Anomali. Bisa dibilang, di keluarga ini, aku adalah anomali. Aku adalah anomali bagi keluarga karena keluar dari normal timeline. Normal timeline? Apa itu normal timeline? Normal timeline yang kumaksud adalah sebuah perjalanan hidup dimana dalam beberapa rentang waktu memiliki beberapa tahapan yang seharusnya sudah dilalui oleh keluarga ini. Lalu, apa maksudnya dengan anomali keluarga?

S__2891819

.

Bisa dibilang, jalur pendidikan yang kuambil sangat melenceng jauh dari ekspektasi orang-orang. Seharusnya pada usia segini, aku sudah diwisuda atau mungkin sudah bekerja pada sebuah perusahaan berdasarkan backgroundku sebagai seorang anak Fakultas Ekonomi. Tapi pada nyatanya, aku masih berada di sini, sebagai mahasiswa, dan masih santai dengan rentang hidupku yang terbilang tidak normal bagi kebanyakan orang. Dan jujur saja, aku tidak memiliki kekhawatiran akan ‘ditinggal pergi’ oleh teman-teman seusiaku karena aku tau, hal ini bukanlah hal yang memalukan.

Bagi sebagian orang, hidup normal adalah menempuh pendidikan SD selama 6 tahun, pendidikan SMP dan SMA 3 tahun dalam masing-masing tahapan, dan kuliah maksimal 4 tahun. Setelah itu, mereka akan diwisuda dan melamar kerja, memiliki penghasilan sendiri dan hidup mandiri dengan uang hasil keringat sendiri.

Sementara itu, aku di sini masih menempuh pendidikan perguruan tinggi. Bahkan, aku belum mencapai titik akhir dari pendidikan ini. Dan orang-orang tercengang melihat betapa santainya diriku menjalani hal ini. Banyak gosip dan omongan tidak menyenangkan yang kudengar dari mereka yang telah melalui rentang waktu normal. Seperti salah satunya, “Anak tidak tau diuntung. Sudah dibiayai, bukannya bersyukur“.

Kesal? Jelas saja. Siapa yang tidak kesal mendengar itu dari mulut seseorang yang bahkan tidak melihat perjuangan hidup kita? Tapi, apa daya, mereka hanya orang-orang yang tidak tau. Ignorant. Berbicara tanpa menelaah lebih detil terlebih dahulu. Mencap gagal hanya karena aku melenceng dari rentang waktu normal.

.

Hidupku mungkin tidak bisa dibilang normal. Untuk sebagian pembacaku yang berasal dari Ask.fm mungkin mengerti apa yang sedang kubicarakan. Fenomena seperti ini tidak umum ditemukan di Indonesia. Sudah jiwa tidak normal, rentang waktu pendidikanku juga melenceng dari ekspektasi orang-orang kebanyakan. Sehingga aku banyak mendapat cibiran dan ucapan-ucapan yang melecehkan. Padahal mereka tidak tau apa saja yang sudah kualami. Tapi, seperti yang sudah kukatakan tadi, mereka hanya ignorant, tidak perlu dipikirkan sebegitunya sampai mengganggu hidupmu. Anggap saja mereka angin lalu atau remah kacang di kolong kasur atau debu jalanan yang terbang tak menentu.

Aku merasa apa yang menghalangiku untuk mengikuti rentang waktu normal pendidikan adalah hutang yang belum terbayar. Ada sesuatu yang ingin sekali kukejar, tetapi belum kudapatkan. Sehingga, rasa penasaran itu merajalela di kepalaku dan menghalangiku dari melakukan aktivitas normalku. Pikiran dimana ‘aku seharusnya sudah berada di sana’ mengganggu konsentrasiku dalam mengikuti rentang waktu normal.

Lalu, apa yang sebenarnya kau inginkan, Kyle?

Aku hanya ingin fokus menulis. Aku ingin menjadi penulis handal dan professional. Aku ingin mengembangkan bakatku dalam menulis. Aku tidak peduli jika aku tak bergelar, aku hanya ingin menjadi penulis. Dan, memang, ambisiku yang satu ini sangat bertolak belakang dengan pendidikanku. Pendidikanku terganggu karena aku merasa masih memiliki hutang pada diriku sendiri, dan ambisiku terhalang oleh tanggungjawabku sebagai seorang mahasiswa yang sudah dikuliahkan mahal-mahal.

Akhirnya, aku hanya berputar-putar di dalam area yang sama. Apa yang kulakukan semacam bermain di dalam lingkaran setan – tidak ada habisnya dan tidak ada jalan keluarnya. Atau setidaknya, kupikir aku tidak memiliki jalan keluar, sampai aku menyadari kalau aku selalu mendapatkan apa yang kuinginkan. Meski aku harus mengorbankan waktu dua tahun untuk mendapatkan apa yang kuinginkan, tapi minimal, aku mendapatkan apa yang kuinginkan sekarang beserta orang-orang yang akan menyetujuinya.

.

Di beberapa postingan sebelumnya, aku sudah mengatakan kalau aku akan berhenti kuliah. Tapi kurasa, tindakan itu terlalu ekstrim untuk dilakukan. Untuk ukuran coba-coba, minimal aku hanya mengambil cuti untuk melihat apa rencanaku akan berhasil – hanya untuk melihat apa ini yang sebenarnya kubutuhkan dan kuinginkan.

Sampai tadi siang, aku masih ragu tentang rencanaku untuk cuti karena aku merasa aku harus segera menyelesaikan pendidikanku. Aku masih merasa bertanggungjawab dalam menyelesaikannya. Namun, sebuah suara muncul di kepalaku yang membuatku menjadi bersemangat dan commit: “Kalau menginginkan sesuatu, ya kita harus nekat“.

Ya, itulah apa yang kulupakan. Selama ini, aku hanya bermain aman di zona nyamanku. Sehingga, aku menjadi semakin jauh dari visiku. Seharusnya aku nekat untuk mengejar ambisiku. Kalau memang itu apa yang kuinginkan, harusnya aku nekat mengejarnya sampai dapat – seperti apa yang selalu kulakukan, seperti peraturan untuk diriku sendiri; aku tidak akan berhenti sebelum ada perintah untuk berhenti mengejar. Selama aku menginginkan sesuatu, aku akan mengejarnya sampai mati.

.

Mengejar ambisi sampai mati. Haha, terdengar bodoh ya? Memang orang-orang seperti kami terdengar bodoh ketika berbicara, tetapi akan mencengangkan ketika kebodohan kami benar-benar menghasilkan sesuatu.

Kami adalah pengejar mimpi. Orang yang dianggap bodoh karena tidak melihat realita. Padahal sebenarnya, merekalah yang bodoh karena tidak menggunakan kesempatan yang ada untuk mengejar mimpi yang sesungguhnya. Ditundukkan oleh sistem dan norma umum.

Kami adalah orang bodoh yang beruntung. Beruntung karena diberi tingkat kenekatan di atas rata-rata. Kami adalah anomali.

.

Ciao!

One thought on “Anomali

  1. Saya juga sedang merasakan ‘anomali’, disaat teman-teman angkatan wisuda, saya malah masih berkubang di pikiran sinting sendiri. Hal yg menyedihkan adalah seperti nggak punya impian, nggak punya ambisi apa-apa. Rasanya cuma ingin restart

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s