PERHATIAN!!! Cerita ini tidak cocok dikonsumsi pembaca di bawah 18 tahun. Tapi kalau masih ingin baca ceritanya, silakan.

 .

Jonathan: Kisah Seorang Gigolo Muda

 .

Lesson 3: Manager Toko

.

.

by Kyle Nasution

Sebuah tepukan halus mendarat di bahu kiri Nathan. Seorang lelaki dengan kulit gelap terbakar matahari menatapnya dengan sumringah lebar menghiasi wajahnya, “Belum dapet kerjaan juga, kau?”

Sambil membalas senyumannya, Nathan menjawab, “Lagi apes, nih, Bang.”

“Memang cari kerjaan macam apa, kau?”, tanya pria berkaus putih lusuh tersebut. Ucok, panggilannya.

“Ya pokoknya yang dapet duit lah, Bang, supaya bisa hidup di Jakarta.”

“Hahaha, jadi gigolo saja kau! Cepat dapat duit!” tawa pria Batak itu menggelegar.

Jonathan hanya bisa terkekeh pelan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Tidak ada satupun yang tau kalau pekerjaan inti dari seorang Jonathan adalah gigolo yang menemani para perempuan kesepian di malam hari – bahkan Ucok sekalipun, teman terdekatnya di Rumah Kos Ibu Sumarni.

Sambil melahap tempe goreng Warteg Firda, Ucok kembali membuka percakapan, “Kau tau, aku ada teman di Indiemart tidak jauh dari kos-kosan. Dia bilang, mereka butuh pekerja full time. Kalau kau mau, aku bisa kenalkan kau dengannya.”

Seperti mendapat angin segar, wajah Nathan berubah cerah, “Ah, serius, Bang?”

Ucok mengangguk, “Aku dan dia teman dekat waktu SMP. Kurasa kalau aku yang minta, dia akan langsung terima kau sebagai pegawai.”

“Wah, terima kasih banyak, Bang! Kapan aku bisa ketemu sama teman abang itu?”

“Kapan kau bisanya? Langsung abang kenalkan saja nanti.”

“Oke, nanti aku kabari abang. Sekali lagi, terima kasih, Bang!”

.

Tiga hari setelah percakapan, di siang hari, Jonathan dipertemukan dengan teman Ucok yang bekerja di Indiemart perempatan Jalan Kenari. Teman Ucok tidak seperti yang dibayangkan oleh Nathan, dia adalah seorang gadis bertubuh kecil dengan suara yang sangat halus. Jabatannya di Indiemart adalah manager toko, sehingga sangat mudah untuk Nathan mendapatkan pekerjaan.

Hari itu juga Kirana, teman Ucok, meminta Nathan untuk mengisi posisi kasir shift malam. Toko Kirana sudah hampir kehabisan pekerja untuk mengisi posisi tersebut karena rata-rata pegawai toko merupakan mahasiswa tingkat akhir. Mendengar Nathan bersedia untuk langsung bekerja, langkah Kirana langsung melambung.

Dengan wajah setampan itu, Nathan berhasil menarik pelanggan dalam hitungan menit. Banyak asisten rumah tangga sekitar Jalan Kenari yang sengaja datang dan berbelanja di sana hanya untuk melihat Jonathan dan membuat obrolan singkat dengannya. Terkadang ada yang centil menggoda terang-terangan, terkadang ada yang memberi ‘kode’. Apapun tingkah mereka, Nathan tetap mencoba untuk menjadi profesional dan memberi mereka senyuman mempesona khasnya agar mereka mau kembali lagi ke tokonya.

“Gue belom pernah melihat antrian sepanjang itu sebelum lo kerja di sini, loh.” ujar Kirana ketika mereka bersiap-siap untuk menutup toko. “Lo udah kayak jimat keberuntungan gitu ya, hahaha!”

Nathan ikut terkekeh pelan sambil memindah-mindahkan kardus logistik.

“Gue mau jujur sama lo,” ucap Kirana lagi, membuat Nathan menghentikan pekerjaannya, “Gue kenal lo dari internet.”

Jantung Nathan langsung berdebar kencang. Keringat dingin mengalir pelan dari kening dan lehernya. Senyuman canggung tergores untuk menutupi rasa groginya, “Emang iya, ya?”

Kirana langsung menggigit bibir bawahnya, “Iya. Dan gue baca, review-nya bagus-bagus. Gue jadi penasaran, akhirnya.”

Senyuman canggung Nathan langsung menghilang, “Penasaran?”

Tanpa menjawab, Kirana langsung melompat ke arah Nathan, menggelantungi lehernya, lalu mencium bibir tipis Nathan penuh nafsu.

.

Desahan nafas mereka berdua memecah keheningan toko yang remang. Suara decak dari ciuman memanaskan suasana. Pakaian mereka sudah setengahnya terbuka dan berserakan di lantai dekat meja kasir. Tangan Nathan terus meraba punggung Kirana untuk membuka kait bra hitam miliknya. Sesekali, ia juga meremas payudara Kirana dari balik bra tipisnya.

Kirana memanjati meja kasir, lalu duduk di atasnya sambil terus menciumi leher Nathan. Meski terlihat polos dan lugu, Nathan mengakui bahwa Kirana sangat pintar memanaskan suasana saat foreplay. Kirana tampak ahli dan sudah terlatih dalam bercinta. Berbeda dari gadis-gadis yang menjadi pelanggan setia Nathan, Kirana tampak berusaha memuaskan Nathan saat Nathan berusaha memuaskan Kirana. Untuk pertama kalinya, Nathan benar-benar menikmati dan lebih mengerti apa yang dimaksud dengan bercinta.

Tangan pemuda itu terus menjalar ke dalam celana hitam Kirana. Semakin Nathan bergerak, semakin kencang desahan gadis itu. Desahan puas dan penuh kenikmatan. Sambil terus menciumi payudara Kirana, pemuda itu menyadari apa yang ia rasakan. Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

“Ah, sial!” tiba-tiba Nathan mengutuk.

“Ada apa?”

“Aku tidak bawa kondom karena aku pikir aku tidak akan bekerja malam ini.”

Kirana terkekeh pelan. Ia mengulurkan tangan ke sisi meja kasir, lalu mengambil sekotak kondom dan memberikannya pada Nathan, “Gunakan saja ini.”

“Hah? Tidak apa-apa? Ini kan barang dagangan.”

Gadis berambut hitam itu tersenyum nakal sambil mengedipkan mata, “Aku manager toko. Barang itu kuberikan untukmu.. gratis.”

Berusaha mengikuti permainan Kirana, Nathan pun menyambar kotak kondom tersebut dan membukanya. Dalam hitungan menit, meja kasir Indiemart berguncang hebat sambil diiringi dengan desahan mesra.

.

Satu jam berlalu dan keduanya terbaring lemas di antara rak makanan ringan. Keringat bercucuran, deru nafas kembali pelan, debar jantung mulai melemah. Keduanya hanya terkekeh sambil mengatur nafas saat bertatapan.

“Boleh gue tanya sesuatu?”, Nathan membuka mulut, “Kalau begini terus, gue harus meminta gaji yang berlipat ganda.”

Gadis itu terkekeh, “Nathan, Nathan, Nathan..”, gumamnya.

“Ih, gue serius. Di awal kan lo bilang penasaran dengan jasa gue.”, candanya lagi.

Kirana bangkit dan duduk tepat di samping Nathan, “Bagaimana kalau gue menempatkan lo di bagian Pemuas Manager Toko?”

“Wow, jadi kayak roleplay, dong?”

“Bukan ‘kayak’, tapi ‘memang’ roleplay.” gadis bertubuh mungil itu kembali memasang wajah nakal.

Nathan terdiam, “Nggak gue sangka kalau lo ahli banget soal seks. Baru kali ini gue dapat pelanggan yang bisa memuaskan gue juga.”

Kirana menatap Nathan dengan tatapan teduh sambil menyungging senyum tipis, “Nggak banyak orang yang tau, tapi.. dulu gue juga kayak lo. Waktu SMA, gue juga PSK. Jadi, gue cukup tau bagaimana caranya memuaskan pria.”, dan tanpa menunggu jawaban Nathan, Kirana berdiri dan memunguti pakaiannya yang berserakan di dekat meja kasir.

Pemuda itu duduk termenung di antara rak makanan ringan. Ia menyadari ada yang berbeda dari kegiatannya tadi. Hanya saja, ia tidak mengerti bagaimana menjelaskannya pada dirinya sendiri.

-Fin-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s