Well, jadi pagi ini dihiasi oleh berita-berita nasional mengenai satelit yang diluncurkan oleh salah satu bank terbesar di Indonesia, BRI. Kemarin-kemarin gue nggak sempat menonton berita peluncurannya (yang pada akhirnya batal) dan untungnya, ketika satelit itu benar-benar meluncur, gue mendapat kesempatan untuk menyaksikannya. Sempat pula, sebelum satelit itu meluncur, gue berpikir bahwa satelit BRI akan meluncur kalau ada gue yang menonton. What a happy coincidence.


BRIsat
Source: Google.

Dari awal gue mendengar rencana pembelian satelit ini, gue sudah nggak bisa berkata-kata. Banyak pertanyaan yang muncul di kepala gue; masalah teknis satelit, masalah teknis pembukuan, dan masalah-masalah lainnya. Nah, berhubung gue juga ingin merayakan peluncuran satelit BRI (walaupun BRI tumpengannya baru sebulan lagi), gue akan menceritakan sedikit seputar satelit milik bank terbesar di Indonesia ini.

Bank Rakyat Indonesia merupakan bank terbesar dan menjadi satu-satunya bank di dunia yang memiliki satelit bernama BRIsat. Perencanaan soal pembelian satelit ini sudah dilakukan antara 2-3 tahun yang lalu. Sekilas, keputusan ini terdengar menggelikan karena untuk apa sebuah bank memiliki satelit? Sebelum membeli satelit buatan SSL, BRI tentunya telah mempertimbangkan beberapa hal mengingat pembelian satelit merupakan keputusan besar bagi sebuah perusahaan. Tiga hal utama yang menjadi pertimbangan BRI dalam membeli satelit adalah layanan, efisiensi, dan branding.

.

Layanan

Dalam sistem perbankan modern, jaringan telekomunikasi menjadi sebuah kebutuhan mutlak. BRI, sebagai bank terbesar di Indonesia, memiliki pangsa pasar yang luas yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Mulai dari Sabang sampai Merauke. Mulai dari pedagang kaki lima hingga bisnis besar seperti group. Mulai dari yang tinggal di kota besar sampai yang tinggal di pelosok pulau. Hal ini membuat BRI bergantung kepada jaringan yang waras agar bisa terhubung dengan seluruh cabang dan nasabahnya di seluruh Indonesia.

Sebelumnya, BRI berjaringan dengan menggunakan satelit milik Telkom dan beberapa perusahaan telekomunikasi lainnya yang memiliki satelit. Hal ini pun menjadi kendala bagi BRI ketika terjadi system offline dan error-error lainnya karena kendali terhadap jaringan tidak berada pada BRI. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh BRI kecuali melakukan follow up dan menunggu sampai sistem kembali berjalan.

BRI menilai bahwa dengan adanya BRIsat, berjaringan dan melayani nasabah menjadi lebih mudah karena kontrol terhadap system offline berada sepenuhnya di tangan BRI. Dengan adanya BRIsat pula, para nasabah BRI yang berada di pelosok negeri dapat bertransaksi dengan mudah menggunakan EDC (Electronic Data Capture) yang terhubung dengan satelit. Keberadaan satelit ini juga bisa memudahkan BRI berkomunikasi antar-cabang juga menyimpan data-data perbankan dengan aman. Untuk ke depannya, gue rasa akan ada produk-produk perbankan baru yang lebih canggih dari yang kita kenal sekarang sesuai dengan aset tetap baru milik mereka ini.

.

Efisiensi

Mengingat BRI dulu masih menggunakan jasa perusahaan telekomunikasi Indonesia untuk berjaringan, maka biaya sewa menjadi salah satu pertimbangan besar pula. Dalam setahun, BRI mampu menghabiskan Rp 500-700 milyar untuk membiayai sewa jaringan mereka. Hal ini dianggap lebih mahal dibandingkan memiliki satelit sendiri.

Biaya yang mereka keluarkan untuk membuat BRIsat adalah sekitar 2.5 triliun rupiah. Jumlah ini sudah termasuk biaya menyekolahkan pegawai BRI untuk menjadi staff ahli BRIsat, biaya pembuatan satelit, dan lain sebagainya. Apabila usia sebuah satelit komunikasi adalah 15 tahun, maka BRI harus mengalikan 500-700 milyar tersebut dengan 15. Sedangkan, jika mereka membeli satelit mereka sendiri, mereka hanya perlu mengeluarkan uang sebesar 2.5 triliun di awal dan menghitung penyusutan tiap tahunnya. Sehingga, dari hasil perhitungan inilah, BRI menilai bahwa memiliki satelit sendiri akan lebih efisien dibandingkan menyewa jaringan.

.

Branding

Dari seluruh aspek-aspek yang dipertimbangkan, branding menjadi salah satu aspek utama pengambilan keputusan ini. Seperti yang sudah gue bilang, BRI merupakan satu-satunya bank di dunia yang memiliki satelit. Hal ini menjadi dongkrakan besar dalam membangun image perusahaan. Kalaupun BRI tak lagi menjadi satu-satunya bank yang memiliki satelit, BRI tetaplah menjadi bank pertama yang memilikinya dan hal ini akan tercatat di dalam sejarah, selamanya.

Salah satu contohnya, hanya dengan membeli satelit, awak media berbondong-bondong untuk menyorot berita besar ini. Dengan berita yang dipublikasi secara nasional, seluruh rakyat Indonesia jadi memandang keberadaan BRI dan memberikan tepuk tangan kepada bank raksasa tersebut.

Memang, pamor BRI di kota-kota besar tidak sebesar bank Mandiri dan BCA. Namun, apabila kalian mendatangi pelosok-pelosok Indonesia, maka nama BRI lah yang akan sering didengar. Hal ini juga dikarenakan BRI lebih banyak memiliki UMKM sebagai nasabah mereka dibandingkan bank-bank lain.

.

13343062_871695439602203_2715142300791314217_n
Source: BRI’s Employee.

Setelah mempertimbangkan tiga hal di atas, maka BRI memutuskan untuk membeli sebuah satelit. Keputusan ini juga disetujui oleh pemerintah karena pemerintah dan pihak pertahanan negara juga diuntungkan dalam hal ini. Sayangnya, satelit milik BRI ini tidak boleh dikomersialisasikan karena izin kegunaan BRIsat dibatasi untuk telekomunikasi khusus.

Dalam pemilihan pembuat satelit, BRI mempertimbangkan kejadian di mana satelit Telkomsel yang sempat gagal beroperasi karena masalah teknis. Selain itu, SSL dan Arianespace juga direkomendasikan oleh beberapa pihak untuk membuat BRIsat. Hal ini dikarenakan mereka lebih memilih untuk menunda jadwal peluncuran dibandingkan harus mengalami kegagalan seperti satelit Telkomsel, yang pasti akan merogoh gocek lebih banyak dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membuat ulang satelit.

Mengingat pembuatan satelit ini membutuhkan biaya mencapai 2.5 triliun rupiah, BRIsat mendapat kritik terkait biaya yang besar, pembukuan, keuntungan bisnis, sampai kepengurusan teknis satelit. Sebenarnya, bagi BRI, mengeluarkan biaya 2.5 triliun rupiah tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan keuntungan yang mereka hasilkan tiap tahunnya. Untuk perusahaan yang mencetak laba bersih sebesar 24 triliun rupiah di tahun 2014, mengeluarkan 2.5 triliun rupiah untuk pembuatan satelit terasa seperti membayar parkir di pinggir jalan.

Untuk urusan pembukuan, BRI akan melakukan penelitian di perusahaan-perusahaan telekomunikasi terkait penyusutan dan biaya-biaya lainnya yang harus mereka keluarkan di sepanjang usia satelit. Mencetak keuntungan bisnis setelah membeli satelit juga dirasa akan jadi lebih mudah mengingat BRI kembali mencetak laba bersih senilai 25.2 triliun rupiah di tahun 2015 lalu. Dan seperti yang sudah gue bilang pula, inovasi produk-produk BRI nantinya akan mengikuti setelah adanya BRIsat ini. Sedangkan untuk kepengurusan teknis, seperti yang sudah gue bilang, BRI telah menyekolahkan 5 orang pegawainya untuk mengurusi teknis satelit. Kantor kepengurusan teknis satelit ini bertempat di Diklat BRI yang berada di Ragunan.


Setelah mengetahui seluruh informasi ini, jujur, gue menjadi bangga dengan BRI sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia yang memiliki satelit sendiri untuk berjaringan. Pamor The One and Only juga menjadi predikat BRI saat ini. Keputusan BRI dalam memiliki satelit sendiri juga bukan hanya untuk cari sensasi (mengingat aspek-aspek yang mereka pertimbangkan sangat relevan dengan keputusan mereka). Semoga, dengan adanya BRIsat, perekonomian Indonesia jadi lebih maju.

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s