PERHATIAN!!! Cerita ini tidak cocok dikonsumsi pembaca di bawah 18 tahun. Tapi kalau masih ingin baca ceritanya, silakan.

 .

Jonathan: Kisah Seorang Gigolo Muda

 .

Lesson 2: Cougar

.

.

by Kyle Nasution

Part 2

Pintu rumah yang terbuat dari kayu jadi itu terbuka lebar menyambut Jonathan. Seorang wanita paruh baya berpakaian lusuh menyambut kami dari balik pintu. Bibirnya menyungging senyum ramah, tapi wajahnya tertunduk menatap sepatu nyonya besarnya yang sedang berjalan masuk dengan anggun.

Nathan, dengan pengalaman sebagai seorang yang hidup seadanya, tercengang menatap rumah yang mewahnya tidak ketulungan. Kepalanya mendongak menatap lampu gantung berhiaskan kristal-kristal yang terbuat dari batu yang tidak ia kenali namanya. Kakinya menapaki selembar karpet berwarna senada dengan kayu.

“Silakan masuk, Nathan. Anggap saja rumah sendiri.”, ucap Mariana dengan anggun. Lalu, wajahnya kembali menghadap pada wanita paruh baya yang berdiri tidak jauh dari mereka, “Mbok, tolong sediakan minuman untuk Nathan. Saya ingin berganti pakaian dulu.” Kemudian, ia meninggalkan Nathan bersama wanita paruh baya yang bernama Mbok Siti.

“Mau minum apa, Mas?”, tanya Si Mbok dengan suara medok khas Jawa Tengah.

“Kopi hangat saja, Mbok. Jangan terlalu manis.”

“Baiklah. Silakan duduk dulu, Mas.”

Setelah itu, Mbok Siti pergi menuju dapur, meninggalkan Nathan dengan barang-barang antik yang dipajang rapi di dalam lemari-lemari kaca. Matanya tak henti-hentinya meneliti seluruh perabotan rumah yang terlihat sangat mewah. Lebih mewah dari rumah-rumah kliennya sebelumnya.

Tak begitu lama, Mbok Siti kembali menghampiri Nathan dengan secangkir kopi hangat di atas nampan. Setelah meletakannya di depan pemuda berwajah bersih itu, ia kembali meninggalkan Nathan dalam kesunyian ruang tamu yang besarnya lima kali lipat dari kamar kost-nya.

Tepat di seberang sofa ruang tamu, terdapat lemari pajang yang berisi foto-foto berbingkai kecil. Di dalam foto itu, Mariana tampak tersenyum bahagia dengan seorang pria berambut pirang. Nathan juga mengenali beberapa latar belakang di dalam foto-foto berukuran 4R tersebut. Paris, London, Dubai, dan landmark-landmark lainnya dari berbagai manca negara.

Di samping lemari tersebut, terdapat sebuah karya seni abstrak yang terbuat dari kayu berwarna cokelat muda. Hiasan ruang tamu orang kaya, batinnya.

“Kamu menyukainya?”, tanya Mariana, mengejutkan Nathan yang sedang asik menyentuh karya seni abstrak kayu tersebut.

Nathan spontan menoleh ke arah Mariana sembari tersenyum canggung, “Lumayan, Tante. Saya juga penggemar karya seni pahat kayu.”

“Karya ini dibelikan suami saya dari seorang seniman jalanan di Amsterdam dulu.”, jelasnya sembari mengelus tengkuknya yang terlihat pucat. “Bagaimana kalau kita lanjutkan saja percakapan ini di kamar saya?”

.

Di dalam ruangan gelap itu, Nathan melucuti daster satin milik Mariana dengan lembut sembari menciumi leher pucat miliknya. Tangan Nathan lincah bermain menelusuri tubuh Mariana yang masih langsing dan kencang. Kedua lengan wanita paruh baya itu melingkar di balik leher kokoh pemuda di hadapannya.

Nathan, boleh saya bertanya sesuatu?

Sembari mendorong pelan tubuh langsing kliennya, Nathan mengangguk sembari tersenyum tipis.

 

Mengapa kamu menjadi pekerja seks komersial? Padahal kamu pintar dan memiliki potensi untuk mengambil beasiswa.

Bibir tipis Nathan terus menciumi sekujur tubuh wanita cantik di bawahnya dengan lembut. Sebisa mungkin ia membuat klien cantiknya merasa spesial dengan sentuhan-sentuhan lembutnya.

 

Kamu pemuda yang tampan, mengapa tidak menjadi model saja? Saya bisa membantumu jika kamu mau.

Jemari-jemari pemuda berusia dua puluhan itu terus bermain dengan anggun pada setiap sudut tubuh Mariana. Ia masih terdiam, mendengarkan ucapan kliennya yang sudah mulai didominasi dengan desahan lembut.

 

Saya tau tentang kamu. Saya punya orang untuk mencari latar belakangmu. Dan saya rasa, kamu bisa menjadi lebih dari ini.

Nathan masih tidak menjawab ucapan-ucapan kliennya. Pemuda itu mulai memasuki puncak acara dari pekerjaannya. Sehingga apa yang mendominasi ruangan hanyalah desahan-desahan lembut nan manja.

Peluh mengaliri kedua tulang pipi Nathan yang kokoh. Desah nafasnya menderu, berusaha buas tetapi menahannya. Tangannya dengan kuat mencengkram pinggang Mariana yang masih kencang. Sesekali giginya menggigiti daerah bahu dan leher wanita di bawahnya dengan manja.

.

Keduanya terbaring lemas tanpa busana. Berbalut selimut lembut yang terbuat dari sutera. Peluh mengaliri tubuh keduanya. Deru nafas masih terdengar kencang – mencoba untuk mengaturnya dalam diam.

Tak lama kemudian, Mariana merangkak manja dan meletakkan kepalanya di atas dada kiri Nathan. Lengan kiri pemuda itu melingkari tubuh kliennya dengan lembut. Jemari kokohnya dengan lembut mengelusi lengan atas Mariana.

“Jadi, bagaimana menurutmu? Apa kamu akan menerima tawaran saya? Saya rasa, kamu akan lebih cocok jika berada di dalam sebuah iklan atau sampul majalah.”, ucap wanita itu dengan suara pelan.

Nathan terdiam memandangi langit-langit berukir bunga. Nafasnya masih terdengar keras meski sudah lebih stabil. Jakunnya bergerak seiring menelan ludah. Tak lama kemudian, ia menatap balik Mariana. Mata wanita paruh baya itu tampak khawatir dan penuh kasih sayang.

Jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Perasaannya campur aduk. Ia terus mencoba memasang wajah tanpa ekspresi meski jantungnya sudah hampir meledak ketika menatap wajah cantik kliennya.

Sekali lagi, Nathan menelan ludah. Tanpa sadar, bibirnya sudah bertaut dengan bibir tipis milik Mariana. Ciuman lembut nan hangat berbaur menjadi satu – membuat jantung Nathan berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Meski ada rasa takut, reaksi Mariana yang tidak menolak untuk dicium mampu membuatnya lebih tenang.

“Sebelum itu,” Nathan melepaskan ciumannya, “Apa Tante tidak takut jika suami Tante memergoki kita?”

Bibir tipisnya menyungging senyum rapat. “Tante juga berharap demikian – jika saja ia masih hidup.”

Jantung Nathan terasa berhenti.

TO BE CONTINUE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s