Jadi, aku udah cukup lama bermain Ask.FM. Mungkin, sekitar satu tahun yang lalu aku membuat akun itu dan mulai benar-benar aktif sekitar pertengahan 2014 kemarin. Awalnya aku nggak menemukan kesenangan bermain Ask.FM. Toh, nggak ada yang nanya ke aku, jadi aku mau jawab apa? Toh, kalau nggak jawab apa-apa, siapa yang bisa tau tentang akunku? Kalau nggak ada yang tau akunku, siapa yang mau tanya? Dan begitu seterusnya.

.

Sekitar pertengahan 2014 lalu aku mulai menemukan asiknya bermain Ask.FM karena akhirnya ada beberapa orang yang nanya ke aku. Dari jawaban pertanyaan-pertanyaan itu, aku mendapat likes dan akhirnya akunku menjadi noticeable. Seiring banyaknya orang yang mengetahui akunku, akupun mulai dapat pertanyaan beruntut. Mulai dari yang ingin melihat fotoku, sampai hal-hal simpel yang sekedar menanyakan kabar.

Melihat perkembangan Ask.FM di kalangan remaja dan young adult, aku jadi terpikir untuk membuat observasi kecil-kecilan. Aku mulai mencoba untuk memasuki lingkaran kalangan SelebAsk yang notabene adalah kalangan populer di Ask.FM. Yaah, meski ibaratnya aku adalah the least popular guy there, para SelebAsk ini lumayan mengetahui keberadaan akunku. Akupun mulai menjalankan research kecil-kecilan sambil memantau perkembangan mereka.

Research yang kulakukan hanyalah sebatas psikososial. Tentang bagaimana sebuah trend terbentuk, bagaimana psikologis mereka ketika berhadapan dengan anon-anon yang rese, dan lain-lain. Aku melihat berbagai macam respon terhadap para anon sehingga aku membaginya menjadi beberapa kategori. Kategori Fun-Intelligent: orang yang menjawab maki-makian anon dengan candaan yang cerdas dan nggak dibawa serius; kategori Intelligent: orang yang menjawab maki-makian anon dengan cerdas dan serius; kategori Fun: orang yang menjawab maki-makian anon dengan candaan (nggak spesifik ke candaan cerdas); dan kategori Stupid: orang yang membawa serius maki-makian anon atau orang yang terpancing amarahnya ketika dimaki anon.

Untuk bagaimana sebuah trend terbentuk, aku melihat berbagai macam cara. Ada yang dimulai dari candaan dan ada yang dimulai dengan serius. Yang berupa candaan, yang dianggap lucu, menjamur dengan cepat.. hanya dalam hitungan menit, candaan itu tersebar luas ke seluruh kalangan pengguna Ask.FM di Indonesia. Ada pula yang dimulai dengan serius, seperti Belajar Bareng yang tujuannya untuk mengedukasi para anon yang memang ingin mendapatkan ilmu yang nggak mereka dapatkan di sekolah atau kampus.

.

Kalangan SelebAskpun terbagi menjadi beberapa kubu. Sampai saat ini aku belum bisa memberi nama kubu-kubu tersebut karena memang kubu itu terbentuk berdasarkan lingkaran pertemanan saja. Sama seperti ketika kita datang ke sekolah dan melihat beberapa kawanan anak-anak yang terlihat akrab. Lalu, aku berada di mana? Aku berada di kubu yang berisi Cathy, Maruti, Palka, Adit, dan Zara. Memang, aku nggak terlalu akrab dengan setiap orang dari kubu tersebut karena kubu ini terbagi-bagi lagi menjadi beberapa bagian kecil yang terdiri dari 2-4 orang. Tapi, begitulah kira-kira gambarannya.

Setiap kubu, kulihat, memiliki peranan masing-masing. Ada kubu yang memang populer-populer saja karena lucu, ada kubu yang populer karena mereka pintar, ada kubu yang populer karena menjadi trend-setter, dan ada kubu yang doesnt give a fuck (seperti kubuku). Mereka semua memiliki peranan tersendiri yang cukup berpengaruh di kalangan para dedek-dedek gemash.

.

Secara pribadi, Ask.FM memberiku ladang tersendiri untuk mencari teman baru. Sampai saat ini, cukup banyak teman yang kudapatkan dibandingkan tahun 2013. Ada teman yang sekedar kenal dan ada teman yang memang betul-betul akrab seperti Cathy dan Maruti. Selain dari kalangan seleb, aku juga mendapatkan teman dari para followersku yang memang ingin mengenalku lebih jauh. Mereka semua kuterima dengan tangan terbuka karena memang tujuan awalku masuk Ask.FM adalah untuk menambah network.

Karena pengguna Ask.FM rata-rata adalah anak SMA sampai kuliah, jadi tidak aneh kalau aku memiliki teman yang usianya jauh di bawahku. Biasanya yang usianya jauh di bawahku adalah mereka yang menjadi anon-anon setiaku. Mereka menganggapku abang, dan aku menganggap mereka sebagai adik. Alhamdulillahnya, mereka senang berteman denganku dan nggak melihat adanya perbedaan antara aku yang online dan offline. Dalam artian, aku nggak memalsukan kepribadianku di internet. Aku yang ada di internet adalah aku apa adanya di dunia nyata. Bedanya hanya, kalau di dunia nyata, kalian bisa melihat wajahku dalam bentuk HD. Hahahaha..

Aku cukup bersyukur bisa menemukan banyak teman meskipun usianya jauh berada di bawahku. Meski mereka jauh berada di bawahku, aku bisa melihat mereka tidak bodoh. Kebanyakan dari mereka sangat talented dalam beberapa bidang. Ada pula di antara mereka yang seorang designer freelance yang sudah punya penghasilan sendiri.

Sebagai yang lebih tua, jujur, aku banyak belajar dari mereka. Usia ternyata tidak mengartikan bahwa kita lebih berpengalaman. Meski muda, mereka bisa jadi jauh lebih berpengalaman dariku. Mereka yang datang dari berbagai macam background juga memberiku warna baru dalam ilmu dan hal-hal yang bisa kujadikan untuk bahan blog. Cerita-cerita dan latar belakang mereka yang bermacam-macam dan unik juga bisa kujadikan bahan studi kecil-kecilanku sebagai therapist jejadian. Cukup menarik.

.

Kurasa, segitu dulu yang bisa kutulis. Maaf jika ada salah kata, salah pengejaan, dan salah edit. Terima kasih sudah membaca.

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s