Passion. Aku selalu bingung ketika mereka bertanya, “Apakah passion-mu?”. Seiring mereka menyadari kalau aku salah jurusan kuliah, seiring mereka mendengar kalau aku mau cuti kuliah, mereka semua mulai bertanya-tanya apa yang akan kulakukan ketika cuti kuliah.. mereka juga bertanya apa yang menjadi passionku sehingga aku bisa mengatakan kalau aku salah jurusan. Pertanyaan itu terus menghantui sampai akhirnya beberapa hari yang lalu aku menemukan sesuatu yang bisa menenangkan pikiranku.

Memang, aku bukanlah anak yang seambisius teman-temanku di Akuntansi yang selalu mengejar IPS tertinggi agar bisa mengambil kredit sebanyak-banyaknya di semester depan, atau mengejar IPK tertinggi supaya direkrut di perusahaan-perusahaan The Big Four (kantor akuntan publik ternama seperti EY, PWH, atau Deloitte). Aku bukan seperti mereka yang mengejar karir di kantor akuntan publik sesuai jurusan. Bisa terbilang, aku akan menyeberang jurusan seperti yang sudah kulakukan sebelum-sebelumnya; dari IPA masuk Akuntansi, dari Akuntansi (rencananya) masuk Komunikasi atau perfilman.

Awalnya kupikir, minatku berada pada perfilman atau pembuatan film. Aku sampai terpikir untuk mengikuti proyek-proyek kecil pembuatan film oleh amatir. Tapi, setelah kupikir-pikir, aku merasa tidak nyaman sendiri meskipun hal itu hanya berada di dalam imajinasiku. Saat itu pula aku menyadari kalau passionku bukanlah di pembuatan film atau sekedar terjun ke dalam proyek-proyek kecil yang biasa kulakukan selama ini.

Setelah itu, aku kembali mengkhayal, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan mereka yang terus menghantui. Aku mencoba segala hal yang pernah kulakukan, hanya untuk mencari jawaban.. hanya untuk mencari apa yang bisa membuatku nyaman. Mulai dari mendesign ini-itu, menjadi project leader sebuah majalah kampus, menggambar sketsa, memantau saham dan dollar di Bloomberg TV, dan lain sebagainya. Tapi, tak ada satupun yang bisa membuatku tenang atau kurasa dapat kunikmati dalam waktu lama. Hingga akhirnya aku menjadi kalut sendiri dan aku menjalankan self-therapy-ku; yaitu menulis menggunakan pena.

.

Perlu kuakui, aku adalah tipikal orang yang sangat energik dan agresif. Aku selalu ingin bergerak, berpikir, dan menghasilkan sesuatu. Aku mulai menyalurkan energiku yang begitu berlimpah pada berbagai macam kegiatan. Seiring itu, ide-ide menulispun menumpuk di kepalaku karena aku sampai tidak punya waktu untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan. Meskipun mendapat waktu, hanya mengetiknya di komputer; sesuatu yang bisa kulakukan dalam waktu 15-30 menit.

Akupun mulai berpikir; energiku begitu banyak, aku mengeluarkannya secara random atau acak, sehingga pikiranku kalut ibarat benang kusut, dan ketika kalut, aku menjadi stress sendiri karena tidak terorganisir. Lalu aku mencoba untuk menyalurkan energiku yang banyak ini sedikit-sedikit, tapi pasti. Segala hal kucoba, sampai akhirnya aku menemukan bahwa menulis dengan cara tradisional (menggunakan pena atau mesin tik) adalah jawabannya.

Dengan menulis menggunakan pena atau mesin tik, aku jadi menikmati proses. Aku menikmati kalori demi kalori yang terbuang saat menulis dan berpikir. Hingga akhirnya, aku juga menemukan bahwa menulis dengan tangan mampu menjadi self-therapy-ku karena bisa membuatku lebih tenang. Menulis dengan tangan bisa melatih kesabaranku, kehati-hatianku dalam mengambil keputusan, dan sifat-sifat agresifku yang lain. Dan juga, tanpa sadar, aku menemukan bahwa menulis adalah passionku.

Ya, menulis dalam bentuk apa saja. Entah itu menulis blog seperti saat ini, menulis cerpen seperti Jonathan, menulis diary di buku tulisku, atau menulis kaligrafi. Semuanya membuatku tenang dan sangat kunikmati prosesnya. Terutama menulis kaligrafi atau menulis diary di buku tulis. Kedua kegiatan itu mampu membuatku tenang dan sampai lupa waktu.

.

Selain menulis, ada yang selalu kuinginkan dari aku kecil: aku selalu ingin menjadi tenaga pengajar. Entah kenapa, mengajar selalu menjadi impianku sejak dulu. Mungkin karena di masa kecil aku mengidolakan banyak guruku, salah satunya adalah guru Fisikaku ketika SMA. Beliau berjiwa muda dan sangat dekat dengan murid-muridnya. Dia selalu menjadi teman curhat dan selalu menjadi guru favorit murid-murid dari kelas baik IPA maupun IPS.

Aku ingin jadi seperti beliau. Aku ingin mengajar dan ingin dekat dengan murid-muridku. Mungkin alasannya, selain karena aku mengidolakan beliau, karena aku melihat sistem pendidikan di Indonesia membuat para murid menjadi stress. Aku ingin menjadi tempat pelarian mereka ketika mereka sudah mulai penat dengan segala rutinitas sekolah mereka. Aku ingin mereka berbagi cerita padaku seperti seorang guru konseling. Dan juga, mungkin menulis dan mengajar hubungannya sangatlah dekat. Rata-rata pengajar pasti menulis dan penulis pasti mengajar.

Tetapi, dengan backgroundku yang accounting, mungkin aku akan disuruh mengajar accounting. Sementara aku tidak begitu menikmati segala proses tentang accounting sehingga aku tidak terlalu tau soal seluk-beluk accounting. Kalau seperti itu, mungkin muridku yang lebih pintar daripada aku.

Oleh karena background akademisku yang tidak jelas (berhubung aku mendalami hampir semua bidang ilmu), jadi aku harus memfokuskan bidang akademisku pada satu subjek saja: yaitu bahasa Prancis. Mengapa? Karena kudengar menjadi guru bahasa Prancis di IFI syaratnya tidaklah sulit. Yang penting sudah melewati level B1 atau B2, maka aku bisa mengajar di sana. Untuk syarat lain, aku tidak begitu tau.. semoga saja tidak diwajibkan menjadi lulusan S1 seperti pekerjaan-pekerjaan lain. Hahahaha

Aku ingin sekali mengajar sambil menulis. Dengan mengajar, aku akan mendapatkan banyak pengalaman, dan banyak cerita-cerita unik dari murid-murid atau teman-teman pengajarku yang lain. Sebenarnya, aku mengajar apapun bisa. Tetapi aku harus menjadikan satu subjek yang menjadi fokus utamaku. Dan yang paling realistis untuk saat ini adalah menjadi tenaga pengajar bahasa Prancis karena tidak memiliki syarat yang terlalu sulit.

.

Yaa, semoga saja cutiku bermanfaat. Dengan cuti, minimal aku sudah menerbitkan satu buku dan selesai dua-tiga level bahasa Prancisku. Semoga tanpa S1 pun, aku bisa membahagiakan diriku dan orang-orang di sekitarku. Semoga dengan menjadi anomali keluarga, aku bisa menginspirasi adik-adik kecilku untuk tidak terlalu memaksakan diri untuk menjadi pribadi yang sesuai dengan persepsi umum.

Semoga, dengan begini, aku bisa merasa lebih bangga pada diriku sendiri daripada saat kuliah 4 tahun dan kerja puluhan tahun di perusahaan-perusahaan ternama. Semoga dengan begini, aku lebih banyak membawa manfaat untuk orang-orang di sekitarku dibanding membawa manfaat untuk diriku sendiri semata.

Aku ingin hidup untuk menulis dan mengajar, serta mengajar dan menulis untuk hidup.

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s