Note: Ini adalah mimpiku yang kudapat beberapa bulan yang lalu. Mimpi yang cukup aneh karena 2 orang temanku yang merupakan anak SEPENA juga memimpikan hal yang nyaris serupa, dengan latar yang sama, dengan plot berkelanjutan.


Aku mendapati diriku berdiri di salah satu sudut area yang kuingat sebagai sekolah lamaku. Bedanya, aku menganggap bangunan yang menyerupai sekolahku itu sebagai universitas (bukan universitas tempatku kuliah). Aku menyadari diriku sedang berdiri menghadap deretan papan pengumuman di sebuah lorong terbuka. Tidak berapa lama kemudian, dia, seseorang dari masa laluku, datang menghampiri. Gayanya berbeda dengan yang kukenal dulu. Dia seperti berusaha menarik perhatianku, dengan gaya yang menurutku sangat annoying – sama sekali bukan gayanya.

Dia menggodaku, berusaha mengajakku bicara – membicarakan masa lalu – setengah memohon untuk mendiskusikan apa yang sudah lalu. Memang, selalu ada keinginanku untuk mendiskusikan hal ini dengannya, tapi bukan dia yang seperti ini. Kami sempat berargumen – aku menolak, dia setengah memohon dan memaksa. Hingga pada akhirnya, aku mengiyakan dan kami meninggalkan tempat itu bersama, menuju gedung utama kampus.

Kami berjalan menyeberangi sebuah lapangan. Ia menggandeng tanganku, menuntunku seolah ia tahu ke mana aku ingin pergi. Di tengah perjalanan itu, aku berpapasan dengan salah seorang temanku di SEPENA, Tebo. Ia jalan berlawanan arah dariku – aku berjalan menuju gedung, ia berjalan menjauhi gedung. Ketika berpapasan, aku memperhatikan kawanku; ia menggunakan sweater hoodie berwarna putih, di tangan kirinya terdapat antara 2-3 buah buku (salah satunya berwarna merah).

Menyadari itu adalah kawanku, secara tidak sadar aku menyapanya dengan aba-aba (mengangkat dagu sambil tersenyum). Tebo yang menyadari kehadiran dan sapaanku, balas menyapa sambil tersenyum. Lalu, karena Tebo mengetahui sejarahku dengannya, ia memperhatikanku dengan mata yang seolah bertanya, “Kalian balikan?” Ia tampak heran, tapi masih tetap tersenyum kepadaku.

Setelah Tebo berlalu, aku menoleh ke arahnya, lalu menatap tangan kami yang saling genggam. Aku terdiam, lalu menoleh ke belakang, memperhatikan sosok Tebo yang menjauh dan hilang di sudut pintu kantin. Aku merasa bingung akan apa yang terjadi; apa memang aku balikan dengannya? Tetapi, aku tidak menyukai dirinya yang sekarang, tidak mungkin aku balikan dengannya.

Pandanganku teralihkan ketika ia memanggilku yang masih terpaku. Aku menoleh kembali ke dirinya dan melihat senyuman itu. Senyuman yang bukan miliknya.


Aku terbangun.

.

Note: Setelah aku terbangun, di hari yang sama, Aldo mengatakan kepada Tebo di grup SEPENA kalau semalam ia memimpikannya. Aldo mengatakan kalau mereka berdua janjian di perpustakaan kampus (UGM). Saat itu (kalau tidak salah) Aldo sedang menunggu Tebo di perpustakaan bersama seorang temannya yang lain. Lalu Tebo menjawab kalau dia juga memimpikan Aldo. Tapi aku lupa, apa yang dimimpikan Tebo saat itu. Tapi, karena sudah merasa semakin ganjil, aku bertanya kepada Tebo secara personal apa dia benar-benar memimpikan Aldo atau dia hanya bercanda. Setelah ia membenarkan, barulah aku menceritakan mimpiku. Dan di kalimat terakhir, Tebo mengatakan, “Hati-hatilah terhadapku“.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s