Note: Ini merupakan mimpiku bertahun-tahun yang lalu. Hanya sekali aku memimpikan ini, tetapi aku bisa mengingatnya dengan jelas hingga hari ini. Ini merupakan salah satu mimpi yang paling menyisakan bekas misteri di benakku.


Aku dan teman-teman seangkatan SMAku mengikuti sebuah study tour ke Bali. Di sana, kami harus melakukan observasi untuk penelitian sosial. Selama di perjalanan di atas bus, kami melakukan beberapa pemberhentian setiap malam dan setiap kami harus beribadah. Salah satu pemberhentian yang kami berada di sebuah desa di kisaran Jawa Tengah. Kami berhenti di dekat sebuah masjid yang cukup besar untuk ukuran desa yang kecil seperti itu.

Mesjid itu berkeramik putih dan berlantai dua. Luas bangunannya sekitar 200 meter persegi dan bisa menampung hingga ratusan jamaah masjid. Karena aku tidak shalat, jadilah aku berkeliling masjid bersama 3 temanku yang lain selama teman-teman kami yang lain beribadah. Kami berempat juga ditemani oleh seorang guru Fisika yang juga tidak shalat.

Karena aku cukup petakilan dalam urusan mengobservasi tempat baru, maka akulah yang menjadi pemimpin grup mini ini dalam mengitari masjid yang tampak biasa-biasa saja. Lalu, di tengah-tengah berkeliling, aku menemukan sebuah tangga menuju lantai dua. Tangga itu disegel menggunakan papan kayu rapuh agar tidak dilewati oleh siapapun. Akibat rasa penasaran yang sangat tinggi, aku menyingkirkan dua papan kayu yang menyilang tersebut, lalu mengajak ketiga teman dan guru Fisikaku untuk menaiki tangga dan melihat apa yang berada di ujungnya.

Di ujung tangga, kami menemukan sebuah pintu kayu yang tidak dicat. Aku menghampiri pintu tersebut dan membukanya. Rupanya, pintu tersebut menuju ke ruang kosong antara kuba masjid dengan plafon lantai satu. Ruangan itu cukup gelap, hanya ada cahaya dari celah pintu yang kami buka.

Tapi, dari penerangan secukupnya itulah kami melihat sebuah karya berukuran raksasa di depan mata kami. Ada sebuah lampu bulat yang menggantung dari ujung kuba. Di sekitarnya terdapat talang air yang mengelilingi lampu bulat tersebut. Di dalam talang air tersebut, ada beberapa bola berwarna-warni yang berjalan mengitari lampu bulat tersebut akibat dorongan air. Itu adalah miniatur tata surya yang paling keren yang pernah kulihat.

Kami menghabiskan waktu beberapa menit untuk mengagumi karya seni tersebut. Sampai akhirnya, ada seseorang yang menyapa kami dari kegelapan, “Kalian suka miniatur tata surya ini?“. Suara itu mengalihkan pandangan kami kepada sumber suara yang sedang terduduk di sisi kanan kuba – sekitar 10 meter jaraknya dengan kami. Pria itu menggunakan sweater putih dengan hoodie yang menutupi kepalanya. Ia juga mengenakan celana jeans dan sepatu Converse model Chuck Taylor berwarna hitam. Dari jauh, ia tidak tampak seperti penduduk desa – pakaiannya tampak terlalu mahal untuk ukuran orang di desa itu.

Teman-temanku mengacuhkan pria tersebut dan kembali mengamati karya seni di hadapan mereka. Sementara, aku terus memperhatikan pria di seberang kami. Entah kenapa, dia tampak begitu familiar, aku seperti mengenalnya, tetapi tidak tahu kenal dimana dan siapa namanya.

Dulu,” ia membuka mulut, “Ada seorang lelaki yang jatuh cinta kepada seorang gadis. Lelaki ini adalah seorang pekerja seni, sedangkan si gadis adalah anak dari kepala desa. Mereka berdua saling jatuh cinta dan berencana untuk menikah. Mereka ingin memberitahukan orang tua si gadis mengenai kabar gembira ini. Tapi, ayah sang gadis tidak menyetujui pernikahan tersebut. Ia sempat marah karena tidak menerima putrinya dinikahi oleh seorang pekerja seni yang tidak jelas penghasilannya. Ia kemudian menyuruh keduanya untuk memutuskan hubungan dan sang gadis berakhir di dalam rumah – dikurung.

Aku memperhatikan.

Karena tidak bisa melupakan gadis yang dicintainya, lelaki itu akhirnya membuat sebuah maha karya yang terbuat dari barang bekas untuk dipersembahkan kepada ayah si gadis – berharap maha karya tersebut bisa menggugah hati pria paruh baya itu. Selama berminggu-minggu, lelaki itu mengurung diri di dalam kuba ini untuk menyelesaikan maha karyanya yang berupa miniatur tata surya. Selama berminggu-minggu, lelaki itu tidak tidur demi menyelesaikan maha karyanya secepat mungkin.

Aku terus memperhatikannya.

Begitu karya tersebut selesai, lelaki itu langsung berlari menuju rumah si gadis untuk memanggil orang yang dicintai berserta ayahnya. Tapi, begitu sampai di sana, yang ia temukan hanya rumah kosong yang tidak lagi berpenghuni. Lelaki itu kebingungan dan bertanya kepada tetangga sang gadis. Ia langsung terpukul begitu mengetahui kalau gadis itu sudah dinikahkan dengan seorang lelaki lain – apalagi tanpa memberitahukan kabar ini kepada dirinya.

Dengan langkah terhuyung, lelaki tersebut kembali menuju kuba, kembali ke pelukan maha karyanya yang tak lagi memiliki tujuan. Setelahnya, pria itu terus duduk di dalam kegelapan bersama maha karyanya tanpa pernah beranjak meninggalkan miniatur tata suryanya.

Firasatku sangat kuat dan mengatakan kalau pria ber-hoodie putih itulah lelaki yang dimaksud.

Lalu, lelaki itu melanjutkan sambil menatapku dalam-dalam, “Ini adalah bukti cinta lelaki itu terhadap seorang gadis.

Dari tatapan itu, aku bisa merasakan kesedihan, keputus-asaan, dan amarah. Dan aku merasa kalau orang yang dicintainya adalah aku, walaupun ia sudah menekankan bahwa orang yang dicintainya adalah seorang gadis. Aku hanya bisa terdiam menatap lelaki di seberang kuba, ditemani miniatur tata surya berbalut kegelapan. Hanya ada kami berdua. Teman-teman dan guruku menghilang entah ke mana.


Lalu, aku terbangun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s