Akhir-akhir ini aku sering mendapatkan pertanyaan dari orang-orang yang peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain. Mereka bertanya padaku bagaimana caranya survive dari orang-orang yang sangat judgemental, bagaimana caranya untuk menjadi pribadi yang sesuai dengan yang orang-orang suka, bagaimana caranya memenuhi ekspektasi orang yang tak akan ada habisnya. Jujur, aku sendiri nggak tau bagaimana caranya memenuhi ekspektasi orang-orang. Tapi, aku memiliki cara sendiri agar survive dari orang-orang yang sangat judgemental sedikitpun.

Untuk orang-orang yang sudah mengenalku sejak lama, mereka pasti tau kepribadianku seperti apa. Aku adalah orang yang sangat amat tidak peduli tentang apa yang orang lain pikirkan tentangku selama aku tidak merugikan mereka. Aku adalah orang yang begitu mengetahui seluk-beluk diriku sendiri dan sangat percaya pada diriku sendiri bahwa aku adalah orang yang bisa melampaui ekspektasi orang-orang. Jadi, mungkin jawabanku atas pertanyaan-pertanyaan itu adalah ‘jangan dipedulikan’.

.

Ekspektasi orang tidak akan ada habisnya. Dari satu level, ke level lain. Begitu kau sudah memenuhi satu ekspektasi mereka, maka mereka akan membuat ekspektasi baru dan berharap untuk dipenuhi kembali. Orang-orang selalu berharap orang lain dapat menyenangkan mereka dengan cara yang mereka suka. Dan ketika ekspektasi dan hati mereka tidak terpuaskan, mereka akan mencerca atau mengatakan hal-hal negatif, atau mungkin sampai menyindir kelemahan kita yang tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka.

Kalau kita hidup hanya untuk memenuhi ekspektasi orang-orang, umur kita akan habis hanya untuk mengejar ambisi kosong. Hidup hanya sekali, itupun sangat singkat. Aku tidak mau menghabiskan hidupku untuk menyenangkan orang-orang dengan cara yang mereka suka. Kalau mereka mau disenangkan, aku akan menyenangkan mereka dengan caraku sendiri. Suka atau tidak, terserah.. yang penting aku sudah berusaha.

Hidup memiliki makna yang lebih dalam dari sekedar memenuhi ekspektasi orang lain.. termasuk orang tua. Manusia diciptakan berbeda-beda dan kita sama sekali tidak memiliki kewajiban untuk menyenangkan orang lain dengan cara yang orang lain suka. Kita hanya perlu berusaha menyenangkan mereka, tapi tidak disebutkan bahwa kita wajib memenuhi ekspektasi orang lain. Sehingga, yang kuanut adalah sistem dimana aku akan menyenangkan mereka dengan caraku sendiri karena aku lebih nyaman dengan cara demikian.

Apa yang kukejar adalah win-win solution. Keadaan dimana aku senang, dan orang yang kusayang juga senang. Aku akan berusaha menyenangkan mereka dengan melakukan yang terbaik untuk mereka, and wish nothing more than that. Sehingga, terkadang perilakuku sering menyakiti mereka di awal, tetapi mereka akan merasakan manfaat baiknya di akhir. Tidak jarang orang yang membenciku karena mengatakan aku terlalu keras. Dan aku tidak peduli dengan apa yang mereka katakan. Karena memang seperti itulah diriku. Terima atau tidak, itu urusan kalian, bukan urusanku. Silakan lakukan protes, kalau aku tidak merasa telah merugikan kalian, aku tidak akan meminta maaf.

.

Memang, susah untuk menjadi seperti aku. Karena, untuk menjadi seperti aku, kalian harus melalui tahap dimana kalian mengenal diri kalian sendiri terlebih dahulu. Kalian harus mengetahui diri kalian secara mendetil, bukan hanya apa yang menjadi kelemahan dan kelebihan kalian saja. Kalian harus mengenal diri kalian secara menyeluruh, termasuk apa yang kalian inginkan, apa tujuan kalian hidup, siapa diri kalian, dimana posisi kalian di lingkungan sosial, deskripsi diri kalian dalam satu kata, bagaimana watak kalian, bagaimana diri kalian saat menghadapi suatu masalah, dan lain-lain. Untuk mengetahui semua itu, kalian harus rajin merenung, memikirkan apa yang sudah terjadi pada diri kalian dan memaafkan apapun yang sudah terjadi di masa lampau. Intinya, ketika kalian merenung, kalian sedang membuka halaman baru dalam hidup kalian.

Banyak orang yang kutanya, mereka bilang mereka sudah tau siapa diri kalian. Tapi apa yang kulihat, nyatanya mereka belum begitu mengetahui seluk-beluk diri mereka sendiri. Bagaimana aku bisa tau? Karena aku masih bisa mengatakan kalau mereka naif. Mereka idealis tanpa ada pikiran realistis. Mengejar keadilan yang mereka tau secara umum, bukan apa yang mereka mengerti.

Mengetahui berbeda dengan mengerti. Mungkin kalian mengetahui diri kalian, tetapi kalian belum cukup mengerti. Mengerti apa? Mengerti bagaimana sistem diri kalian bekerja. Aku masih bisa melihat bagaimana mereka masih bingung terhadap hal-hal yang terjadi dengan diri mereka. Selama kalian belum mengerti bagaimana diri kalian, kalian tidak akan bisa menyelesaikan masalah kalian secara maksimal. Yang terjadi hanyalah lingkaran setan yang tak ada habisnya.

.

Udah, segitu aja yang mau kutulis. Fokus terpecah, langsung bingung mau nulis apa lagi.

Ciao!

3 thoughts on “Diriku

  1. sippoo! šŸ˜€ kita gak bisa menyenangkan hati setiap orang. Suasana hati setiap orang itu tanggung jawab mrk sendiri…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s