0A2AAC66-430D-4203-9422-E87F891D69AC

Date: 28 Juni 2016


Aku sedang berjalan-jalan di sekitar Al-Azhar Pusat Kebayoran Baru bersama mobilku, Pablo. Di sana, di deretan yang sejajar dengan Roti Bakar Eddy, terdapat banyak booth jualan seperti di sebuah bazar. Aku memarkir Pablo di suatu sudut di antara booth-booth bazar tersebut, lalu turun bersama seorang temanku untuk mencari es cendol – minuman yang sudah kuidam-idamkan sejak awal bulan puasa. Untuk mencari keberadaan tukang cendol tersebut, aku pun berjalan melewati deretan pedagang-pedagang yang membuka lapak tepat di seberang gerbang sekolah Islam tersebut. Produk-produk yang dijual di booth-booth tersebut tampak seperti barang antik dari etnis China. Ada guci, lukisan dinding, peralatan makan, pajangan, aksesoris, dan lain sebagainya.

Di tengah-tengah pencarian, aku sampai pada sebuah booth yang menjual pakaian casual. Tempat itu tidak tampak seperti booth, menurutku, tempat itu justru tampak seperti toko pakaian di sebuah mall dengan tampilan interior di gedung Jakarta Fair. Aku sampai pada satu pojok etalase pakaian yang menjual celana berwarna hitam yang dilengkapi suspender (setelah kuingat lagi, modelnya sedikit mirip overall). Di sampingnya, terdapat kemeja berwarna gelap dengan model kerah shanghai.

Aku langsung tertarik dengan dua stel pakaian tersebut dan berniat mencobanya di fitting room. Tapi, saat sedang mencari-cari item yang sesuai dengan ukuranku, seorang pramuniaga lelaki menegur kami (aku dan kawanku tadi) untuk tidak bermain-main dengan produk jualan mereka. Kesal karena asal dituduh, aku pun balas membentak dan menjelaskan kalau aku sedang mencari-cari item yang sesuai dengan ukuran tubuhku sebelum membawanya ke fitting room.

Akhirnya, begitu menemukan ukuran yang menuruku pas, aku dan kawanku bergegas berjalan menuju fitting room yang berada tidak jauh dari etalase pakaian tadi. Aku dan kawanku memasuki ark menuju fitting room, tetapi, yang kutemukan di sana bukanlah fitting room yang biasa kutemui di toko pakaian pada umumnya. Aku menemukan sebuah lorong dengan banyak pintu di kiri-kanannya – sekilas memang tampak seperti fitting room biasa, hanya saja terlihat lebih luas dan megah.

Lorong yang aku temui berbelok ke arah kanan di ujungnya. Di kiri-kanan lorong terdapat pintu-pintu kayu dengan aksen putih – semuanya tertutup. Dinding, lantai, dan langit-langit fitting room tersebut berwarna biru kehijauan, seperti dinding yang dilapisi kaca. Meskipun itu sebuah bazar, tapi fitting room tersebut kosong, hanya ada aku dan kawanku berdua di sana.

Aku meminta temanku untuk membuka pintu pertama di sebelah kiri karena tanganku penuh dengan pakaian yang ingin kucoba. Tapi, begitu dibuka, yang kami temukan di sana bukanlah fitting room, melainkan sebuah stall toilet berukuran 2×2 meter. Terlalu luas untuk ukuran sebuah stall toilet. Klosetnya pun cukup besar seperti menyeimbangi ukuran stall-nya. Akhirnya, aku pun membuka pintu kedua dan menemukan hal yang sama.

Saat itu pula aku langsung berpikir bahwa aku sedang berada di sebuah kamar ganti di kolam renang. Karena stall di sebelah kiri lorong adalah toilet, pastilah di sebelah kanan tidak akan jauh berbeda dari yang di sebelah kiri. Akhirnya, aku dan temanku berjalan menuju ujung lorong yang berbelok ke kanan. Ketika sampai di ujung, aku hanya mengintip ke bagian kanan ruangan tersebut untuk melihat stall apa yang berada di sana – ternyata itu adalah shower.

Aku bingung dan bertanya kepada temanku, “Kalau ini toilet dan itu adalah shower, lalu mana kamar gantinya? Kamar yang kering supaya pakaiannya tidak basah.

Karena tidak ada niatan untuk menelusuri sisi sebelah kanan, akupun berbalik dan menghadap dinding ujung lorong (yang terdapat wastafel dan cermin). Aku, kemudian, menyadari bahwa ada seseorang yang mengintip dari celah antara ujung dinding wastafel – yang hanya dibangun tiga perempat dari tinggi lantai ke langit-langit – dan menyadari bahwa itu adalah pramuniaga yang menegur kami tadi. Masih kesal dengan yang tadi, aku pun segera membentak dan memarahi pramuniaga tersebut.

Seolah kaget dan tertangkap basah sedang mengintip, ia langsung berlari ke pintu belakang ruang ganti (pintu yang menuju kolam renang). Tanpa kusadari, aku langsung mengejar pramuniaga tersebut menuju pintu belakang – tidak berlari, hanya berjalan cepat mengejarnya. Begitu sampai di ambang pintu keluar, aku menemukan sebuah tangga turun menuju halaman kolam renang yang terbuat dari batu. Di sana, pramuniaga tersebut berhenti di tengah-tengah sambil takut-takut menatapku.

Entah sejak kapan aku sudah memegang pisau lipat hitamku di tangan kanan. Pramuniaga tersebut takut-takut melihat ke wajahku kemudian ke pisau di tangan kananku. Ada pula aku menangkap ia menatap bagian belakangku – tapi tidak aku gubris karena sudah terlalu kesal. Lalu, dia bertanya, “Apa itu (di tangan kananmu)? Apakah itu benda yang membuat dirimu dijaga oleh 3 orang tua di belakangmu?

Aku bingung sekaligus terkejut mendengarnya. Tidak ada yang tau soal pisau lipatku ini kecuali aku dan beberapa orang teman dekatku. Saat itu aku juga merasa, ketika pisau lipatku dibuka, maka akan ada 3 makhluk astral yang keluar dan menjagaku dari belakang. Aku merasa mengenal ketiga orang tua tersebut dan merasa percaya (trust) pada mereka seperti leluhurku sendiri. Dan entah mengapa, aku merasa pramuniaga lelaki itu bisa melihat 3 orang tua yang saat itu sedang berdiri di belakangku.


Aku terbangun.

Note: Aku tidak tahu kalau di dalam pisauku berisi 3 makhluk astral sebelum aku bermimpi hal ini. Di dalam pisauku memang diisi sesuatu, tetapi hanya energi, bukan makhluk astral. Tidak semua orang kuperbolehkan memegang pisau ini karena suatu hal (salah satunya karena pisau ini adalah senjataku, sehingga harus diperlakukan dengan penuh hormat – sebuah tradisi dari leluhurku). Yang menjadi pertanyaanku adalah siapa yang seenaknya memasukkan 3 makhluk ke dalam pisauku ini?

Note 2: Aku baru ingat kalau teman yang bersamaku di mimpi ini adalah Gabby. Dia bercerita kepadaku kalau beberapa malam terakhir ini dia selalu memimpikan hal yang sama (di setiap mimpi, scene-nya merupakan kelanjutan dari mimpi sebelumnya). Ia menceritakan tentang kamar mandi yang mirip sekali dengan apa yang kulihat di mimpi ini. Denahnya, warna dindingnya, aura mistisnya, semuanya. Bedanya, di dalam mimpi itu ia selalu sendirian dan berjalan menuju pintu di ujung lorong (sisi sebelah kiri, dekat dinding wastafel).

Note 3: Keeping track of my own dreams turns out to be the best decision I’ve made in an entire month.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s