Halo, udah lama gue nggak nulis blog. Dan rasanya, hal terakhir yang gue tulis di blog nggak begitu serius karena beberapa hal yang nggak gue sadari sampai beberapa menit yang lalu. Salah satu teman gue menulis sebuah postingan di blognya dia yang berisi pemikiran kritisnya dia (http://bicaradikamar.blogspot.com), dari tulisannya itu, gue menyadari beberapa hal kenapa gue berhenti menulis blog yang serius dan mulai menulis keseharian gue.

Di tahun 2013, gue mulai menulis banyak pemikiran kritis gue di sini. Tulisan-tulisan tersebut adalah buah pemikiran gue setelah mengobservasi lingkungan dan berdiskusi dengan teman-teman gue. Meski gue menulis tanpa melakukan research getol kayak bikin karya tulis, gue merasa tulisan gue worth reading (walau nggak bisa dijadikan referensi). Gue selalu puas dengan hasil pemikiran gue dan selalu berharap ada yang mau menjadikannya bahan diskusi sehingga tumbuh pemikiran atau pandangan yang lebih baru.

Jujur, gue rindu mengobservasi lingkungan gue. Gue rindu melakukan beberapa tes kecil-kecilan untuk membuktikan hipotesis gue. Gue rindu berdiskusi dengan teman-teman yang punya pemikiran tajam dan memiliki pandangan berbeda dari pandangan gue. Gue rindu menghasilkan sebuah tulisan yang kritis, bukan sekedar curhat soal kehidupan pribadi gue di sini (no one wants to read that).

.

Setelah gue membaca tulisan teman gue yang satu ini, gue jadi menyadari apa yang membuat gue menjadi tumpul dan cepat merasa bosan ketika keluar rumah. Gue menyadari bahwa gue kehilangan teman-teman yang pemikirannya tajam. Gue menyadari bahwa mereka berubah dari mahasiswa kritis menjadi pekerja yang bertarung dengan hidup. Gue menyadari bahwa mereka sudah terlalu lelah untuk berdiskusi dan mengikuti alur obrolan gue yang tergolong berat untuk kebanyakan orang. Kini, mereka berubah menjadi budak kehidupan, bekerja keras untuk memenuhi tuntutan hidup.

Gue mengamati teman-teman gue yang dulu biasa gue ajak bicara. Obrolan kami perlahan-lahan berubah dari obrolan wakrop menjadi obrolan restoran. Mereka sudah tidak bisa lagi diajak berdiskusi soal politik, atau ekonomi, atau psikososial seperti dulu. Hal yang ingin mereka bahas adalah soal jodoh, pekerjaan, dan hidup di bawah tekanan standard masyarakat.

Tentunya, gue juga berusaha mengendalikan obrolan ke arah yang gue inginkan, ke obrolan berat yang dulu biasa kami lakukan. Sayangnya, reaksi yang mereka berikan tidak seperti yang gue harapkan. Yang gue dapat nggak jauh-jauh dari keluhan, persetujuan tanpa diskusi, dan perubahan topik yang drastis. Mereka nggak lagi tertarik dengan obrolan yang gue tawarkan.

.

Although, hal ini adalah sebuah hal yang menarik untuk diobservasi. Mengamati perubahan, faktor-faktornya, sampai dampaknya. Tapi tentu saja, untuk mengobservasi, gue tetap butuh kawan diskusi untuk hipotesis. Gue butuh orang-orang yang bisa membuat gue berpikir dua kali tentang hipotesis yang sudah gue bikin, karena kalau sekedar hipotesis hasil pengamatan (tanpa diskusi) sudah tersedia di kepala gue. Mungkin gue akan menuliskannya di postingan berikutnya.

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s