Kalimat yang gue jadikan judul ini sering gue lontarkan ketika seseorang menanyakan motif aktivitas gue. Terkadang, ada aktivitas gue yang dianggap sangat random atau aneh bagi kebanyakan orang, sehingga mereka pingin tau motif di belakangnya. Dan sebenarnya, gue sendiri nggak bisa menjawab selain “Karena gue pingin“.

Jawaban gue yang simpel ini rupanya mengundang banyak omongan yang bahkan menurut gue nggak perlu dilontarkan ke gue. Sebagian besar cuma merespon dengan “Hah, dasar Kyle“, tapi ada pula yang merespon dengan “Kekanak-kanakan banget, sih, alasannya“. Kalimat yang terakhir itu yang paling gue nggak mengerti; kenapa melakukan sesuatu yang kita inginkan dibilang kekanak-kanakan? Menurut gue, semua orang punya hak untuk melakukan apa yang mereka inginkan, dan dengan melakukan hal yang kita inginkan nggak membuat diri kita menjadi kekanak-kanakan. Justru menurut gue bagus, artinya gue jujur sama diri sendiri dan orang lain. Gue nggak perlu men-sugarcoat alasan gue supaya terdengar sophisticated.

Karena mendapat respon-respon tidak mengenakan itu, akhirnya gue jadi terpancing untuk memperhatikan bagaimana manusia normal melontarkan alasan atas aktivitas mereka. Gue memperhatikan bagaimana teman-teman gue menjelaskan motivasi mereka, mulai dari aktivitas yang paling sederhana seperti kegiatan sehari-hari sampai aktivitas yang tergolong random. Banyak dari mereka yang memberikan alasan-alasan sophisticated, membuat orang segan terhadap aktivitasnya seolah aktivitas itu dilakukan atas dasar pemikiran yang matang dan memiliki makna yang dalam. Mungkin, sebagian dari mereka memang mengatakan apa adanya, tapi sebagian yang lain hanya sugarcoat supaya terlihat mengesankan.

Sama seperti mereka yang mengatakan apa adanya, gue juga mengatakan apa adanya. Gue melakukan hal-hal random karena memang gue ingin, nggak ada makna mendalam atau pemikiran yang njelimet sebelumnya. Gue melakukan sesuatu karena gue ingin melakukannya, sesimpel itu. Karena hal ini pula, orang-orang menyebut gue sebagai manusia impulsif.

Setelah gue pikir-pikir, rupanya tindakan gue mengandung makna filosofis yang nggak gue sadari. Salah satunya adalah kenyataan bahwa kebanyakan orang capek mikir dibanding capek melakukan. Banyak orang yang sebenarnya memiliki ide-ide gila, tapi ide-ide tersebut nggak tersalurkan karena mereka kebanyakan mikir. Mereka terlalu banyak mempertimbangkan hal yang sebenarnya nggak perlu dipertimbangkan. Sehingga pada akhirnya, orang-orang kayak gue, orang-orang yang melakukan apa yang mereka inginkan, jadi terlihat random dan dangkal. Padahal, kalau kita lihat lingkungan kita saat ini, tokoh-tokoh masyarakat kebanyakan datang dari kalangan yang melakukan apa yang mereka inginkan.

Untuk urusan risiko dan semacamnya, menurut gue nggak perlu dipikirkan terlalu mendalam, karena apapun pilihan yang kita ambil pasti akan disertai dengan risiko. Risiko yang gue dapat karena gue melakukan sesuatu yang gue inginkan, gue anggap sebagai konsekuensi yang harus gue hadapi. Dan, jujur, gue hampir nggak pernah lari dari konsekuensi. Rasa takut ya pasti ada, tapi sampai kapan gue dikendalikan oleh ketakutan terhadap konsekuensi? Hal inilah yang membuat kebanyakan orang berhenti melangkah: mereka dikendalikan rasa takut terhadap konsekuensi dari tindakan mereka sendiri. Pola pikir yang merugikan, menurut gue.

.

Banyak keputusan-keputusan besar yang gue ambil atas dasar keinginan gue. Beberapa di antaranya adalah pendirian SEPENA dan keluar dari dunia perkuliahan. Kedua hal besar ini memiliki konsekuensi besar yang harus gue hadapi. Pendirian SEPENA memaksa gue untuk menyisihkan banyak waktu dan tenaga demi kepengurusan dan perkembangannya. Sementara untuk resign dari universitas memaksa gue untuk berhadapan dengan orang-orang yang judgemental dan kenyataan bahwa hidup dengan ijazah SMA itu nggak mudah (katanya). Tapi, pada nyatanya, dengan mengambil dua keputusan besar tersebut berdasarkan keinginan gue, gue jadi jauh lebih bahagia. Ya memang nggak mudah, tapi gue menikmati perjalanannya.

Karena gue memperhatikan hal ini berlarut-larut, gue mulai melihat adanya efek psikologis yang sama pada mereka yang men-judge gue sebagai pribadi yang kekanak-kanakan. Dibandingkan concern terhadap masa depan gue, gue lebih menangkap kesan bahwa mereka hanya iri karena tidak bisa menjadi se-kanak-kanak gue. Banyak kalimat yang terceplos dari mulut mereka yang mendukung hipotesa gue. Salah satunya adalah kalimat, “Ya lo enak, hidup nggak ada beban” (jujur, gue nggak suka kalimat ini karena mengesankan kesengsaraan hidup mereka disebabkan oleh gue). Padahal beban itu ada hanya ketika kita menganggapnya sebagai beban. Sementara, gue menganggap ‘beban’ tersebut sebagai ‘bumbu kehidupan’. Mungkin, karena pola pikir ini pula yang membuat kaki gue melangkah dengan ringan.

Kunci kehidupan yang selama ini gue pegang hanya satu: my life, my rules. Beban muncul karena rasa takut. Rasa takut ada karena terbentur nasib. Nasib ditentukan oleh sistem. Sistem tersebut dibuat oleh manusia. Hidup, kita sendiri yang menjalankan. Segala kesulitan dan kemudahan hanya akan dilalui oleh kita sendiri. Lalu, kenapa kita mau-maunya hidup diatur oleh orang lain?

Sulit? Nggak semudah itu? Kalau begitu, coba tanyakan diri kalian sendiri; siapa yang mempersulit hal tersebut? Kenapa hal tersebut bisa menjadi sulit? Dan siapa yang mengatakan kalau hal tersebut sulit? Sistem, atau diri kalian sendiri? Kalau jawabannya sistem, ya berarti kalian diperbudak oleh sistem. Kalau jawabannya adalah diri kalian sendiri, ya berarti kalian diperbudak oleh diri sendiri. Either way is fine, sebenarnya. Masalah kalian mau diperbudak atau nggak aja. (Iya, balik lagi ke “Karena gue pingin”)

.

Lalu, kenapa gue menulis panjang lebar, ceramah yadda yadda soal hal tersebut?

Ya nggak kenapa-napa.

Pingin aja.

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s