Apa itu orang tua gagal? Mengapa seseorang bisa dibilang sebagai seorang orang tua gagal? Bagaimana seseorang bisa menjudge dua pasang kekasih sebagai pasangan orang tua gagal? Apa karena perilaku anaknya? Apa karena prestasi anaknya? Atau ada aspek lain yang menentukan seseorang sebagai orang tua yang gagal dalam mengurus anak?

Banyak aku melihat teman-temanku yang sedikit down karena orang lain mencap orang tuanya sebagai orang tua yang gagal mendidik anaknya. Kenapa bisa dikatakan demikian, biasanya hanya karena hal-hal yang kasat mata. Contohnya, anak-anak yang merokok, yang suka keluar malam, atau yang suka berpakaian terbuka. Selain itu pula, anak-anak penganut paham liberal juga dicap gagal oleh mereka yang berpikiran radikal. Salah satu orang tua yang mendapat cap seperti itu mungkin adalah orang tuaku. Apa yang orang lain lihat adalah aku perokok, aku suka main di luar, dan aku yang berpikiran terbuka dan terlalu biasa dengan hal-hal di luar norma umum.

Kalau boleh jujur, sebenarnya orang tuaku bukan orang tua yang gagal. Aku justru senang memiliki orang tua seperti mereka yang membolehkan aku merokok dan memberikanku kepercayaan penuh atas apa yang kulakukan. Meski terkadang ibuku sering bilang untuk jangan lupa mengikuti norma umum agar tidak sakit hati mendengar cacian publik, aku tetap bangga memiliki orang tua seperti mereka.

.

Sebenarnya, dibilang aku terlalu bebas juga tidak. Aku masih punya tanggung jawab yang harus kupenuhi. Meski aku sering bermain di luar, aku selalu memasang batasan untuk diriku sendiri – seperti mengatur jam malamku (aku harus sudah ada di rumah sebelum pukul 9 atau 10 malam). Kalau merokok, aku hanya merokok di tempat-tempat yang memang dibolehkan merokok, bukan di sembarang tempat. Dan pikiran terbukaku ada untuk diriku sendiri. Aku bukan tipikal orang yang menutup pikiranku dari hal-hal di luar akal sehat karena aku tau, di luar sana, ada hal-hal yang jauh melampaui imajinasi seorang manusia.

Terkadang, pikiran liberalku disalahartikan oleh orang-orang radikal. Mereka pikir, aku berada di luar norma agama dan norma umum. Mereka pikir, aku tidak dididik oleh orang tuaku tentang norma agama. Padahal, aku sudah khatam soal agama dari depan hingga belakang. Aku mengerti betul apa yang agama larang dan perbolehkan. Berbeda dengan orang-orang radikal yang hanya mengartikan norma agama secara harafiah tanpa ada keinginan untuk menelaahnya secara logis terlebih dahulu. Dalam bahasa lain, menelan norma mentah-mentah.

Karena aku orang yang kritis pula, orang tuaku dicap gagal dan dianggap tidak mengajarkan agama. Kalau boleh aku berkata, orang tuaku justru bukan tipikal orang yang memaksa aku harus berada di dalam satu box dengan label tertentu. Meski terkadang sikap mereka sedikit memaksa karena takut aku kenapa-kenapa, di dalam batin mereka, aku yakin mereka membolehkanku menjadi seseorang yang kuinginkan selama itu memang benar adalah keinginanku, bukan terpengaruh lingkungan.

.

Orang-orang banyak mencap sepasang orang tua sebagai orang tua gagal hanya karena perilaku dan pikiran anaknya di luar box yang sudah dilabel erat oleh publik. Mereka melupakan (atau mungkin, tidak melihat) prestasi-prestasi yang sudah diraih oleh si anak. Mereka terlalu fokus menjadikan anak mereka sesuai keinginan publik, mereka melupakan beberapa aspek penting di dalam hidup: memeluk kebenaran, meraih prestasi demi diri mereka sendiri, dan menerima wajah asli si anak.

Banyak kulihat anak-anak yang dibanggakan oleh orang tuanya karena mereka pintar menyembunyikan wajah asli mereka dari orang tua mereka. Sementara anak-anak seperti diriku dicap gagal karena aku jujur terhadap orang tuaku. Aku menunjukkan wajah asliku kepada orang tuaku setelah cukup lama menyembunyikannya. Dan aku bersyukur karena mereka menerima wajah asliku daripada wajah palsuku.

Kurasa, karena kami menunjukkan wajah asli inilah orang tua kami dianggap gagal. Dianggap tidak mengurusi kami dengan baik hanya karena kami bisa jujur pada diri sendiri dengan menunjukkan wajah asli kami. Padahal, mereka adalah sebaik-baiknya orang tua karena menerima kami apa adanya. Kami dididik untuk menjadi manusia yang benar, bukan manusia yang baik. Kami dididik untuk memiliki tata krama, bukan berpura-pura. Kami dididik untuk menjadi jujur, bukan untuk kabur. Kami dimanusiakan oleh orang tua kami sendiri. Karena sebaik-baiknya orang tua adalah orang tua yang memanusiakan anaknya sendiri.

Ciao!

Ciao

Cia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s