Karena gue akan mulai menulis blog soal keuangan, maka gue akan menceritakan sedikit soal latar belakang gue. Maksud gue menceritakan hal ini adalah supaya bisa menjadi contoh dan orang-orang jadi mengerti kenapa gue begini.

Bagi sebagian orang yang nggak mengenal gue secara pribadi, mereka hanya mengenal gue sebagai anak orang kaya yang hedon dan royal. Dengan santainya gue bisa makan di restoran mahal, dengan mudahnya gue bisa mengeluarkan uang untuk belanja, dan dengan ringannya gue bisa mentraktir dan meminjamkan uang ke orang lain. Orang-orang yang udah pernah ke rumah gue juga mengira gue datang dari keluarga kelas ekonomi atas dan mempertanyakan apa pekerjaan orang tua gue yang sebenarnya.

Perlu gue klarifikasi, orang tua gue adalah orang-orang yang sangat bersih. Apa yang kalian lihat sekarang adalah buah dari usaha keras dan didikan nyokap gue soal keuangan. Yang kalian lihat adalah hasil dari struggle gue dan keluarga gue.

.

Sama seperti kebanyakan anak-anak seusia gue, income gue dulu hanya datang dari orang tua. Gue nggak bekerja, gue nggak punya bisnis, semua uang gue pure dari orang tua dan itulah yang gue kelola dengan baik. Gue nggak bisa sepenuhnya dibilang foya-foya dengan harta orang tua. Gue foya-foya berkat ketatnya pengaturan gue terhadap uang jajan. Dan gue berharap ini bisa dijadikan contoh bagi kalian yang ingin menikmati uang seperti gue menikmati uang.

Dulu, ketika uang gue masih tipis, gue sangat pelit terhadap diri sendiri. Gue makan di tempat-tempat yang murah, di mana gue bisa kenyang hanya dengan uang sepuluh ribu rupiah. Gue juga jarang jajan yang nggak perlu – setiap gue mau belanja, gue selalu berpikir tiga kali dan bertanya pada diri gue sendiri, “Apakah gue segitu butuhnya dengan barang tersebut?“, “Seberapa telatennya gue menjaga barang tersebut supaya awet?“, dan “Apakah gue bisa mendapatkan barang tersebut lebih murah atau tanpa mengeluarkan uang sedikitpun?“.

Seperti yang sudah gue jelaskan juga, dari dulu gue nggak pernah meletakkan aset gue di satu tempat dan gue selalu menabung ketika gue baru menerima duit dari orang tua. Dulu gue sangat kejam sama diri sendiri. Dari Rp 250 ribu yang diberikan orang tua per minggu, gue hanya membolehkan diri gue untuk menggunakan Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu dalam seminggu. Sisanya gue tabung dan gue bagi-bagi lagi untuk kebutuhan lainnya.

Jujur, teman-teman gue dulu cukup hedon dan mereka memang kaya raya. Sekali ngajak jalan, mereka bisa menghabiskan uang lebih banyak dari jajan gue seminggu. Tapi, gue ya tetap jalan sama mereka. Hanya saja, gue nggak ikut jajan.. paling cuma nonton di bioskop dan makan siang aja. Kalaupun duit gue nggak mencukupi untuk itu, gue akan bilang di awal kalau gue nggak akan ikut rencana-rencana hedon mereka karena masalah keuangan.

Berbulan-bulan, bertahun-tahun gue menekuni pola hidup seperti itu sampai akhirnya tabungan gue membludak. Ketika gue rasa gue sudah bisa menjalani hidup sekelas lebih tinggi, barulah gue mulai melonggarkan dompet gue. Dan itulah yang kalian lihat sekarang.

.

Di dalam ketatnya pengaturan keuangan gue, gue memiliki rencana keuangan yang tetap. Ketika gue menerima uang, dengan segera gue membagi-baginya sebelum gue belanjakan. Kalau yang gue ceritakan di postingan sebelumnya, gue hanya punya 3 keranjang. Tidak, aslinya gue punya 6 keranjang. Gue memiliki keranjang foya-foya (jajan), keranjang tabungan, keranjang alokasi, keranjang darurat, keranjang risiko, dan keranjang investasi.

(Gue sengaja nggak menjelaskan tiga keranjang sisanya karena itu urusannya lebih ribet dari tiga keranjang lainnya, dan belajar pengaturan uang harus dimulai dari tiga keranjang pertama dulu)

Seperti yang sudah gue jelaskan, keranjang jajan/foya-foya isinya adalah uang untuk kebutuhan sehari-hari dan uang belanja gue. Keranjang ini memiliki uang yang paling sedikit karena gue masih memegang prinsip ‘nabung lebih banyak dari jajan’.

Keranjang tabungan berisi sisihan allowance gue untuk belanja tak terduga di masa depan. Salah satu contohnya adalah untuk beli tiket konser MIKA di tahun 2013. Uang yang saat itu gue simpan di kamar memang nggak memiliki tujuan selain untuk belanja dadakan di masa depan. Fungsi tabungan gue memang untuk jangka panjang.

Keranjang alokasi berisi sisihan allowance untuk hal-hal yang ingin gue lakukan. Uang ini gue kumpulkan untuk beberapa tujuan tertentu. Salah satunya adalah untuk unplanned travelling. Karena gue orangnya impulsif parah soal jalan-jalan, maka gue membiayai sendiri ego gue yang satu ini. Uang ini sengaja gue sediakan kalau-kalau gue pergi ke suatu tempat yang jauh dari rumah hasil last minute thinking. Gue juga memiliki label-label alokasi lainnya, tapi nggak akan gue sebutkan di sini.

Keranjang darurat adalah selipan-selipan uang Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu untuk keadaan darurat. Salah satu contoh daruratnya adalah ketika gue kehabisan cash dan jauh dari ATM. Uang darurat ini juga berguna ketika gue berpergian dengan kendaraan bermotor, entah buat tol, ditilang (amit-amit), bensin, dll. Gue selalu menyelipkan lembaran-lembaran uang tersebut di tempat-tempat tak terduga (tas, dompet, bahkan sepatu).

Keranjang risiko adalah keranjang yang paling baru. Keranjang risiko ini berupa asuransi dan tabungan untuk hari tua. Gue memasang asuransi kesehatan untuk diri gue sendiri, serta mengikuti program dana pensiun BRI. Ini untuk mengantisipasi hal-hal yang pasti akan terjadi. Dan, since gue nggak berencana untuk menjadi pegawai, maka gue harus mengikuti program dana pensiun ini supaya hari tua gue terjamin.

Keranjang investasi sudah gue mulai dari dulu. Penjelasannya agak complicated, sih. Tapi yang jelas, investasi ini bukan cuma mainan saham dan obligasi aja (dan gue nggak punya duit sebanyak itu buat mainan saham dan obligasi, btw. I invest in small amount).

.

Kenapa gue bisa sesantai ini jajan, karena gue sudah merancang keuangan gue bahkan sampai gue pensiun. Memang, karena gue membagi ke banyak keranjang, jadi setiap keranjang hanya dimasuki pecahan duit yang kecil. Tapi nggak apa, kalau gue konsisten melakukannya, keranjang-keranjang itu akan penuh dengan sendirinya.

Jadi, kalau ngeliat gue, jangan langsung bilang, “Ya enak, lo banyak duit” atau “Ya lo kan orang kaya“. Gue banyak duit dan bisa kaya karena gue berusaha mengaturnya sedemikian rupa supaya gue selalu punya duit dan nggak habis-habis. Nggak ada gunanya gaji kalian puluhan juta kalau kalian nggak bisa mengaturnya. Bukan masalah jumlah, tapi masalah bagaimana caranya kalian bisa merancang perencanaan keuangan dan risiko kalian dalam jangka panjang.

.

Gue rasa cukup segitu dulu. Ayo bikin perencanaan keuangan dan risiko dari sekarang, supaya bisa foya-foya!

Ciao!

2 thoughts on “Pentingnya Management Keuangan Dan Risiko

  1. Sip, gue terinspirasi ! 😀 Oiya, itu program BRI pensiun gitu gimana caranya buat kita-kita yang belum bekerja atau seperti deposito gitu? jelasin donk kak…

    Like

    1. Pada dasarnya program pensiun BRI itu motong duit dari rekening kita.

      Kalo kamu gajian, gaji kamu otomatis dipotong dan masuk ke rekening pensiun kamu setiap tanggal yang kamu tentukan.

      Kalo kamu belom kerja, kamu bisa pake sistem AFT (automatic fund transfer). Jadi pas orang tua kamu gajian, otomatis duitnya masuk ke rekening kamu (sesuai yang sudah ditentukan). Nanti uang yang udah ditransfer ke rekening kamu bakal otomatis dimasukin ke rekening pensiun kamu. Jadinya 2 kali kerja.

      Tapi itu dua kali kerja kalo misalnya rekening gaji orang tua kamu udah didaftarin buat program ini. Jadi ya, satu rekening bank hanya untuk satu rekening pensiun. Gitu..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s