Beberapa hari yang lalu, gue membaca sebuah judul berita dimana mendikbud yang baru ingin menambahkan jam sekolah untuk tingkat SD-SMP. Alasannya sederhana, agar anak tidak tumbuh liar ketika ditinggal bekerja oleh orang tuanya. Katanya, lebih baik anak-anak itu berada di sekolah sampai orang tua mereka pulang bekerja. Waktu di sekolah bisa mereka gunakan untuk mengerjakan tugas dan diajari soal agama oleh para mentor yang jelas latar belakangnya.

Tujuannya sih, baik, tapi caranya bodoh. Gue merasa penambahan jam sekolah untuk tingkat SD-SMP sangat nggak efektif dan juga bisa merusak psikologi anak dalam beberapa aspek. Masih banyak alternatif yang bisa digunakan mendikbud untuk mencegah generasi muda menjadi liar. Salah satunya ya, perubahan kurikulum yang seolah-olah ingin membunuh para generasi muda bangsa ini.


Pada usia SD-SMP, anak-anak seharusnya lebih bebas dan tidak terikat pada peraturan ketat sekolah sepanjang hari. Banyak hal dari anak-anak usia segitu yang harus dikembangkan di luar sekolah, salah satunya skill bersosialisasi. Apakah sekolah tidak mendukung perkembangan skill bersosialisasi anak? Tidak juga. Hanya saja, ketika di sekolah, lingkungan sosial yang mereka hadapi cenderung homogen, khususnya untuk sekolah swasta.

Ketika bersosialisasi di sekolah, mereka hanya akan berhadapan dengan kawan-kawan yang latar belakangnya kurang lebih mirip dengan latar belakang mereka. Mereka cenderung memiliki banyak kemiripan sehingga memudahkan mereka untuk berinteraksi dan berbaur dengan seusianya. Tantangan yang mereka hadapi tidaklah banyak; hanya terletak pada cara berkomunikasi saja. Sementara, jika mereka bersosialisasi di luar lingkungan sekolah, mereka akan bertemu dengan berbagai macam orang dari berbagai macam latar belakang. Dengan adanya keragaman itu, tantangan pun semakin bertambah, sehingga mampu mengasah kemampuan sosial mereka dengan baik.

Itu baru membicarakan anak yang cukup beruntung untuk bisa berbaur dengan kawan-kawan sekolahnya. Bagaimana dengan anak-anak yang tergolong berbeda sehingga menerima perlakuan tidak menyenangkan dari kawan-kawan di sekolahnya? Apakah anak-anak tersebut harus menerima bully-an seharian penuh demi menghindari pergaulan liar? Apakah mereka harus merubah kepribadian mereka sendiri demi diterima lingkungan sekolahnya yang buruk?

.

Dalam aspek lain, anak-anak di usia SD-SMP masih membutuhkan waktu bermain. Hidup nggak melulu tentang sekolah. Mereka juga butuh hiburan untuk melonggarkan syaraf otak yang sudah ditarik secara brutal selama mereka berada di sekolah. Waktu bermain inilah yang akan melatih kreativitas mereka karena imajinasi mereka akan banyak berperan dalam menciptakan hiburan untuk diri mereka sendiri. Selain itu, waktu bermain bisa mereka gunakan untuk eksplorasi diri; mencari tahu apa yang mereka suka dan yang tidak, mencari tahu kelebihan dan kelemahan mereka, dan mencari tahu karakter mereka yang sebenarnya.

Hal ini tidak akan mereka dapatkan di sekolah karena, jujur saja, sekolah bahkan masih memasang peraturan-peraturan yang tidak masuk akal ketika anak-anak sedang bermain. Terkadang guru masih terlalu ikut campur dalam imajinasi anak sehingga mereka tidak leluasa dalam mengeksplorasi ataupun mengekspresikan diri. Ambil contoh saja ketika seorang anak sedang mewarnai. Warna rumput atau daun saja dikomentari, “Rumput kan warnanya hijau” – YA MEMANGNYA KENAPA KALAU MEREKA MAU MEWARNAI RUMPUT DAN DAUN SELAIN WARNA HIJAU, ANJENG?! :’)

Terkadang juga, guru suka mengomentari ketika seorang anak begitu menikmati satu kegiatan seperti membaca buku atau menggambar. Banyak gue dengar seorang guru yang berkomentar, “Baca buku mulu” atau “Menggambar mulu“. Dengan santainya tim pendidik mengusik ketentraman seorang anak dalam melakukan hobinya. Ada pula guru yang berkomentar seputar gender role – anak laki-laki harus bermain di luar dan anak perempuan bermain di dalam.

Ditambah lagi, ketika berada di sekolah lebih lama, mau tidak mau sekolah harus menyediakan jadwal untuk anak didik mereka agar kegiatan mereka dinilai ‘teratur’. Padahal, jika berada di luar sekolah, anak-anak bisa lebih leluasa memilih kegiatan; entah itu mengerjakan tugas sekolah, bermain bersama teman-temannya, atau sekedar beristirahat di rumah.

.

Ngomong-ngomong soal istirahat, anak-anak usia SD-SMP juga masih membutuhkan waktu istirahat yang panjang. Mereka masih butuh tidur siang, masih butuh waktu bersantai di rumah sambil ongkang-ongkang kaki. Apabila mereka dipaksa untuk tetap berada di sekolah, waktu istirahat mereka terpotong sangat drastis dan tergantikan dengan rasa lelah yang bertambah dua kali lipat. Asal tahu saja, kursi sekolah itu tidak nyaman.

Dengan adanya paksaan untuk berkegiatan lebih panjang yang menciptakan kelelahan berlipat ganda, bisa dipastikan anak-anak didik akan merasa jenuh. Jenuh bukan karena tidak ada kegiatan atau hanya melakukan kegiatan yang itu-itu saja, tapi jenuh karena syaraf otak yang sudah lelah dan meminta untuk diistirahatkan. Hal ini akan berpengaruh terhadap kondisi emosional anak. Umumnya ketidakstabilan emosional ini akan membuat anak jadi mudah marah atau mengamuk, sehingga mampu menciptakan perilaku agresif pada anak. Bisa juga amarah dan amukan itu diredam dengan hukuman yang diharapkan bisa membuat mereka jera. Tapi ya, silakan tabung duit anda sebanyak-banyaknya untuk terapi anak anda dan membeli ratusan butir anti-depressant kelak.

.

Inter dan intrapersonal skill, kreativitas dan insight terhadap diri sendiri, dan stabilitas emosional adalah bumbu-bumbu penting dalam pembentukan karakter anak. Akan sangat disayangkan jika mendikbud mengorbankan bumbu-bumbu tersebut demi mencegah hal bernama ‘perilaku liar’. Padahal, perilaku liar bisa dicegah dengan pendidikan karakter tanpa harus memperpanjang waktu sekolah. Pendidikan karakter juga dapat mengasah bumbu-bumbu tersebut secara teori atau bahkan praktik.

Waktu sekolah yang ada sekarang saja sudah cukup panjang, menurut gue. Ini mau ditambah lagi sampai jam pulang kerja. Gue nggak ngerti apakah mendikbud mencoba menciptakan orang atau robot atau bahkan budak yang kelak akan bekerja di korporasi-korporasi besar. Sedih aja ngeliat solusi yang ditawarkan oleh MENDIKBUD justru nggak efisien ataupun strategis. Untuk mengatasi satu masalah, harus mengorbankan banyak aspek penting kayak orang panik habis eek di celana.

Jujur saja, perpanjangan waktu sekolah hanya akan menerima banyak dukungan dari kalangan orang tua pemalas yang cuma tau cara bikin anak, dan akan mendapat banyak kritik dari para pengamat. Mengurus anak itu memang nggak gampang. Makanya, mikir dulu, jangan asal bikin. Pikirkan soal biaya pendidikan mereka, pikirkan bagaimana pembagian waktu kalian antara kerjaan dan anak.

Terkadang orang tua lupa, kalau anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Tapi anak selalu dibuat merasa berhutangbudi karena telah dilahirkan. Nggak usah sombong lah. Kalian itu melahirkan manusia, bukan kacang polong. Kebutuhan manusia bukan cuma material, tapi juga psikologis dan emosional. Kalau cuma bisa memenuhi dari segi material, pelihara kucing aja.


Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s