PERHATIAN!!! Cerita ini tidak cocok dikonsumsi pembaca di bawah 18 tahun. Tapi kalau masih ingin baca ceritanya, silakan.

 .

Jonathan: Kisah Seorang Gigolo Muda

 .

Lesson 4: Ibu Asrianiku Yang Malang

.

.

by Kyle Nasution

Nathan berdiri di dalam gudang toko sembari melepas seragam kerjanya. Hari sudah berubah menjadi malam, shift kerja Nathan sudah berakhir sekitar setengah jam yang lalu. Meski menjadi kasir di sebuah mini market bukan bagian dari rencana hidupnya, Nathan merasa tidak ada yang bisa ia lakukan selain menerimanya untuk mengisi kekosongan waktu dan menambah income-nya.

“Gue pulang dulu, ya, Bos!”, ujarnya sesaat sebelum meninggalkan toko.

Kirana, yang masih mengurus beberapa dokumen di atas mejanya, hanya bisa melambaikan tangan, “Kerja?”, tanyanya sebelum Nathan benar-benar pergi.

“Iya, dari kemarin sudah ada janji meeting dengan pelanggan. Kurasa dia ingin menjadi klien tetap.”

Nathan menghilang dari balik pintu dan berjalan menuju motor bututnya. Sudah dua minggu ia bekerja dengan Kirana dan ia masih belum bisa mengatakan perasaan berbeda yang ia rasakan terhadap Kirana.

Sejak hari pertama mereka bertemu, Nathan dan Kirana menjadi semakin dekat. Setiap pulang kerja, mereka akan pergi ke bar murah atau warung kopi kecil untuk ngobrol. Gadis bertubuh mungil itu menceritakan sedikit tentang latar belakangnya, begitu pula dengan Nathan. Keduanya banyak bertukar cerita dan pengalaman tentang pekerjaan ilegal mereka.

.

Pemuda berkulit putih tersebut berdiri di depan pintu rumah klien barunya dengan jaket kulit hitam dan sepatu boots. Nathan biasa berdandan nyentrik atau berbeda sesuai dengan permintaan klien yang mampu membayar lebih. Malam itu, tanggal 9 Agustus 2011, klien barunya meminta Nathan untuk berdandan seperti preman klasik tahun ’80-an. Dari selera tersebut, Nathan hanya bisa menerka-nerka usia calon kliennya yang mungkin berkisar empat puluhan akhir atau pertengahan lima puluhan.

Setelah menunggu beberapa menit, seseorang membuka pintu. Ia harus menunduk ke bawah karena perempuan yang membukakan pintu hanya setinggi perutnya saja. Perempuan tersebut menengadahkan kepala ke arah Nathan. Sesekali ia membenarkan kacamatanya yang melorot untuk bisa melihat pemuda di hadapannya dengan jelas.

Pemuda berusia 25 tahun itu sedikit canggung melihat perempuan yang membukakan pintunya. Ia merasa akan lebih baik apabila kliennya langsung yang membukakan pintu daripada seorang perempuan dengan wajah keriput yang mungkin usianya tiga kali lipat usia Nathan.

Ia mendeham, “Umm, maaf, Nek. Apa benar ini rumah Asriani Widijastoeti?”

“Iya, benar.. kamu siapa?”, sahut nenek tersebut dengan suara kecil nan bergetar.

“Saya Jonathan. Umm, Ibu Asriani meminta saya datang kemari untuk suatu urusan. Boleh saya bertemu dengan Ibu Asriani?”

Perempuan itu terdiam sejenak, memperhatikan Nathan dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan sorot mata yang tajam. Nathan hanya bisa menelan ludah, berharap nenek-nenek di depannya tidak mencurigai tindak-tanduknya.

“Nek?”, panggil Nathan lagi, “Bisa saya bertemu dengan Ibu Asriani?”

“Saya Ibu Asriani.”, ucapnya santai.

Nathan terdiam. Tatapannya berubah kosong dan pikirannya menjadi kusut. Sesaat, ia tidak mengerti bahasa Indonesia. Terlebih lagi, ia merasa tidak bisa mencerna kalimat yang baru saja dilontarkan nenek-nenek bertubuh kecil dengan keriput yang lebih banyak dari lipatan kain jemuran yang sudah kering.

“Maaf?”, ia meminta nenek itu untuk mengulangi kalimatnya.

“Saya Ibu Asriani. Saya yang memesan kamu di internet. Silakan masuk.”, sahutnya lagi dengan ramah dan penuh senyum kebahagiaan.

Dengan penuh kecanggungan, Nathan melangkah masuk tanpa melepaskan pandangannya dari nenek-nenek yang mengaku sebagai Ibu Asriani. Kepalanya melontarkan berjuta pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang bahkan tidak ingin ia ketahui jawabannya.

“Saya sudah menunggu kamu dari sore, lho. Kamu ingin minum teh, atau kopi? Biar saya buatkan.”

“A-ah, nggak usah, Nek! Eh, maksud saya, ‘Bu’!”

“Tidak apa-apa, biar nenek buatkan teh untuk kamu, ya. Kamu silakan duduk saja di sofa.”, tanpa mendengarkan jawaban Nathan, Ibu Asriani langsung berjalan menuju dapur dan menghilang selama beberapa menit.

Pria berambut klimis tersebut hanya bisa melongo untuk beberapa menit saat melihat kliennya. Di dalam benak, ia merancang skenario yang harus ia mainkan sebagai seorang pekerja seks profesional. Ia memang tidak suka membeda-bedakan kliennya dari segi usia, tetapi, tetap saja melayani seorang perempuan tua berusia tujuh puluhan ke atas tidak pernah ada di dalam imajinasinya.

Sambil duduk menunggu Ibu Asriani selesai membuatkan teh untuknya, ia merogoh kantong dan mengambil ponselnya. Jarinya cepat mengutak-atik menu di layar ponsel dan berakhir pada lembar kosong pesan singkat yang tertuju untuk Kirana.

Text Message

Me: “Coba tebak, klien gue datang dari jaman perang dunia kedua.

Kirana IM3: “Apa maksudnya?

Me: “Usianya mungkin udah hampir delapan puluh tahun. Gue harus ngapain, nih?

Kirana IM3: “Lakukan yang terbaik. Mungkin itu akan menjadi seks terakhirnya. HAHAHAHAHA!!!

Me: “Astaga…

Spontan Nathan menyimpan kembali ponselnya ke dalam kantong celana begitu Ibu Asriani keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi cangkir teh dan sekaleng kue kering. Tangannya tampak rapuh, Nathan khawatir kalau-kalau tangan Ibu Asriani akan lepas saat membawakan nampan seberat itu untuknya.

“Ah, Ibu Asriani, sebelum memulai…”

“Panggil saja saya Ani. Kalau dipanggil ‘ibu’, saya jadi merasa tua..”, ucapnya memotong sambil mengedip manja pada Nathan.

Nathan terkekeh canggung, “Yeah, Ani.. sebelumnya saya harus menjelaskan kalau saya belum pernah melayani seseorang seperti…”

“…Seperti?”

“Umm, yaa, seperti.. Ani.”

“Memang saya kenapa?”

“A-aah, tidak kenapa-kenapa. Ani terlihat cantik, kok, dan terlihat seperti banyak pengalaman. Hanya saja.. saya agak sedikit canggung.”

Ibu Asriani menyungging senyum nakal, “Mungkin kamu salah persepsi. Saya hanya kesepian dan butuh teman mengobrol.”

Nathan terdiam. Mendadak, seluruh kecanggungan dan ketakutannya menghilang begitu melihat mata Ibu Asriani yang mulai berkaca-kaca.

“Suami saya sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu. Sejak saat itu saya tinggal di rumah anak-anak saya. Selama tiga bulan terakhir ini saya harus menginap di sini, di rumah anak pertama saya. Saya berharap bisa menghabiskan waktu bersama anak saya dan keluarganya. Sayangnya, anak saya dan suaminya sangat sibuk. Kemarin mereka berdua berangkat ke luar negeri untuk urusan bisnis. Anak-anak mereka juga sedang berada di luar kota untuk kuliah dan baru pulang minggu depan. Jadi, saya benar-benar kesepian dan meminta kamu untuk datang dan menemani saya.”

Mendengar penjelasan yang penuh perasaan tersebut, hati Nathan kembali luluh. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Ibu Asriani dengan senyuman hangat, “Kalau begitu, saya akan menemani Ani malam ini, bagaimana?”

Wajah keriput yang tampak suram tersebut berubah menjadi cerah. Senyuman polos dan penuh perasaan milik Ibu Asriani menyirami hati nurani Nathan. Gelagat Ibu Asriani yang tampak rapuh dan suara bergetar miliknya mengingatkan Nathan pada neneknya yang sudah lama meninggal.

Malam itu, Nathan duduk dan mendengarkan Ibu Asriani bercerita tentang masa mudanya. Ia menceritakan tentang kegelisahannya semasa kerusuhan tahun 1998, ia juga menceritakan bagaimana mengerikannya masa kecil yang harus ia alami di akhir masa perang dunia kedua. Ibu Asriani menceritakan seluruh pengalaman hidupnya kepada Nathan.

Nathan menyadari pekerjaannya sebagai pemuas tante-tante kesepian di luar sana. Ia menyadari, apabila tanpa melakukan kegiatan seksual, para perempuan yang menjadi pelanggannya telah menceritakan perjalanan hidup mereka beserta suka-dukanya. Seks seolah hanya menjadi bumbu penyedap dari pekerjaannya. Tapi, kalau ia telaah dengan teliti, pekerjaan sebenarnya dari seorang gigolo adalah menjadi tempat curhat bagi perempuan-perempuan kesepian di luar sana.

Di dalam sebuah rumah bergaya modern yang terletak di daerah Ciputat itu, di tengah ruang tamu yang besar dan sepi, suara Ibu Asriani bergema. Cerita-cerita dan keluh kesah miliknya mengudara dan memenuhi ruangan. Pertemuan Nathan dengan Ibu Asriani seolah menjadi angin segar untuk pemuda berjaket kulit hitam tersebut. Diam-diam, Nathan mendapat kebanggaan terhadap pekerjaan ilegalnya. Bisa memenuhi kebutuhan batin paling dasar dari seseorang menghasilkan perasaan yang luar biasa.

.

Pukul sebelas malam itu, Kirana sedang bersiap-siap untuk pulang selepas menutup toko bersama beberapa pegawai lainnya. Belum sempat ia menyalakan motor matic-nya, ponsel Samsung-nya berdering. Nama Nathan yang bertengger di layar ponsel membuatnya bingung.

“Hai, gue kira lo lagi kerja.”, sapanya begitu telepon diangkat, “Hah?! Apa? Oke, gue otw ke sana!”

Motor matic biru muda milik Kirana melaju kencang menuju sebuah rumah sakit di daerah Ciputat. Ia tidak tau apa yang terjadi, tetapi ia harap Jonathan akan baik-baik saja.

.

“Hei, ada apa?”, dengan langkah cepat Kirana menghampiri Nathan yang sedang duduk termenung di tengah ruang tunggu IGD, “Lo nggak kenapa-kenapa, kan?”

Nathan menggeleng pelan. Wajahnya tampak pucat dan sedih.

Gadis berkemeja kotak-kotak tersebut menjadi prihatin melihat keadaan Nathan. Ia duduk di sampingnya sambil mengelus-elus punggung Nathan yang tegang, “Ada apa, Nathan? Siapa yang ada di dalam IGD?”

Pemuda itu menarik nafas panjang, “Ibu Asriani.”

“…Hah?”

“Ibu Asriani dan gue cerita-cerita di ruang tamunya sambil minum teh. Suasananya begitu nyaman dan penuh kekeluargaan.”

“Iya, gue tau.. lo udah bilang ke gue. Terus, kenapa Ibu Asriani bisa ada di dalam IGD? Beliau nggak apa-apa, kan?”

“Gue kira, Ibu Asriani merasakan hal yang sama.. rupanya nggak.”

“Maksudnya?”

“Di tengah-tengah cerita, Ibu Asriani langsung menyosor bibir gue sambil ngebukain pakaian gue satu persatu. Adegannya udah agak panas di sofa ruang tamu.. ya, minimal, Ibu Asriani merasa adegannya udah panas.. gue cuma merasa agak disturbing aja. Lalu, habis Ibu Asriani meminta gue buat memasukkannya, pinggang Ibu Asriani keseleo.”

“HAH!?!”, Kirana mati-matian menahan tawa saat mendengarkan cerita Nathan.

“Kayaknya gue terlalu kencang menggoyangnya. Langsung saja gue bawa dia ke rumah sakit terdekat pakai motor gue.”, Nathan menghela nafas pendek, “Nggak lagi-lagi gue ngelayanin nenek-nenek.”

Tawa Kirana lepas. Ruang tunggu IGD mendadak riuh akibat Kirana dan Nathan yang adu mulut selepas mendengar cerita konyol tersebut. Kirana hanya bisa menahan sakit perut sambil tertawa, dan Nathan hanya bisa pasrah dan membuat resolusi terhadap pekerjaan ilegalnya.

Satu jam kemudian, dokter jaga IGD menyatakan kalau kondisi Ibu Asriani sudah membaik. Nathan dan Kirana membawa Ibu Asriani pulang dengan motor butut Nathan. Dan Nathan tidak pernah lagi menerima tawaran pekerjaan dari klien yang usianya di atas enam puluh tahun.

-Fin-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s