Seberapa sering kita mendapatkan teman ngopi, merokok, dan membicarakan tentang hidup? Seberapa sering kita mendapatkan kesempatan untuk mendengar pemikiran kritis milik orang lain? Seberapa sering kita dibuat berpikir dua kali tentang filosofi hidup? Dan seberapa sering kita mendapat kesempatan untuk berbagi hipotesis hasil observasi atau pengamatan kita terhadap lingkungan sehari-hari?

Dulu, gue memiliki lingkaran untuk itu. Dulu, gue memiliki teman-teman dari berbagai macam background untuk berdiskusi. Dulu, gue memiliki sekumpulan orang yang bisa membuat gue merasa gembira hanya dengan duduk berjam-jam sambil menikmati kopi dan rokok di warung kopi pinggir jalan. Sekarang, sudah tidak lagi.

Bukan, ini bukan posting tentang curhatan “bagaimana Kyle Nasution kehilangan teman”, tapi lebih ke arah “bagaimana teman-teman Kyle Nasution berubah seiring berjalannya waktu”. Iya, setelah gue amati, teman-teman gue berubah; dari pribadi yang memiliki keberanian dalam pengungkapan pemikiran kritis menjadi pribadi yang bertempur keras demi memenuhi tuntutan hidup.

Dari hal ini, gue menyadari kenapa gue lebih mudah bergaul dengan anak-anak yang usianya jauh di bawah gue; entah mereka siswa SMA atau anak kuliahan tingkat pertama. Dari segi usia, mereka adalah anak-anak yang tuntutan hidupnya hanya berupa “menyelesaikan pendidikan”. Mereka adalah sekumpulan anak-anak yang hidupnya masih ditanggung oleh orang tua, sehingga mereka tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana caranya melanjutkan hidup di esok hari. Sehingga, mereka masih bisa diajak ngobrol ke arah yang lebih berat.

Dari sini pula, observasi gue dimulai.

Lingkaran yang biasa gue ajak diskusi dulu adalah anak-anak seusia gue; teman-teman mahasiswa atau yang baru saja wisuda. Di usia segitu, mereka masih mampu berpikir kritis, mengeluarkan amarah terhadap dunia, hingga memngutarakan visi-visi realistis untuk merubah sistem yang ada. Di usia segitu, kobaran semangat mereka dalam bertempur dengan hidup masih tinggi, langkah mereka masih melambung tanpa tuntutan apapun.

Namun, hal ini berubah ketika mereka menggeluti dunia kerja selama setahun atau dua tahun. Pandangan mereka terhadap dunia berubah, kobaran semangat mereka meredup, langkah mereka pun tak lagi melambung. Bisa gue lihat, langkah mereka kini terseok-seok menghadapi kerasnya dunia. Keluar dari bangku kuliah tidak membuat hidup mereka lebih bahagia; tuntutan yang lebih berat bertubi-tubi menghampiri dan menjadi beban. Entah itu tuntutan karir, mencari jodoh untuk ke jenjang hidup selanjutnya, dll.

Sedih rasanya melihat teman-teman yang dulunya kritis dan penuh visi berubah menjadi pribadi yang sinis. Di waktu senggang, daripada membicarakan soal tragedi hidup dengan maksud mencari jalan keluar, mereka lebih memilih untuk melonggarkan ketegangan otot dengan bersenang-senang dan berhenti berpikir. Memang, bukan salah mereka. Tapi tetap saja sedih melihat mereka berubah sedrastis itu.

Di mata mereka, kehidupan berubah menjadi nyata dalam waktu singkat. Memasuki dunia karir, mereka langsung menyadari betapa banyaknya kewajiban yang harus mereka lakukan. Terkadang, mereka sampai melupakan hak mereka sendiri. Atau lebih parah, hak mereka direnggut begitu mereka memasuki dunia karir.

.

Akan sangat memakan waktu dan tempat apabila gue membahas rentetan kejadian hasil pengamatan gue. Hint: pengamatan gue bisa sampai ke sistem perekonomian Indonesia, khususnya bagian labor.

Tapi, bukan itu bagian yang ingin gue sampaikan di sini.

The point is, gue sampai nggak bisa berkata apa-apa melihat apa yang negara ini lakukan pada pemikir-pemikir kritis. Gue sampai memikirkan nasib teman-teman yang usianya 5 tahun di bawah gue, memikirkan apa yang akan terjadi pada mereka ketika mereka telah menyelesaikan strata satu. Apa mereka akan berubah menjadi sinis juga? Atau mereka masih mampu mempertahankan pemikiran kritis dan semangat mereka dalam merubah dunia? Apa mereka akan mampu bertahan hidup? Atau ikut berubah menjadi zombie-zombie yang duduk di dunia korporasi demi bertahan hidup?

Mungkin sebagian besar orang yang membaca postingan ini akan berpikir bahwa gue bisa berkata seperti ini karena gue belum berhadapan dengan dunia nyata, dunia yang sesungguhnya, dunia yang kejam dan dingin tanpa ampun. Memang, mungkin ini karena gue belum bertemu kekejaman dunia yang sesungguhnya. But, believe me, saat ini gue sedang bekerja keras untuk bisa berhadapan dengan dunia nyata dan mempertahankan sisi kritis gue.

Menciptakan pemikir kritis itu mudah. Tapi, mempertahankan seseorang untuk tetap kritis yang susah.

.

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s