“Nggak sesimpel itu! Lo naif kalau memandangnya seperti itu.”

Gue nggak pernah ngerti sama orang yang menganggap suatu masalah sebagai hal yang rumit. Pada dasarnya, memang nggak ada masalah yang sederhana, karena kalau sederhana, ya nggak akan menjadi masalah. Tapi, bukan mustahil bagi kita untuk menyederhanakan pemetaan masalah demi menyelesaikannya. Dan, sebetulnya, bitching tentang seberapa rumit masalah yang kita hadapi itu nggak ada gunanya. Waspada dengan buang-buang waktu itu beda tipis.

Dalam menghadapi sebuah masalah, tentunya yang kita harapkan adalah selesainya masalah tersebut sesegera mungkin. Untuk menyelesaikan sebuah masalah, penting hukumnya bagi kita untuk mempelajari masalah tersebut hingga paham seluk-beluknya. Apabila kita sudah memahami permasalahan hingga ke pemetaannya, maka kita bisa menyederhanakan permasalahan yang ada untuk keperluan problem-solving. Memandang sesuatu dengan sederhana bukan berarti naif, itu hanya cara gue untuk tidak membuang-buang waktu dalam penyelesaian masalah.

Sejujurnya, bagi gue, orang-orang yang terus mengeluh atau berkoar-koar tentang betapa rumitnya masalah yang mereka hadapi, tidak lebih dari anak kecil yang manja dan penuh drama. Permasalahan hidup memang pelik, tidak ada hidup yang mudah ataupun orang-orang yang ‘cukup beruntung’ untuk memiliki masalah yang sederhana. Yang ada hanyalah orang-orang dewasa dalam menghadapi masalah, atau bocah manja yang senang buang-buang waktu.

.

Tidak sedikit gue menemukan orang-orang yang merumitkan masalahnya sendiri daripada menyederhanakannya. Kalau bisa kita sederhanakan, kenapa harus dirumitkan?

Gue sendiri, setiap problem-solving, biasanya gue memasang target untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Pemasangan target tersebut lebih mengacu kepada time-management dan menembak masalah tersebut di timing dan di titik yang akurat. Sebelum menentukan deadline, tentunya gue harus mempelajari masalah dan membandingkan besaran masalah dengan pengalaman yang gue miliki. Semakin miskin pengalaman, maka semakin lama pula penyelesaiannya karena dalam pembelajarannya akan memakan waktu yang lebih panjang dibanding masalah yang familiar.

Dalam problem-solving, gue tergolong orang yang cepat tanggap terhadap masalah gue sendiri. Gue bisa mengkategorikan langkah penyelesaian masalah gue sebagai efisien dan cepat. Gue bisa mengatakan kalau masalah gue itu sederhana ketika gue sudah bisa menyediakan minimal 3 backup plan. Sayangnya, kecepatan dan keakuratan penyelesaian masalah ini hanya bisa gue lakukan ketika gue menyelesaikannya sendirian — makanya, gue jarang melibatkan orang lain dalam penyelesaian masalah gue karena jarang ada yang bisa mengikuti kecepatan langkah-langkah gue — dan gue cenderung menemukan kesulitan ketika gue sudah melibatkan orang lain ke dalam rencana problem-solving gue.

Ketika harus menyelesaikan masalah sebagai tim, gue cenderung ingin memimpin ketika gue sudah paham betul duduk permasalahannya; dan sebaliknya, ketika gue nggak paham betul, gue lebih ingin dipimpin daripada memimpin. Kesulitan-kesulitan ini biasanya muncul ketika gue berhadapan dengan orang yang sama dominannya dengan gue (sama-sama ingin memimpin) atau bertemu dengan orang yang tidak paham dengan duduk permasalahan (sok tau, tapi ingin terus memimpin) atau justru ketika gue bertemu dengan pemimpin yang keras kepala (menjadi pemimpin karena kesenjangan sosial).

Untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ini, biasanya gue punya dua cara; menyikapi dengan dewasa atau menjadi passive-agressive. Ketika gue bertemu dengan orang-orang yang sama dominan atau tidak paham dengan duduk masalah, gue cenderung lebih dewasa dalam menghadapi mereka. Kedewasaan ini gue tunjukkan dalam bentuk saran dan kritik yang membangun untuk membantu kelangsungan problem-solving. Dan ketika berhadapan dengan orang-orang keras kepala nan sok tau, biasanya gue akan menjadi passive-agressive sebagai bentuk protes atau sekedar menyindir (I’m not really proud of this, guys. Jangan ditiru).

.

Overall, itulah cara gue menyelesaikan masalah-masalah gue secara teori. Dan memang, melakukan tidak semudah mengatakan. Setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam menyelesaikan masalah mereka masing-masing. Tapi ya, minimal, ketika bertemu masalah sulit dan melihat orang seperti gue, jangan berasumsi kami naif atau dangkal hanya karena gue menyebut suatu masalah sebagai sederhana. Dan hanya karena suatu masalah terlihat rumit, bukan berarti nggak bisa disederhanakan. Toh, kita menyederhanakan sesuatu juga tujuannya untuk menyelesaikan masalah, bukannya meremehkan. Nggak ada gunanya kita takut sama masalah hanya karena masalah tersebut terlihat rumit. Masa iya kita menjadi budak dari masalah-masalah kita sendiri?

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s