Well, judul postingnya mengindikasikan gue bakal ceramah panjang lebar tentang sedekah dan manfaat sedekah. That’s true, but not the way you guys picture it. Gue menulis tentang sedekah ini karena dari kemarin terpikirkan satu kalimat yang berbunyi, “Bekerjalah dengan giat, supaya dapat banyak uang, supaya bisa sedekah.

Kurang lebih, gue sering mendapat wewenjang demikian di masa-masa kuliah gue. Dimana gue dimotivasi untuk mengejar karir supaya bergaji besar, dapat uang banyak, supaya bisa memenuhi kebutuhan, supaya bisa membeli apa yang kumau, dan supaya bisa sedekah (karena hal ini yang terpenting, katanya). Gue nggak melihat ada yang salah dengan wewenjang tersebut – hanya saja wewenjang tersebut bertentangan dengan apa yang gue inginkan.

Dari dulu, gue mengartikan sedekah adalah memberi untuk membantu saudara-saudara kita yang kekurangan. Banyak pula gue lihat orang-orang bersedekah menggunakan uang dengan menyalurkannya ke badan amal. Ada pula yang menyumbangkan pakaian bekas, buku bekas, atau makanan. Tapi, tetap saja, sedekah uang lebih populer dan banyak dilakukan oleh orang-orang.

Gue pun sering bertanya kepada mereka yang memberi wewenjang untuk sedekah uang, “Kenapa harus uang SAJA?“, kebanyakan mereka menjawab karena hal tersebut lebih membantu kaum duafa dibandingkan menyumbangkan benda-benda lain. Jawaban lain yang gue dapat adalah karena uang lebih terukur besarannya dan terlihat jalurnya jika disalurkan lewat badan amal. Intinya, gue menangkap bahwa sedekah uang jauh lebih cepat dan lebih simpel dan less effort daripada sedekah yang lainnya.

Setelah gue menangkap attitude tersebut, gue pun berpikir; kenapa sedekah harus cepat, simpel, dan less effort? Bukankah inti dari sedekah adalah memberi? Bukankah inti dari sedekah adalah meringankan beban saudara kita? Kenapa yang ditekankan harus sedekah duit/uang?

.

Jika ditanya apa yang ingin gue berikan kepada saudara-saudara yang membutuhkan, gue akan menjawab waktu dan ilmu. Gue sangat suka meluangkan waktu untuk teman-teman gue (entah itu untuk mendengarkan curhatan atau semacamnya), dan impian gue dari dulu adalah menjadi pengajar atau tutor. Jika kitab-kitab suci menyuruh kita untuk menyumbangkan sebagian harta kita untuk yang membutuhkan, maka waktu dan ilmu adalah harta gue – dan hal inilah yang akan gue berikan kepada mereka yang membutuhkan.

Salah satu alasan kenapa gue nggak tertarik untuk bekerja kantoran atau pekerjaan lain yang menyita terlalu banyak waktu dan perhatian adalah karena hal ini. Gue tau budaya pekerja kantoran seperti apa dan bagaimana kepribadian mereka secara general di lingkungan sosial. Gue memandang pekerja kantoran lebih fokus terhadap diri mereka sendiri, harta mereka sendiri, dan kesuksesan karir mereka sendiri. Waktu dan ilmu dipakai untuk mencapai kebahagiaan sendiri, sehingga yang tersisa untuk lingkungan sosial hanyalah ampas-ampas kelelahan. Intinya, pekerja kantoran terlalu individualis.

Dari pandangan gue tersebut, gue merasa menyumbangkan uang adalah aktivitas yang paling kurang rasa kemanusiaannya. Nggak sedikit orang-orang yang menyumbangkan uang agar terlihat dermawan atau sekedar ajang pamer banyak-banyakan harta materil – sehingga ujung-ujungnya malah riya. Dan bukan mustahil dengan gerakan seperti ini rasa kemanusiaan justru terkikis karena membantu orang tak lagi membutuhkan effort, bisa dilakukan tanpa perasaan/hati, dan lebih menunjukkan strata sosial. Dan nggak sedikit pula orang-orang yang memanfaatkan ‘kedermawanan’ tersebut dengan mengeksploitasi anak jalanan, berpura-pura menjadi difabel, menjadi pengamen (padahal cuma bikin suara berisik yang mengganggu kenyamanan, bukan nyanyi atau main musik), dan lain-lain hanya demi mendapatkan instant money.

Kenapa? Karena tak ada lagi rasa kemanusiaan. Toh, kalaupun para kaum berpunya memberikan uang, sebagian besar dari mereka nggak benar-benar peduli dengan kaum yang membutuhkan. Sehingga kemanusiaanpun mati, tak ada lagi kehangatan yang dirasakan oleh kaum duafa, dan merekapun berubah menjadi antipati terhadap kaum berpunya dan sesamanya. Ketika kita tak memberi uang ketika mereka meminta, mereka marah. Karena, deep down, mereka merasa bahwa kalian tak peduli dan tak sudi memberikan uang walau cuma goceng (ngasih goceng aja medit banget, gimana ngasih waktu, ilmu, dan kehangatan?), sehingga mereka merasa tersinggung dan tersingkirkan – mereka merasa nggak pantas untuk dipandang hanya karena strata sosialnya berbeda.

.

Kalau dibilang jarak antar-kaum sudah semakin lebar, ya memang begitu kenyataannya. Banyak gue melihat kaum ‘berpunya’ menjadi antipati dengan kaum duafa dan begitu pula sebaliknya. Semakin dipelihara ke-antipati-an mereka, semakin lebar pula jarak yang tercipta. Dan karena semakin lebar, semakin asing dan semakin antipati pula mereka antar satu sama lain. Ya udah, jadi lingkaran setan.

Oleh karena itu, gue lebih suka menyumbangkan waktu dan ilmu ketimbang duit. Selain karena gue ingin berbagi perhatian kepada mereka yang membutuhkan, hal itu juga merupakan panggilan hati gue. Banyak, sebenarnya, gerakan-gerakan seperti ini, hanya saja kurang dapat banyak perhatian atau dukungan dari orang yang suka koar-koar tentang sedekah. Mungkin karena mereka nggak mendapat keuntungan dari kegiatan tersebut – karena hal tersebut membutuhkan keikhlasan maksimal dan pengorbanan tanpa mengharap imbalan.

Gue bukan menekankan dimana kita harus sedekah dengan waktu dan ilmu, tapi, at least, put effort when you want to share your belongings to people in need. Kalau kepepet ya boleh pake duit, but, other than that, try to do something that could give an actual impact in people’s life. Try to absorb the happiness from other people’s happiness instead from materials you gain from selling your soul. Try to give to make people smile, instead of give to letting go obligation. Try to be less individualist, selfish, ignorant asshole. Try not to be a heartless bitch. Stop climbing your career only for personal gain, no one will remember you by that because you’re replaceable. Be a human being instead of being soulless tool that capitalists use to climb the social ladder.

My last advice is to spread warmth instead of (just) money.


Ciao!

2 thoughts on “Sedekah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s