereka yang membutuhkanku. Aku adalah manusia sombong yang akan terus berusaha sombong demi mereka yang berusaha untuk hidup – mereka yang sedang bertarung hebat dengan setan bernama Depressi.

Sudah beberapa kali aku membuat orang terikat padaku karena janji suci yang kuusahakan untuk kutepati. Sudah berkali-kali aku diberi kepercayaan oleh mereka yang sulit untuk percaya. Sudah banyak yang bersandar padaku, sebuah pilar retak yang tetap berusaha berdiri kokoh.

Memang, aku tidak sempurna. Tetapi, aku akan terus berusaha untuk menjadi sempurna dengan ketidaksempurnaanku. Aku belajar dari pengalaman mereka yang tersakiti oleh janji manis. Aku mengambil banyak pelajaran dari mereka yang berkali-kali disakiti oleh manusia busuk nan sombong. Aku berusaha mendengar dengan keterbatasan yang kumiliki.

Aku adalah pilar. Pilar retak yang sombong. Pilar retak yang egois.

Aku tidak sempurna. Tapi aku ingin menjadi sempurna dengan ketidaksempurnaanku.

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s