Akhir-akhir ini sering banget dapet berita di mana murid-murid jaman sekarang melecehkan gurunya sendiri. Sebenarnya, dari jaman gue masih sekolah dulu, hal ini udah sering terjadi. Cuma kayaknya, yang generasi sekarang semakin parah. Waktu itu gue lihat ada yang nge-pilox pantat siswi dengan tulisan T-E-A-C-H-E-R. Terus barusan, aku menemukan link ini: Murid Kurang Ajar. Sebenarnya, di sini, yang salah itu muridnya atau gurunya?

Kalau menurut gue pribadi, yang salah adalah gurunya. Murid bisa bersikap kurang ajar terhadap gurunya adalah cerminan bahwa seorang guru telah gagal dalam mendidik. Murid pada dasarnya adalah manusia yang masih bodoh. Gue bilang bodoh karena sebelum masuk sekolah, mereka belum tau apa-apa, belum mengerti apa-apa, miskin pengalaman, dan kurang ilmu. Di sekolah, tugas guru adalah mendidik, bukan hanya mengajar. Sayangnya, guru-guru jaman sekarang melupakan soal pendidikan dan lebih fokus pada mengajar.

Apa bedanya mendidik dengan mengajar? Mendidik konteksnya lebih luas. Mendidik artinya melatih seseorang hingga memahami. Sedangkan mengajar, konteksnya lebih sempit. Yaitu hanya melatih seseorang hingga sekedar tau atau sekedar bisa.. belum sampai ke tahap memahami atau mengerti.

Inilah yang salah dari para guru di Indonesia. Mendidik membutuhkan interaksi dan komunikasi yang bagus sehingga ilmu tersampaikan dengan benar dan akurat. Selain itu, target dari mendidik adalah supaya para peserta didik mengerti apa yang diajarkan. Baik itu ilmu pasti, maupun ilmu moral.

Sayangnya, kebanyakan guru hanya bermodalkan text book saja, di mana ilmu seperti itu bisa didapatkan di perpustakaan. Mereka melupakan untuk mengasah interaksi dan skill komunikasi mereka sehingga secara batin mereka bisa menjadi dekat. Mereka melupakan bahwa untuk menjadi guru, bukan hanya bermodalkan text book, tetapi juga soft skill seperti ilmu berkomunikasi dan interaksi dengan peserta didik. Mengapa hal tersebut penting? Agar tidak ada jarak antara pendidik dan peserta didik. Ketika jarak tercipta, maka hubungan batin tidak akan terbangun. Sehingga, guru tidak lebih dari robot yang suka memerintah di mata murid-murid.

.

Kenapa gue bisa bicara seperti ini karena gue sendiri pernah mengalami yang namanya sekolah. Gue bisa menghormati guru gue sendiri karena dulu gue dekat dengan mereka, sehingga terjalin hubungan batin. Dengan adanya hubungan batin tersebut, ilmu yang mereka berikan jadi lebih masuk ke otak gue dibandingkan dengan guru yang mematok jarak.

Salah satu contoh guru yang benar-benar dekat denganku adalah guru Fisika waktu SMA. Guru Fisika gue waktu SMA memiliki ilmu interaksi yang hebat. Ia begitu dekat dengan murid-muridnya, bisa menjadi teman curhat yang setia, bisa menjadi seorang kakak yang mengayomi, dan juga bisa menjadi seorang pendidik yang tegas. Beliaulah panutan gue sehingga gue bisa memiliki cita-cita untuk menjadi seorang pendidik seperti beliau.

Apa hasil yang didapat? Well, secara general, Fisika adalah nilai yang paling tinggi di rapot gue. Di tambah lagi, nilai Fisika gue selalu menjadi yang tertinggi di kelas karena hubungan batin antara gue dan guru Fisika gue tergolong erat. Sehingga, tanpa sadar, gue beliau menjadi guru favorit gue di waktu SMA dan sempat nangis karena beliau harus dipindahtugaskan karena menikah dengan sesama guru di SMA gue.

Sampai sekarang, gue hormat padanya karena dia bisa menjaga kewibawaannya sebagai seorang guru. Beliau layak dihormati karena beliau menghormati murid-muridnya. Beliau adalah contoh seorang pendidik, bukan seorang pengajar.

Jadi, berdasarkan apa yang sudah gue alami, gue bisa mengatakan bahwa gurulah yang salah ketika seorang peserta didiknya tidak bisa menghormati dirinya. Mungkin dia sendiri tidak menghormati peserta didiknya sehingga peserta didiknyapun tidak bisa menghormati dirinya. Mereka yang dilecehkan oleh muridnya adalah mereka yang gagal dalam mendidik, tetapi berhasil dalam mengajar. Mereka yang dilecehkan terlalu fokus memforsir murid-muridnya untuk bisa mengejar materi tanpa memikirkan pentingnya menjalin interaksi sosial dengan mereka. Mereka yang dilecehkan telah gagal karena telah menciptakan tembok antara pendidik dan peserta didik. Mereka gagal dalam mendidik.

.

Segitu dulu postingan hari ini. Semoga bermanfaat dan jangan ngelunjak mentang-mentang gue belain. Meski begitu, mereka adalah guru kalian, orang tua kalian di sekolah, which is rumah kedua kalian. Kalian nggak usah sok mentang-mentang kalian telah lulus sekolah. Selesai sekolah, kalian bakal kuliah dan ketemu dosen killer yang nggak peduli meski kalian nangis darah sekalipun. Perjalanan kalian masih panjang. Karma masih bisa mengambil posisi kapanpun dia mau.

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s