Date: 16 Juni 2016


Aku berada di sebuah bangunan yang dikelilingi oleh beberapa bangunan setinggi 2 lantai. Gedung-gedung di sekitarku tampak seperti rumah penduduk biasa dengan atap genting berwarna oranye – ada pula yang berbentuk seperti masjid sederhana. Sementara, gedung yang sedang kutempati tampak seperti aula dengan 4 pilar kurus yang menopang atapnya. Di dalam gedung itu pula, aku berdiam diri bersama 20-30 orang asing yang membawa tas besar dan beberapa bawaan mereka lainnya – seperti sedang mengungsi.

Saat itu, ada hujan angin. Angin bertiup begitu kencang sampai menggetarkan dinding dan atap bangunan yang kutempati. Suara hembusan angin terdengar begitu mengerikan – seperti angin topan. Angin itu terkadang berhembus kencang, lalu melambat, lalu kencang lagi, lalu lambat lagi. Mengerikan.

Lucu, sebenarnya, karena bangunan tempatku berada memiliki 4 dinding dan atap yang tertutup. Tapi, entah mengapa, aku bisa melihat bangunan-bangunan yang berada di sekitar aula.

Atap bangunan di sebelah aula tampak mulai rapuh karena diterpa angin terus-terusan. Atap itu bergoyang-goyang sesuai hembusan angin, lalu pada akhirnya lepas dan ikut terbang bersama angin kencang – entah atap itu akan mendarat dimana, aku tidak begitu memikirkannya. Atap aula yang kutempati juga mulai goyah. Empat-lima potongan genting mulai lepas dan terbang. Orang-orang di sekitarku sudah mulai tegang, berharap atap aula yang kami tempati cukup kuat untuk menahan angin ribut itu.

Pada akhirnya, atap bangunan itu lepas. Kami panik dan orang di sebelahku langsung mengajakku dan pengungsi lain untuk pergi meninggalkan aula tersebut. Kami keluar dari gedung dan, entah kenapa, kami tidak terkena rintik hujan ataupun terpaan angin meskipun hujan turun deras dan angin berhembus cukup kencang. Kami berencana untuk pindah gedung, ke tempat yang lebih aman di sebelah aula. Tapi, kami batalkan niat karena gedung sebelah ikut hancur terhantam salah satu atap yang terbawa angin.

Kami berbalik arah, hendak kabur ke tempat lain. Aku menyarankan untuk kembali ke aula terlebih dahulu untuk mengambil barang-barang bawaan kami yang tertinggal. Itu merupakan ide buruk, jika ditelaah dengan logika. Tapi, pria yang tadi berada di sebelahku mengiyakan dan segera menuntun para pengungsi menuju aula untuk mengambil barang-barang kami.


Aku terbangun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s