PERHATIAN!!! Cerita ini tidak cocok dikonsumsi pembaca di bawah 18 tahun. Tapi kalau masih ingin baca ceritanya, silakan.

 .

Jonathan: Kisah Seorang Gigolo Muda

 .

Lesson 2: Cougar

.

.

by Kyle Nasution

Part 3

Suara musik sensual mengalun halus dari setero tua milik Mariana. Jonathan masih tertidur di sampingnya, di bawah selimut, tanpa busana. Wanita paruh baya yang cantik itu menatap wajah pekerja pesanannya. Dengan lembut, ia mengelus wajah pucat Nathan dengan punggung jemari-jemari lentiknya. Tatapannya tak lepas dari bibir tipis kemerahan milik pemuda itu – sepasang bibir yang pernah menciumnya dengan lembut – mengingatkannya kembali pada cinta lama yang sudah mati.

Jonathan terbangun karena mendengar suara deru mesin motor yang kencangnya memekakkan telinga. Ia tidak terkejut begitu mendapati Mariana sedang mengelusi bibir tipis miliknya. Sebagai pekerja yang baik, ia hanya tersenyum tipis dan mendekatkan wajahnya pada wanita cantik di sebelahnya, “Ada apa, Tante?”, tanyanya dalam suara parau.

Mariana hanya tersenyum tipis tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Nathan yang baru saja bangun. “Tidak ada apa-apa. Saya hanya ingin memandangimu yang sedang tertidur.”, jawabnya dengan suara lembut.

“Ah, maafkan aku, Tante. Seharusnya aku menemani Tante. Hahahaha..”, ia tertawa canggung. Jonathan langsung mengusap-usap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, lalu membenahi posisi tidurnya. Ditatapnya wajah Mariana dalam remang lampu kamar klien jelitanya. “Mengapa Tante menangis?”, tanyanya polos begitu ia mendapati mata kliennya mulai berkaca-kaca.

Dengan segera, Mariana mengusap matanya sembari tersenyum pilu. Matanya tak lepas dari pemuda yang berada di hadapannya. Dengan suara parau, ia berkata, “Maukah kamu menemani saya sebentar lagi? Hanya untuk mendengarkan saya bercerita.”

Tanpa pikir panjang, pemuda itu mengangguk. Tak tega untuk menolak permintaan klien cantiknya yang tampak kesepian.

Wanita paruh baya nan jelita itu bangkit dan duduk bersandar pada tumpukan bantal. Tangannya tak lepas dari selimut yang menutupi dadanya. Sesekali ia menghela nafas dalam keputus-asaan. Pikirannya dipenuhi potongan-potongan ingatan dari masa lalu. Matanya kembali berkaca-kaca.

Jonatahn hanya menunggu dengan sabar sampai Mariana siap menceritakan apa yang terjadi padanya. Tatapannya penuh perhatian terhadap kliennya. Ia tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Perasaan berdebar-debar dan khawatir pada kliennya.

Setelah menarik nafas beberapa kali, Mariana memberanikan diri untuk membuka mulut, “Dulu saya mencintai seorang pria ketika saya bersekolah di Liverpool. Dia adalah seorang pria yang baik dan tampan. Kami saling mencintai. Pada masa kuliah, kami menghabiskan waktu bersama untuk belajar sampai kami lulus dengan nilai memuaskan dari sekolah kedokteran.”, Mariana memberi jeda, “Kami akhirnya menjadi dokter bersama-sama, membuka praktik di Liverpool bersama-sama, dan menghabiskan waktu kami bersama-sama sampai kami menikah. Kami senang, sampai akhirnya…”, cerita wanita berusia lima puluhan itu terhenti karena ia harus menahan air mata yang sudah terbendung sejak ia memulai ceritanya.

Dengan lembut, Nathan mengelus rambut indah milik Mariana untuk menguatkannya. Pandangannya tak lepas dari wajah Mariana yang mulai memerah karena menahan tangis. Mulutnya tertutup rapat, berusaha untuk tidak merusak momen.

Perempuan berwajah blasteran itu akhirnya melanjutkan ceritanya lagi, “Sampai akhirnya kami memutuskan untuk mempunyai seorang anak. Kami mencoba, dan mencoba, dan mencoba, tapi tidak ada hasil. Setelah kami periksa, ternyata saya tidak bisa memiliki anak. Saya tidak bisa memberikan keturunan untuknya. Meski ia bilang ia tetap mencintai saya apa adanya, tetap saya merasa bersalah hingga saat ini. Memiliki anak selalu ada di dalam rencana hidupnya. Saya tau, mengetahui bahwa saya tidak bisa memiliki anak adalah pukulan besar untuknya dan itu membuat saya merasa sangat bersalah hingga saat ini. Saya merasa telah berhutang padanya. Padahal dia mencintai saya, tetapi saya tidak bisa mewujudkan satu mimpi yang selalu ia damba-dambakan sejak kami memutuskan untuk menjalin hubungan serius.”, Mariana mengakhiri ceritanya dengan isak tangis pilu. Tubuhnya bergetar hebat akibat perih batin yang tak tertahankan.

Melihat seorang wanita menangis di hadapannya, Nathan spontan mendekatkan tubuhnya dan memeluk wanita tangguh nan rapuh tersebut. Ia tau, apapun yang ia katakan hanya akan membuat wanita cantik itu semakin menangis. Oleh karena itu, Nathan memilih untuk bungkam.

“Ia hidup dalam kesepian tanpa anak.. hingga akhirnya ia meningga dua tahun lalu karena sakit keras.”, Isak tangis pilu Mariana semakin menjadi-jadi. Potongan ingatan dan gambaran wajah almarhum suaminya terus menghantui kepalanya. Nafasnya terisak-isak, berusaha menahan tangis sembari mengatur nafas.

Tanpa sadar, Nathan mendaratkan sepasang bibir tipisnya pada bibir lembut Mariana. Bibir mereka bertaut, mengikuti irama musik sensual yang masih mengalun – membara seperti kobaran api. Jantung keduanya berdegup kencang. Begitu kencang sampai-sampai mereka sendiri merasa canggung – takut orang di hadapannya tau.

Ciuman Nathan berhenti seiring habisnya alunan musik. Deru nafas keduanya mendominasi kesunyian kamar remang milik Mariana. Degup jantung mereka mengalun seperti tabuhan drum yang tak ada hentinya. Kedua mata mereka saling bertemu, saling mempertanyaan perasaan yang mereka miliki saat ini. Sesekali mereka menelan ludah sembari menghapus keringat yang mulai membasahi kening.

“Uuh, aku harus segera pergi.”, buru-buru Nathan keluar dari dalam selimut dan mengambil potongan-potongan pakaiannya yang tersebar di seluruh lantai kamar. Matanya kosong, hilang di dalam benak, memikirkan arti dari ciuman yang baru saja ia berikan kepada kliennya.

“Tunggu, Nathan!”, seru Mariana berusaha menghentikan Nathan. “Kamu belum menjawab pertanyaan saya tadi. Kenapa kamu memilih untuk menjadi gigolo? Dengan latar belakang kamu yang seperti itu.. siapa kamu sebenarnya?”

Jonathan hanya melontarkan sebuah senyuman tipis. Tanpa pikir panjang, ia menjawab, “Saya hanya seorang pekerja seks komersial biasa, Tante.”, lalu pergi meninggalkan Mariana yang masih terbaring tanpa busana.

-Fin-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s