Udah cukup lama gue nggak update di blog, rupanya. Terlalu banyak kejadian yang terjadi di beberapa bulan terakhir, yang cukup menyita perhatian, tenaga, dan iman. Bisa dibilang, hidup gue berubah dalam kurun waktu kurang dari 3 bulan. Semua dimulai dari bulan Oktober di mana gue memutuskan untuk kuliah di luar negeri dan minggat dari Indonesia for good.

Di awal 2016, gue memang berencana untuk pindah ke luar negeri dan memulai hidup baru entah di mana pun. Awalnya gue pingin hidup di Prancis karena saat itu gue juga lagi les bahasa Prancis dan waktu itu, gue sisa satu level lagi untuk memenuhi syarat untuk apply sekolah di sana. Tapi, yang namanya hidup — terutama hidup gue — nggak pernah sukses kalau gue rencanakan dengan matang. Semua memang harus dadakan dan menguras tenaga karena harus sukses dalam waktu yang singkat.

Sepanjang tahun 2016 gue habiskan dengan leha-leha karena gue udah berhenti kuliah di Atma. Saat itu gue cuma lagi pingin jalan-jalan keliling kota-kota di Indonesia dan menikmati waktu kosong gue sebagai pengangguran kelas kakap. Sampai akhirnya di bulan September, bokap menawarkan untuk kuliah di luar negeri dengan major yang memang ingin gue tekuni dari dulu: sekolah menulis di Melbourne. Begitu tahu tentang sekolah itu, gue langsung mengiyakan karena gue juga terlalu malas buat research tentang jurusan tersebut di negara lain.

Begitu akhir bulan September, setelah gue pulang dari Bali, gue langsung menyiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk pendaftaran kuliah di Australia. Persyaratannya nggak banyak dan menurut gue, nggak terlalu ribet kayak di Indonesia (mungkin karena gue juga menggunakan jasa agency, jadi nggak ribet-ribet amat). Semua persyaratan itu langsung gue serahkan begitu masuk bulan Oktober karena pendaftaran (katanya) bakal tutup di pertengahan Oktober (untuk intake Februari). Dan setelah semua berkas kelar, gue kembali leha-leha sambil menunggu surat keputusan dari kampus.

Cuma dalam waktu 2 minggu, surat keputusan pun keluar dan gue keterima di sebuah universitas setelah sebelumnya gue apply buat 2 universitas: RMIT dan Melbourne Polytechnic. Di RMIT, mereka memberi gue beberapa task menulis untuk kelanjutan pendaftaran gue. Tapi, karena lagi-lagi gue terlalu males beribet-tibet, gue mengabaikan panggilan RMIT dan fokus ke Melbourne Polytechnic.

Bokap sempet meng-encourage gue untuk lanjutin pendaftaran di RMIT karena RMIT katanya universitas yang cukup ternama di Aussie. Mendengar gelar tersebut, gue jadi semakin males. Secara, gue maunya kuliah yang santai-santai aja, nggak lagi mengejar nama almamater kayak dulu pas awal-awal kuliah. Bagi gue, dua-duanya sama aja. Ilmu yang gue dapet sama, gelar yang akan gue dapatkan pun juga sama. Jadi, kenapa dibedakan hanya karena kelas popularitas?

Akhirnya, gue pun resmi jadi mahasiswa MP. Sehingga, yang tersisa hanyalah pengajuan visa student.

Sebelumnya, gue sudah mengajukan visa visitor ke Kedubes Aussie karena rencananya bulan November mau berkunjung ke sana untuk melihat-lihat kotanya, mencari tempat tinggal, dan melihat calon kampus gue. Tapi, gue sempat bingung karena katanya ELICOS gue membutuhkan waktu 10 minggu — which means, gue harus udah ada di Melbourne dari bulan Desember atau akhir November. Dan, lagi-lagi karena bermodalkan kemalasan, gue meminta sama agency untuk mendaftarkan gue ke ELICOS yang cuma memakan waktu 4 minggu. Toh, skor IELTS gue nggak jelek-jelek amat, jadi kenapa gue harus bayar mahal-mahal ELICOS 10 minggu? 4 minggu aja gue udah bosen.

Nah, sambil menunggu keputusan dari MP tentang ELICOS 4 minggu, gue pun mencoba menghubungi teman-teman yang gue anggap perlu tahu tentang keputusan gue ini. Awalnya, gue males ngasih tahu teman-teman karena gue berencana pergi diam-diam dan ngasih tahunya pas gue udah di sana aja. Agak malas dengan perpisahan berikut dengan dramanya. Tapi, saat itu Kai mengatakan ke gue kalau itu nggak sopan dan gue kudu wajib firaun untuk mengabarkan hal ini, at least ke teman-teman akrab gue saat itu.

Gue pun mengiyakan.

.

Salah satu juru kunci yang juga membelokkan dan membuat hidup gue berubah drastis adalah keputusan gue untuk membiarkan Kai kembali menghubungi Sherly. Gue dan Sherly sempat ada masalah personal yang membuat gue dan dia tak lagi berkomunikasi dalam bentuk apapun. Kai menekankan kalau Sherly adalah satu-satunya teman dekat yang dia punya. Dan, sejak Kai juga bakal ikut pindah sama gue (mau nggak mau), dia mau mengucapkan salam perpisahan ke Sherly dan meminta gue untuk berlapang dada membolehkannya bertemu muka dengan cabe keriting yang satu itu.

Gue sebenarnya nggak ada masalah kalau Kai berhubungan dengan Sherly karena bagi gue, masalah yang gue punya dengan Sherly adalah masalah personal gue yang nggak ada hubungannya dengan Kai. Gue sempat merasa aneh kenapa Kai sampai harus meminta izin sama gue begitu. Tapi, ya sudah lah, gue memberi izin aja walau izin gue nggak berpengaruh apa-apa dengan keputusannya untuk menghubungi jenglot asin tersebut.

Malam itu, mereka janjian untuk bertemu di warkop dekat rumah gue. Sherly memberitahu Kai kalau dia saat itu sedang bekerja di sebuah kantor yang letaknya cuma 1 menit jalan kaki dari rumah gue. Karena memang sudah lama nggak ngobrol, ya jelas itu berita yang cukup mengejutkan karena gue sendiri juga baru tahu kalau dalam jarak segitu, di dekat rumah gue, ada sebuah kantor dan biji klepon yang satu itu bekerja di sana. Tapi, kejutannya nggak berakhir di situ — at least buat Kai — rupanya Nana juga kerja di sana sebagai atasannya Sherly.

Siapa Nana? Gue kayaknya memang belum pernah menceritakan tentang jeroan kambing ini di blog. Maka nanti akan gue ceritakan di bawah judul postingan yang berbeda. Lengkap dari awal bagaimana kami bisa kenal sampai sekarang, mungkin (kalau gue nggak mager).

Kai punya ketertarikan berlebih sama kutu kribo bernama Nana ini. Jadi, berita yang dibawa Sherly cukup membuat Kai excited untuk kembali dipertemukan dengan Nana setelah setahun lebih nggak bertemu muka. Kai saat itu meminta Sherly untuk mengajak Nana nongkrong sebagai pesta perpisahan kecil-kecilannya. Kucing cabul ini tadinya mau memberitahu Nana secara langsung tentang rencana studi gue, tapi karena kikil kebo ini cukup sibuk dan susah untuk menemukan waktu nongkrong, akhirnya Kai meminta Sherly untuk memberitahu berita ke-minggat-an gue supaya dia mau menyisihkan waktu buat Kai.

Bener aja, begitu tahu gue mau pergi jauh dan ada rencana nggak balik lagi, Nana langsung mengosongkan jadwal dan ngajak nongkrong di hari Selasa minggu depannya. Agak gampangan juga ya, bocah yang satu itu. Nggak nyangka…

.

Di hari Selasa itu, setelah jam 7 malam, mereka bertiga akhirnya bercengkrama untuk (mungkin) terakhir kalinya — or so they thought. Untuk menghargai kebersamaan mereka, gue pun jarang mengambil alih badan supaya Kai bisa melepas rindu dengan Kakak Nyanya tersayangnya.

Di pertemuan ini, gue melihat ada sesuatu yang aneh dari Nana. Ada gelagatnya yang nggak kelihatan layaknya seorang kakak ke adik, atau teman ke teman, atau kenalan ke kenalan, atau majikan ke kucing. Gue sudah punya dugaan, tapi masih mau memperhatikan sebelum menarik kesimpulan. Untuk eksperimen ini pula, gue akhirnya memutuskan untuk keluar beberapa kali untuk melihat perbedaan dari gelagatnya — dan cukup berhasil membantu gue dalam mengukuhkan dugaan gue.

Dua hari setelah itu, tepatnya hari Kamis, Sherly pun menghubungi Kai via DM Twitter untuk memberitahu sebuah berita yang dianggap cukup besar. Saat itu gue cuma bisa cengengesan karena sudah tahu, tapi sengaja nggak bilang ke Kai supaya kejutannya lebih greget.

Ya, bisa ketebaklah: Nana naksir sama Kai. Yang nggak bisa gue jawab saat itu cuma “sudah berapa lama?”. Dan ini bakal gue ceritain, mungkin, di postingan khusus yang entah bakal gue tulis kapan.

.

Hari Kamis itu, gue juga kebetulan lagi nongkrong sama Beber tanpa rencana. Gue bilang ke Beber kalau bakal ada Sherly karena Kai sudah janjian sebelum gue ketemu Beber sore itu. Beber, karena sudah tahu tentang rencana studi gue dan mengerti seberapa pentingnya pertemuan di detik-detik tersebut, akhirnya mengikhlaskan dirinya berbagi waktu dengan Sherly.

Malam itu juga rencananya cuma bakal ada kami berempat dengan agenda menemani gue beli sepatu baru yang secara penampilan dan fungsi layak untuk dipakai. Tapi, karena memang pada dasarnya gue adalah manusia yang cukup usil, gue bilang ke mereka bertiga untuk mengajak Nana ikut — karena saat itu juga kebetulan gue dan Beber lagi makan malam di gerobak nasgor tepat di seberang kantor Sherly dan Nana. Setelah Sherly nimbrung, kami pun sengaja menunggu Nana di gerobak nasgor supaya bisa menyeretnya ikut semena-mena.

Dan, berhasil. Malam itu menjadi pertemuan kedua dalam satu minggu. Intinya pun sama: bercengkrama untuk (mungkin) terakhir kalinya. Hanya saja, yang Nana nggak tahu, gue sengaja manas-manasin Kai untuk menagih janji Sherly di DM, yaitu untuk memberitahu siapa temannya yang naksir sama Kai. Kenapa? Karena Kai had no idea that Nana likes him — more to denial, sih.

Ya, yang kenal sama Kai, pasti ngerti seberapa kepo dan pemaksanya Kai kalau udah penasaran. Dan itulah yang terjadi di sepanjang Kamis malam itu: Kai memaksa Sherly untuk menyebutkan nama pemuda misterius itu DI DEPAN NANA. Cara memaksanya juga agak anjing, sih, saat itu.. Kai memaksa Sherly untuk membuka mulut sambil merangkul lengan atasnya Nana di Starbucks Plaza Senayan. Sungguh memorable.

Saat itu, Sherly masih kekeuh untuk menjaga rahasia Nana karena doi meminta Nana untuk memberitahu Kai TAPI PAS LAGI NGGAK ADA DIA KARENA DOI MALU. Tapi, berkat rahmat usil gue yang luar biasa, terbuka lah rahasia Nana di depan dirinya sendiri dan di depan orang yang sudah dia taksir selama 3 tahun belakangan.

Kai? Siyok sejadi-jadinya karena dia juga sudah naksir sama Nana dari awal ketemu. Tapi masalahnya, saat itu Kai sudah menikah dengan suaminya saat itu, Gerry. Well, complicated ya? Nggak juga sih.

.

Singkat cerita, rencana pernikahan pun muncul dari sana. Ya, rencana pernikahan dengan tubuh Alterer ini. Karena rencana besar ini pula, gue mau nggak mau harus mengikuti keinginan Kai untuk balik ke Indonesia setelah visit gue ke Melbourne pada bulan November 2016. Padahal, gue sudah jatuh cinta sama Melbourne dan bener-bener nggak mau balik lagi. Maunya ngurus student visa dari Melbourne aja, jadi lebih gampang dan nggak buang-buang duit dan tenaga pula buat bolak-balik.

Sebelum Nana bertemu dengan orang tua kami untuk melamar Kai, mereka sudah menyiapkan beberapa rencana pernikahan selama kami di Melbourne. Gue meminta Kai untuk menggelar pernikahan sebelum gue ke Melbourne untuk mulai kuliah karena gue nggak mau perkuliahan gue terganggu dengan rencana beginian. Which means, jika mau mengikuti rencana gue, pernikahan mereka akan digelar 3 minggu setelah lamaran itu terjadi. Karena cukup mustahil untuk menggelar resepsi dalam waktu 3 minggu, akhirnya gue menawarkan Kai untuk menggelar akad lebih dulu, lalu resepsi menyusul ketika gue sudah libur kuliah di bulan Juni-Juli.

Saat melamar Kai, Nana mengaku telah menemukan kejanggalan karena nggak menerima kalimat afirmasi dari orang tua kami yang notabene sifatnya 11-12 sama sifat gue. Tanpa ada ucapan “kami setuju”, nyokap gue langsung mengajukan tanggal pernikahan ke mereka berdua seolah-olah pernikahan sama kayak acara liburan keluarga. Dengan entengnya mereka berdua menjejal Kai dan Nana dengan rentetan rencana alternatif untuk keberhasilan rencana hidup mereka.

Ya, maaf-maaf saja, keluarga alterer gue secara genetik memang sangat amat impulsif nggak kenal waktu dan kondisi. Makanya gue bisa fit in dengan baik.

Akhirnya, pernikahan pun digelar dan 6 hari kemudian, mereka terpisah jarak karena gue harus ELICOS di awal Januari 2017. Semua ini terjadi dalam kurun waktu kurang dari 3 bulan, mungkin. Gue yang di bulan September, mana tahu kalau bakal kuliah dan tinggal di Melbourne. Gue yang di bulan Oktober, mana tahu kalau di bulan Desember akan menikah secara fisik dengan seseorang yang di bulan itu statusnya masih ‘kenalan’. Tapi, gue di 3 tahun yang lalu sudah tahu kalau alterer kami (berikut dengan kami, para alter ego freeloader) akan menikah dengan seseorang bernama Achmad Maulana Sirojjudin ini — hanya tidak tahu kapan dan mengapa bisa.

.

Setiap gue mengingat kejadian itu, gue cuma bisa ketawa. Memang benar rupanya, hidup itu lucu. Ketika kita merencanakan sesuatu dengan matang, ada saja yang menggagalkannya. Tapi, ketika kita secara impulsif mengambil langkah sesuai insting, semua berjalan dengan begitu lancar tanpa kendala. Gue sudah terbiasa menjalani hidup impulsif bermodalkan insting, tapi masih bisa kaget setiap hal-hal tersebut berjalan dengan lancarnya seperti pencernaan yang sehat.

Perubahan drastis dalam waktu 3 bulan? Turns out, it’s possible. But I’m not going to tell people the same thing, or even follow our way. Everyone has their own ways.

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s