Semalam, sebelum gue tepar dan tertidur, gue membaca sebuah postingan blog milik seorang kawan yang membahas tentang kebahagiaan. Di tulisannya, ia menceritakan kalau seorang kawannya bertanya perihal kebahagiaan dan rasa syukur. Kemudian, ia memberikan beberapa tips untuk meraih kebahagiaan menurut versinya. Gue yang membaca tulisan tersebut tidak bisa memberikan kesetujuan karena versi gue dalam meraih kebahagiaan sangatlah berbeda dari apa yang dia tulis.

Sebelumnya, kawan gue yang satu ini memang sempat mengalami masa krisis di dalam hidup; dimana ia harus memilih antara idealisme dengan kehidupan realita. Kami juga sebelumnya sempat membicarakan hal ini untuk memperkuat keyakinannya dalam memilih. Dan, memang, gue sempat membahas soal kebahagiaan dengannya yang gue rasa sekarang menjadi variabel penting dalam pengambilan keputusannya.

Membaca tulisannya seputar kebahagiaan, jujur, gue merasa agak risih melihat tips-tips yang ia berikan. Memang ini adalah versinya, tetapi gue sempat merasa kalau dia memiliki kesalahan dalam beberapa pengartian dan penerapan. Tips-tips yang ia tulis lebih terlihat seperti sebuah peraturan yang memberikan pengertian dan jalan mutlak dalam meraih kebahagiaan. Mungkin gue merasa begitu karena gaya penulisan dan bahasa yang digunakannya. Gue lebih melihat tulisan tersebut sebagai sesuatu yang kaku dan hal yang menyebalkan jika gue (misal gue nggak mengetahui apa-apa soal kebahagiaan) harus menerapkannya demi meraih kebahagiaan gue sendiri.

Hal ini bisa jadi karena gue memiliki filosofi dan jalan gue sendiri dalam meraih kebahagiaan. Iya, gue adalah salah satu orang yang percaya kalau masing-masing orang memiliki caranya sendiri untuk meraih dan menemukan kebahagiaan. Jalan yang gue miliki ini gue anggap sungguh simpel karena apa yang perlu gue lakukan adalah mengikuti kata hati gue sendiri.

Ketika membahas tentang kebahagiaan, gue nggak akan memberikan tips tertentu karena gue yakin kalau tips-tips yang gue berikan nggak akan berguna bagi kebanyakan orang. Dan memberikan tips tentang kebahagiaan akan memberi kesan menggurui seseorang perihal kehidupan. Sikap kita dalam memberikan tips bisa dinyatakan sebagai tindakan yang hanya bisa dilakukan ketika kita sudah mengerti betul (expert) soal kebahagiaan. Which, dalam konteks ini, tidak ada kemungkinan bahwa kita bisa menjadi seorang ahli dalam kebahagiaan.

Memang, tujuannya adalah membantu orang lain dalam mencapai kebahagiaan mereka. But, you cannot tell people what to do when it comes to happiness. Kebahagiaan diraih atas dasar kesadaran diri, sesuatu yang tidak bisa dibantu dengan tips, sesuatu yang tidak bisa dibantu dengan ceramah motivasi, dan setiap orang akan melalui prosesnya masing-masing dalam meraih kebahagiaan. There’s no shortcut.

.

Kebahagiaan dianggap sebagai satu dari sekian banyak tahapan hidup. Kebahagiaan diibaratkan sebagai tahap terakhir atau level tersulit untuk dicapai dalam kehidupan. Karena, bagi sebagian besar orang, mereka harus mengorbankan banyak hal demi kebahagiaan. Ada yang mengorbankan ego, ada yang mengorbankan hubungan silaturahmi, ada yang mengorbankan realitanya, dan lain sebagainya. Pengorbanan yang mereka buat juga bukan pengorbanan level kacang polong. Untuk meraih sesuatu yang lebih indah yang bertahan lebih lama, maka kita harus mengorbankan sesuatu yang penting terlebih dahulu. Hal ini menggambarkan bagaimana untuk menghargai sesuatu, kita harus merasakan kehilangan sesuatu.

Seperti yang sudah gue bilang, setiap orang akan melalui tahapannya masing-masing yang tidak bisa diklasifikasikan ke dalam beberapa tips. Setiap orang akan melalui tahapan hidupnya satu per satu, lalu mereka akan belajar dan menyadari bahwa pada akhirnya mereka membutuhkan kebahagiaan. Proses ini adalah proses yang paling alami karena dengan melalui proses tersebut, seseorang dapat memahami lebih jelas tentang apa arti kebahagiaan bagi diri mereka. Jika mereka mengikuti tips atau ceramah motivasi (yang mana artinya mereka mengambil shortcut) mereka tidak akan mengerti betul apa yang sebenarnya menjadi sumber kebahagiaan mereka, apa sebenarnya arti kebahagiaan bagi mereka, dan apa yang seharusnya mereka lakukan untuk meraih kebahagiaan mereka sendiri.

Gue mengambil diri gue sendiri sebagai contoh kasus. Dalam pencaritahuan tentang arti kebahagiaan yang sebenarnya, gue harus duduk merenung selama berbulan-bulan di dalam kamar tanpa melakukan kontak dengan manusia (kontak yang dilakukan hanya sekedarnya). Di dalam masa itu pula, gue baru menyadari kalau gue sudah pernah merasakan kebahagiaan, hanya saja gue yang tidak menyadarinya, dan gue yakin, bukan cuma gue yang pernah merasakan hal tersebut. Ketika gue melakukan perenungan, itu artinya gue juga sedang melakukan pemetaan. Di dalam perenungan, gue mengingat tiap jejak hidup gue, mengingat kejadian-kejadian penting, mengingat kejadian-kejadian kecil, mengingat setiap emosi yang sudah pernah gue rasakan dan mencaritahu penyebab sebenarnya, dan lain sebagainya. Singkatnya, gue lah yang paling tahu dan mengerti tentang hidup gue sendiri, sehingga hanya gue pula lah yang bisa membuat peta kehidupannya.

Ketika kita memberikan tips kepada orang lain, itu artinya kita memetakan sesuatu untuk orang lain. Which, kalau dalam ilmu eksak, akan sangat membantu dan cukup realistis untuk dilakukan. Tetapi, untuk ilmu hidup, hal tersebut menjadi tidak masuk akal dan terlihat ridiculous. Kita tidak bisa memetakan hidup orang lain, sama halnya seperti orang lain tidak bisa memetakan hidup kita.


Sebagai analogi, ibaratkanlah bangunan rumah kalian sebagai hidup kalian dari lahir hingga saat ini. Lalu, datanglah seorang pembuat denah dari kantor konsultan arsitektur yang mau membuatkan denah rumah kalian secara cuma-cuma. Sebelum membuat denah, tentu dia akan memasuki rumah kalian dan melihat tata ruang dan perabotan yang sudah kalian susun sedemikian rupa demi kenyamanan kalian. Atau jika dia tidak kalian perkenankan untuk masuk, maka dia akan mengira-ngira posisi ruangan di rumah kalian sesuai tampak luarnya dengan rumah orang lain sebagai patokannya. Setelahnya, dia akan membuatkan denah sesuai ilmu arsitektur yang dia miliki.

Tidak hanya itu, dia juga memberikan tips-tips bagaimana agar rumah kalian terlihat lebih nyaman dan indah dari segi tata ruang. Memang cukup membantu jika dijadikan referensi, tetapi, apakah dia mengerti kenapa kalian meletakkan perabotan kalian di tempat-tempat tersebut? Apakah dia mengerti kenapa susunan ruangan di rumah kalian seperti itu? Atau, apakah dia benar-benar tahu bagaimana posisi ruangan di rumah kalian yang sebenarnya? Tidak. Dia mungkin tahu, tapi belum tentu mengerti. Belum lagi jika kalian memiliki ruangan-ruangan rahasia, ruangan-ruangan yang tidak terlihat atau boleh dilihat oleh si pembuat denah, sehingga tata ruang di rumah kalian jadi terlihat tidak masuk akal dan kurang nyaman di matanya. Tentu denah yang ia bikin tidak akan sesuai dengan kenyataannya dan tips-tips yang dia berikan tidak se-membantu itu.

Pembuatan denah tersebut ujung-ujungnya jadi percuma karena pada akhirnya kalian harus membuat denah rumah kalian dengan tangan kalian sendiri. Dan karena itu adalah rumah kalian sendiri, maka kalian juga lebih mengerti kondisi rumah serta posisi ruangan-ruangan dan perabotan yang kalian miliki. Kalian juga lebih memahami mengapa perabotan-perabotan kalian berada di posisi tertentu dan hanya kalian sendirilah yang bisa merubahnya sesuai posisi yang kalian anggap nyaman. Di tahap akhir, kalian harus melakukan renovasi yang diperlukan jika kalian ingin merubah kualitas rumah kalian sendiri.


Memang, banyak orang yang memberikan tips-tips soal kehidupan, terutama kebahagiaan; entah itu artikel di portal berita online atau majalah atau tabloid, di iklan, atau di status Facebook seseorang . Tapi hal tersebut tidak lebih dari marketing scheme, pengiklanan produk dengan iming-iming memperbaiki kualitas hidup. Boleh membacanya sebagai referensi (bukan patokan), tapi jangan berharap 100% efektif dan berguna untuk kalian.

Jika meraih kebahagiaan bisa semudah itu, berarti nilai kebahagiaan tersebut begitu murah dan tidak akan ada orang yang terseok-seok dalam memperjuangkan kebahagiaannya. Jika dalam meraih kebahagiaan saja kalian mengambil jalan potong, apa yang kalian harapkan dari hidup kalian?

Ciao!

2 thoughts on “Apa Itu Bahagia? (The Remedy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s